Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Reno mulai bucin


__ADS_3

Kini mereka semua duduk di sofa ruang tengah.


"Mas, aku buatkan minum dulu ya untuk Devan dan Handi," ujar Dinda dengan nada lembut. Dan di anggukin oleh Reno.


"Tidak usah repot-repot Din, tapi yang ada di keluarkan saja, aku lapar soalnya," ceteluk Devan seraya mengelus-elus perutnya dengan tangannya. Sungguh Devan sudah seperti anak TK yang sedang meminta makan.


Dinda tersenyum kecil, ia berlalu pergi menuju ke dapur dan membuka kulkas, lalu mengambil bermacam-macam minuman kaleng, cemilan dan Dinda juga membuat jus jeruk untuk mereka semua.


Setelah beberapa lama Dinda kembali membawa semua itu dan menaruhnya di atas meja.


"Silahkan di nikmati," kata Dinda dengan nada lembut.


Devan tercengang, ia menatap Dinda penuh kekaguman. "Beda sekali dengan gundik Vira itu," gumamnya yang di dengar oleh Reno, Dinda dan Handi.


Sorot mata Reno cukup sengit melihat Devan dari tadi terus menatap istrinya, rasanya ingin ku congkel kedua bola mata Devan sialan itu.


"Dev, jaga matamu!" lirikan Reno begitu tajam, Handi tertawa kecil seraya menyikut lengan Devan. "Berhenti menatapnya, onoh sih empunya udah mau keluar taringnya," lirih Handi dan Devan akhirnya tersadar.


"Ah lagian Reno, barang bagus sebening ini di anggurin, kalau aku sudah aku makan lahap-lahap," cetus Devan dengan jail.


"Diam kamu brengsek!!" Reno melempar satu bungkus cemilan ke Devan, bukannya marah Devan malah membuka cemilan itu, lalu memakannya. "Kebetulan aku sedang lapar," cibirnya sengaja membuat Reno semakin kesal.


Dinda hanya diam duduk di sebelah Reno.


"Ayo makan malam, aku sudah siapkan semuanya," ujar Reno pada semuanya, sebelum pulang Reno memang sudah menelpon koki khusus untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya, istrinya dan kedua temannya ini.


Kebetulan Ria juga sedang pergi berlibur jadi di rumah juga tidak ada orang.


Kini semuanya berada di meja makan.

__ADS_1


"Din, ambilkan mas nasi dan lauknya," pinta Reno, membuat Devan dan Handi saling menatap satu sama lain. "Sudah mulai bucin mereka," lirih Devan dan di dengar oleh Handi yang duduk di sebelahnya.


"Haha, iya dulu saja mati-matian menolak, lihat saja sebentar lagi dia pasti jatuh cinta," sambung Handi dengan suara pelan.


"Makan kalian! Terus cepat pulang, ini malah ngobrol terus," ketus Reno karena merasa kesal pada kedua temannya itu.


"Reno, yakin kamu menyuruh kami pulang? Kamu tidak mau tahu cerita selanjutnya tentang yang itu?" kata Devan sambil melahap makanannya dengan lahap.


Reno mengendus pelan, iya juga ya kenapa bisa lupa akan hal itu, untung saja Devan mengingatkan aku.


"Setelah selesai makan kita bicara di ruangan kerjaku," ujar Reno pada kedua temannya itu.


Dinda di sini tidak banyak bicara, ia hanya menikmati makanannya dengan lahap, lagian Dinda juga tidak tahu apa yang mau di bahas oleh ketiga laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.


Kini setelah selesai makan, Dinda membereskan semuanya dan mencuci piring-piring kotor, karena Art juga sudah pada pulang jadi ya mau tidak mau harus di kerjakan sendiri, untung saja dirinya ini bukan gadis yang manja, jadi pekerjaan mencuci piring ya gampang sekali.


Setelah selesai mencuci piring, Dinda berpamitan pada Reno untuk istirahat di kamar.


Kini mereka duduk di sofa, kini mereka saling diam. Hingga Reno mengeluarkan suara karena ingin segera tahu tentang malam itu.


"Bagaimana?" tanya Reno, Devan dan Handi paham yang di maksud oleh Reno.


"Kita sudah menyelidiki semuanya, yang memberikan obat perangsang ke dalam minuman itu Vira," jelas Devan dengan yakin.


"Vira??" Reno kaget. "Untuk apa dia melakukan itu, ada rekaman CCTV nya tidak?" lanjut Reno.


Devan mengeluarkan sebuah flashdisk, lalu membuka laptop milik Reno yang ada di atas meja dan memasang flashdisk itu.


"Lihat ini!!" sebuah rekaman kejadian malam itu di tunjukkan pada Reno, di situ ada seorang perempuan yang memakai topi dan masker untuk menutupi sebagian wajahnya.

__ADS_1


"Kamu yakin itu Vira?" Reno masih mengamati gadis yang ada di rekaman itu saat menuang obat meminum berwarna merah, yang di berikan pada Leo.


"Reno, lihat! Ini gelang Vira yang diberikan oleh kamu, dan kamu tahu kan gelang ini di pesan khusus untuknya," jelas Devan sambil menunjukkan sebuah gelang yang di pakai oleh perempuan yang ada di rekaman itu.


Reno mengamati gelang itu dengan teliti, dan jelas itu benar milik Vira.


"Ini benar Vira," pungkas Reno seraya menggelengkan kepalanya.


"Memang itu Vira," kata Devan dengan mantap.


Handi hanya diam, ia mendengarkan baik-baik obrolan kedua temannya ini. Selagi tidak saling berdebat, Handi tenang saja.


"Tapi kenapa dia melakukan hal menjijikkan seperti ini? Apa dia masih kurang, dia sudah membuat mamaku hancur, lalu sekarang dia mengincar istriku, apa yang membuat Vira bagaikan monster jahat seperti sekarang?" cecar Reno, ia tidak habis pikir dan cukup geram dengan apa yang di lakukan oleh Vira.


"Kamu terlalu buta karena cinta, Vira memang jahat dari dulu," kata Devan dan di anggukin oleh Handi.


"Kenapa kalian bicara seperti itu?" tanya Reno heran.


"Reno, Vira itu ingin balas dendam pada keluargamu, terutama pada mamamu itu!" geram sekali Devan, kenapa Reno bodoh sekali selama ini.


"Dan kamu dan papamu itu hanya di jadikan alat untuk balas dendam saja," sambung Handi.


Handi dan Devan sering bersama-sama, jadi mereka sebenarnya sudah lama menyelidiki Vira tanpa sepengetahuan Reno, lagian dulu Reno sedang bucin dengan Vira. Mereka tahu, pasti Reno tidak akan mendengarkan mereka jadi mereka hanya mengumpulkan bukti dan akan mengungkapkan di saat yang tepat, mungkin sekarang saat yang tepat, agar Reno sadar dan tidak kembali lagi pada Vira.


"Balas dendam, akan hal apa?" Reno malah terlihat bingung, ia merasa keluarga tak punya masalah dengan Vira.


"Dulu Tante Ria,"


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2