
Pagi telah datang, Reno dan Dinda tampak sibuk dengan dirinya masing-masing, Reno sedang memakai kemejanya sedangkan Dinda sibuk meka-up.
Mereka tampak saling mengabaikan satu sama lain.
"Tuan," dengan hati-hati Dinda mulai buka suara.
"Apa?" sahut Reno ketus.
"Mulai sekarang aku mau berangkat kerja sendiri dan pulang juga sendiri, jadi tidak usah antar jemput aku lagi," ujar Dinda dengan hati-hati, ia takut makhluk tampan yang ada di hadapannya ini naik pitam.
Sorot mata Reno langsung berubah garang, ia menatap Dinda cukup dalam.
"Kenapa? Apa karena laki-laki brengsek itu? Apa karena kamu ingin bisa dekat dengan dia?" tuduhnya dengan lantang, membuat Dinda menarik nafasnya pelan.
"Iya karena dia, lagian apa salahnya jika aku bersama dengan laki-laki lain? Pernikahan kita ini hanya sebuah sandiwara, anggap saja kita ini orang lain bukan suami-istri," dengan nada tinggi Dinda juga tidak mau kalah. Lagian Reno itu siapa? Kalaupun dia adalah suaminya, dia sendiri yang menyuruhnya untuk tidak mengharapkan cinta dari dirinya. Kalaupun aku jatuh cinta pada laki-laki lain, apa salahnya? To sah-sah saja.
"Hey ingat, kamu itu istriku, kamu menikah denganku untuk membayar hutang orang tuamu, jika kamu tidak patuh padaku, maka orang tuamu yang akan aku tindas," ancamnya dengan tegas.
Ingin sekali melayangkan tonjokan padanya, namun Dinda memilih diam dan berlaku pergi keluar kamar.
Dinda langsung menuju meja makan dan di sana sudah ada mama mertuanya yang sedang menunggu untuk sarapan bersama.
__ADS_1
"Loh kok sendirian nak, mana Reno?" tanya Ria dengan nada lembut.
"Tu, eh maksudnya Mas Reno tadi sedang menyisir rambutnya ma, jadi Dinda duluan," jawabnya dengan gugup.
Ria menatap menantu kesayangannya itu, ia tahu dari sorot mata Dinda, kalau Dinda sedang kesal. Mungkin Reno yang membuatnya kesal, dasar anak nakal.
"Kok kamu kelihatan kesal nak, apa suamimu membuat masalah?" tanya Ria, karena merasa kawatir.
"Tidak ma, Mas Reno,"
"Mama, yang membuat masalah itu Dinda. Mama tahu, dia dekat-dekat dengan laki-laki lain selain Reno," aduh Reno manja. Membuat Ria tertawa kecil. "Aku rasa Reno sedang cemburu," batinnya dalam hati.
"Tidak usah dengarkan Mas Reno, ma. Lagian laki-laki lain itu bos Dinda di tempat kerja ma," kilah Dinda, sorot matanya begitu marah pada Reno.
Pagi-pagi Ria sudah di buat pusing oleh mantu dan anaknya, tapi Ria malah tersenyum bahagia, berharap benih-benih cinta mulai tumbuh di hati keduanya.
"Sudah-sudah, kalian sarapan dulu, biar ada tenaga untuk melanjutkan perdebatan kalian," canda Ria yang diiringi tawa bahagia.
Reno dan Dinda saling menatap satu sama lain, tapi buru-buru keduanya sama-sama membuang muka.
Saat ini mereka lucu sekali, mereka saling mengadu, bahkan di antara mereka tidak ada yang mau mengalah. Dasar Tom & Jerry.
__ADS_1
Kini keduanya mengakhiri perdebatannya, lalu fokus dengan sarapan pagi ini.
"Oh iya ma, apa mama yakin untuk bercerai dengan papa?" tanya Reno, kali ini tatapannya begitu serius pada mamanya.
"Reno mama yakin, jika pernikahan ini di pertahankan, mama juga takut yang ada mama mengalami tekanan batin," jawab Ria dengan yakin.
Melihat suaminya berjumbu dengan wanita lain dan wanita itu adalah mantan kekasih anaknya, sungguh ini masih sulit di percaya sampai detik ini.
"Mama, aku tahu ini semua berat sekali untuk mama, tapi Reno janji, Reno akan selalu ada buat mama, Reno akan menjaga mama seumur hidup Reno," dengan mata yang sudah berkaca-kaca Reno mengatakan hal itu. Sebenarnya Reno tidak ingin kedua orang tuanya berpisah, namun Reno juga tidak bisa mengatakan apa-apa, Reno juga paham di posisi mamanya saat ini sedang terluka, bahkan luka yang di berikan oleh sang papa begitu dalam.
"Terimakasih nak, ingat kamu jangan sampai menyakiti hati istrimu. Kamu tahu seorang istri itu wanita yang harus kamu hargai, seperti kamu menghargai mama yang sudah melahirkanmu nak, kelak seorang istri akan menjadi ibu dari anak-anakmu, sayangi dia nak!" nasehat Ria, membuat hati Reno tersayat pedih, apalagi selama pernikahannya Reno tidak pernah mencintai Dinda, ia juga masih berhubungan dengan kekasihnya. Sungguh aku ini bodoh sekali, dalam hati Reno hanya bisa mengutukti dirinya sendiri. ,
Dinda hanya terdiam, dia juga ingin di cintai, namun Dinda tidak begitu berharap untuk hal itu, ia sadar akan posisinya saat ini.
"Jangan bosan-bosan mendengarkan nasehat mama, karena berumah tangga tidaklah mudah, berumah tangga itu sekolah yang paling lama, jadi kalian harus mengarungi rumah tangga kalian dengan baik, kalian sebagai suami-istri harus saling jujur dan jangan pernah ada kebohongan di antara kalian," dengan nada lembut Ria kembali memberikan nasehat pada anak dan menantunya.
Dinda dan Reno sama-sama mengangguk.
Setelah selesai sarapan, Dinda dan Reno pamitan pada Ria untuk berangkat kerja.
Pagi ini yang niatnya ingin berangkat sendiri karena enggan di ganggu oleh Reno, ternyata tidak sesuai harapan karena Reno memaksa untuk berangkat bersama dan jika tidak mau Reno lagi-lagi memberikan ancaman pada Dinda, hingga akhirnya Dinda menyerah dan mau di antar ke tempat kerja.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia