
Pagi yang cerah akhirnya datang, Reno sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya, begitu juga dengan Dinda, ia terlihat cantik dengan dress warna putih dan rambut yang di cepol agak berantakan, riasan wajah yang natural dan lipstik yang natural itu membuat kecantikannya begitu terpancar.
"Gadis udik, nanti malam kamu ikut denganku ya!" tegur Reno tiba-tiba.
"Haah, ikut kemana?" Sahut Dinda kaget,Dinda menoleh kaget, ia menatap Reno dengan tatapan sulit di artikan, tidak biasanya Reno ini mengajak dirinya pergi kemana-mana.
"Ada acara kantor, katanya harus membawa pasangan, kamu kan tahu kan Vira ku sayang sedang berada di luar kota. Jadi kamu harus mengantikan Vira, ingat hanya menggantikan posisi Vira saja! Jadi jangan berharap lebih," ujar Reno dengan ketus.
Dinda menggelengkan kepalanya sembari membulatkan kedua bola matanya dengan sinis.
"Baiklah tuan," jawabnya singkat.
"Oh iya, nanti jangan pulang terlambat! Acaranya jam 7 malam," lanjut Reno tegas.
Dinda hanya mengangguk, lalu ia pun bergegas pergi meninggalkan Reno, tapi Reno mengejar Dinda. Tumben sekali.
"Gadis udik, aku antar kamu saja!" ujarnya, tiba-tiba Reno menarik tangan Dinda, membuat Dinda menghentikan langkah kakinya.
"Aku bisa berangkat sendiri tuan," dengan kasar Dinda melepaskan tangan Reno yang saat ini menggenggam tangannya dengan erat.
"Aku bilang aku yang mengantarkanmu dan aku tidak suka di tolak," pungkas Reno tegas.
Dinda cukup tercengang kagum, dedemit mana yang sudah merasuki tubuhnya? Batinnya dalam hati.
"Tunggu jangan berpikiran macam-macam! Aku hari mengatarkanmu, karena jika aku pulang cepat aku juga akan langsung menjemputmu!" lanjut Reno ketus.
Dinda hanya mengangguk pelan, akhirnya hari ini Dinda kerja di antarkan oleh Reno.
***
Sesampainya di cafe tempat Dinda kerja, Dinda buru-buru turun dari dalam mobil Reno.
"Terimakasih tuan," ujarnya dengan lembut.
"Masuklah!" titah Reno ketus.
Dinda melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe dan di ambang pintu sana tangan Leo sudah melambai-lambai menyambut kedatangan Dinda, senyum manis Leo juga tampak sangat bahagia sekali.
"Din, kamu di antar oleh siapa?" tanya Leo yang penasaran.
"Bukan siapa-siapa Le, oh iya aku ganti baju dulu ya, aku mau mulai kerja," pamit Dinda dan Dinda berlalu masuk ke dalam cafe.
Leo mengekor di belakang Dinda, sungguh Leo ini sudah seperti kucing yang di kasih ikan.
"Apa kamu akan terus mengekoriku? Aku mau ganti baju loh," kata Dinda yang diiringi tawa kecil.
Leo baru sadar ternyata dirinya mengikuti Dinda hingga sampai di ruang ganti, sungguh malu sekali rasanya. "Aduh Le, ini muka mau taruh dimana nanti? Tidak mungkinkan kalau aku sakui," batin Leo dalam hatinya.
Buru-buru Leo bergegas pergi meninggalkan ruangan itu, lalu ia langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Dinda mulai di sibukkan dengan pekerjaannya, para pelanggan juga sudah mulai berdatangan untuk ngopi sambil nongkrong.
***
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Reno duduk di kursi kebanggaan ya yang tidak lain adalah kursi kerjanya.
"Apakah tadi yang melambaikan tangan di ambang pintu itu, bos nya gadis udik itu?"
"Untuk apa dia melambaikan tangannya sebegitu mesranya?"
"Katanya sih bos nya tapi sikap dan pandangannya seolah-olah dia itu suka dengan gadis udik itu, lihat saja! Pandangannya itu tidak lepas dari gadis udik itu."
Reno berbisik pada batinnya sendiri, sekilas ia mengingat senyuman laki-laki yang tadi di ambang pintu saat menyambut kedatangan Dinda.
"Dasar gadis sok polos," cebiknya dengan kasar, ia pun mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
"Kamu kenapa Ren?" tanya Devan, ia masuk ke dalam ruangan kerjanya Reno tanpa mengetuk pintu, tidak kaget sih karena Devan sudah biasa seperti itu.
Devan menarik kursi yang terhalang meja kerja Reno, lalu ia mendaratkan pantatnya di kursi itu.
"Aku lihat kamu cukup kesal, apa ada masalah dengan Vira?" tanya Devan malas.
"Vira ku tidak membuat masalah, tapi ini gadis sok polos itu," ujarnya sengit.
"Gadis sok polos siapa? Apa kamu punya wanita lain lagi? Setelah Vira dan istri cantikmu itu," tanya Devan penasaran.
"Mana ada gadis lain lagi, Van? Kamu tahu kan di hatiku hanya ada Vira, gadis sok polos iya itu istriku, eh maksudnya istri yang tak di inginkan," jelas Reno dengan tegas.
Devan menggelengkan kepalanya malas, dasar manusia bodoh, sekarang kamu banggakan saja Vira mu playan,zitu, suatu saat kamu pasti akan menyesal sampai ubun-ubun. Lihat saja nanti Reno!
"Gadis sok polosmu, berikan saja padaku! Jika kamu tidak mau, aku lihat dia gadis yang baik dan tentunya cantik, aku kalau punya istri seperti Dinda, aku kelonin terus Ren tanpa lelah," kata Devan dan langsung mendapatkan sorot tajam dari kedua mata Reno.
"Siapa juga yang mau memberikannya padamu? Apa kamu aku jadiin cacing?" ancamnya yang merasa kesal pada Devan.
"Tidak akan, sana keluar dari ruanganku! Atau salah satu sepatu akan melayang ke kepalamu," ancam Reno yang wajah tampannya sudah mulai merah karena marah.
Sebelum bencana yang tidak di inginkan oleh Devan benar-benar terjadi, Devan buru-buru bergegas keluar dari dalam ruangan kerjanya Reno. "Dasar manusia bodoh, katanya tidak menginginkan gadis itu, lalu apa salahnya jika di hibahkan padaku?" batin Devan dalam hatinya.
Kini Reno mulai sibuk dengan pekerjaannya, namun hari ini kerjanya tidak konsen, bahkan ia ingin cepat-cepat pulang dan pergi ke acara kantor bersama dengan Dinda.
Setelah beberapa lama akhirnya jarum jam menunjukkan pukul 5 sore, Reno buru-buru bergegas merapikan meja kerjanya dan ia langsung pergi ke cafe untuk menjemput Dinda di kerjaannya.
Sesampainya di cafe tempat kerja Dinda, Reno melihat Dinda masih sibuk mengelap meja demi meja.
Hatinya sedikit ibah melihat Dinda tampak kelelahan, namun buru-buru di tepis olehnya. "Buat apa juga aku kasian sama gadis udik itu?" ujarnya dalam hati.
Reno turun dari mobil mewahnya, lalu ia berjalan menuju ke cafe.
"Selamat sore tuan, ada yang bisa saya bantu?" salah satu pelayan menyambut kedatangan Reno dengan ramah.
"Saya mau bertemu dengan pelayan yang bernama Dinda," sahut Reno dengan sopan.
"Sebentar tuan, saya panggilkan Dinda nya," ujar sang pelayan, lalu berlalu pergi untuk memanggil Dinda yang sedang mengelap meja.
Reno juga memesan satu cangkir kopi untuk ia nikmati di sore hari.
Saat teman kerjanya menyampaikan pesan Reno pada Dinda, Dinda bergegas pergi menemui Reno.
__ADS_1
Kini Reno sudah duduk di salah satu meja sambil menikmati kopi yang ia pesan tadi.
"Tuan Reno, ada apa?" sapa Dinda dan ia duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi Reno.
"Apa aku menyuruhmu duduk?" tatapan Reno begitu sinis, buru-buru Dinda beranjak dari tempat duduknya dan langsung kembali berdiri. "Maaf tuan," ujar dengan nada lembut.
"Gantilah pakaianmu! Ayo kita pulang, aku juga harus membuatmu cantik, masa aku harus membawa bebek jelek ke sebuah pesta mewah, kan tidak lucu, pasti para rekan bisnisku akan menertawaiku habis-habisan," ujar Reno tanpa memikirkan perasaan Dinda sedikitpun, Dinda hanya bisa mengucapkan kata sabar dalam hatinya.
"Kenapa diam saja?!" tanya Reno dengan nada menekan. "Sana ganti pakaianmu!" titahnya dengan kasar.
"Tapi aku belum meminta izin pada bos aku," tutur Dinda pelan.
"Mintalah sana! Tunggu apalagi?" lagi-lagi Reno berkata dengan nada menekan.
Dinda mengangguk, ia langsung berlalu pergi ke ruangan kerja Leo untuk meminta izin pada Leo.
Setelah Leo memberikan izin, Dinda langsung berganti pakaian dan kembali ke meja Reno yang sudah menunggu dirinya.
Tanpa menunggu lama Reno langsung mengajak Dinda pergi dari cafe tempat kerjanya itu. Tidak lupa juga Leo meninggalkan 2 lembar uang warna biru di atas meja untuk membayar kopi pesanannya.
"Siapa laki-laki yang bersama Dinda?" bisik hati Leo, saat melihat Dinda tangannya di tarik oleh laki-laki yang bersamanya.
Setelah Dinda masuk ke dalam mobil, Reno juga sudah masuk ke dalam mobil, Reno langsung melajukan mobilnya menuju ke salon terlebih dahulu, karena ingin membuat bebek kampung ini menjadi gadis yang cantik, masa iya mau di bawa ke acara kantor penting penampilannya biasa saja, nanti apa kata para rekan bisnisku? Bisa-bisa mereka semua mengira kalau Dinda itu ini hanya pembantu rumahku saja.
Sesampainya di salon, Reno dan Dinda langsung di sambut dengan hangat oleh pelayan salon, Reno juga langsung menjelaskan tujuannya dan keinginannya supaya Dinda menjadi cantik jelita.
Dinda langsung di ajak masuk oleh pelayan salon sedangkan Reno menunggu Dinda di sebuah ruangan sambil membaca majalah dan di temenin dengan teh hangat yang di sediakan oleh salon.
Hingga beberapa lama akhirnya Dinda keluar dari sebuah ruangan dengan gaun yang begitu anggun berwarna hitam dan panjangnya selutut, rambutnya tergerai dengan model ikal, ada hiasan jepitan cantik yang menghiasi rambutnya, riasan yang natural dan lipstik yang berwarna agak menyala, itu membuat malam ini Dinda begitu cantik.
Reno membelalakkan kedua matanya, ia yang sedang membaca majalah menaruh majalahnya di atas meja, kini kedua matanya hanya fokus menatap Dinda yang tampak cantik nan anggun.
Reno masih belum percaya, kalau ini ada bebek jelek yang berubah menjadi angsa cantik, bebek jelek adalah panggilan baru untuk Reno untuk Dinda.
"Cantik sekali, sungguh bebek jelek ini menjelma menjadi angsa yang begitu cantik," pujinya lirih dan tak berani mengatakan langsung pada Dinda.
"Bagaimana tuan, apa ada yang kurang?" tanya salah satu pelayan.
"Sudah cukup, setidaknya malam ini bebek jelek ini tidak membuatku malu di hadapan para rekan bisnisku nanti," jawab Reno dengan tegas.
Reno menyelesaikan pembayaran untuk semuanya, setelah selesai Reno langsung mengajak Dinda ke tempat acara karena jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam dan untuk sampai di tempat tujuan kira-kira butuh waktu 20 menit dari salon tempat mereka berada.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya Dinda dan Reno sampai di tempat acara.
Reno turun dari mobil lebih dulu, lalu ia membukakan pintu mobilnya untuk Dinda, dengan penuh senyum hangat tidak seketus biasanya Reno mengulurkan tangannya untuk Dinda dan Dinda menerima uluran tangan itu biarpun dengan terpaksa, tapi ya mau bagaimana lagi? Ini adalah tugasnya dari Reno. Sebut saja ini semua adalah sandiwara Reno.
"Waahh cantik sekali, lihat apa Reno sudah putus dengan Vira dan dia datang dengan wanita lain," ujar salah tamu yang kenal dengan Reno dan Vira.
"Tapi yang ini jauh lebih cantik dari Vira," timpal yang lainnya.
"Kita harus tanyakan pada Reno!" sahut yang lainnya lagi.
Reno berjalan sambil mengandeng mesra Dinda, banyak mata yang tertuju pada Dinda dan Reno. Apalagi malam ini mereka tampak serasi sekali.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia