Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Panti asuhan


__ADS_3

sesampainya di panti asuhan yang Dinda maksud, Reno dan Dinda langsung bertemu dengan pengurus panti itu.


Seorang ibu-ibu yang sudah tidak muda lagi, mungkin usianya sekitar 45 tahun. Dengan sopan Reno dan Dinda meyalami tangannya ibu panti pengurus panti secara bergantian.


"Silahkan duduk," dengan sambutan hangat Ibu pengurus panti mempersilahkan Dinda dan Reno untuk duduk, sedangkan Devan menunggu di mobil bersama satu temannya yang dia ajak tadi.


"Maaf bu, sebelumnya perkenalkan saya Reno Bagaskoro dan ini istri saya Dinda, kita datang ke panti bermaksud untuk berbagi sambil menghibur anak-anak panti di sini," kata Reno dengan sopan.


"Terimakasih, nama saya Ibu Lina, dengan senang hati saya menerima kedatangan bapak dan ibu. Sungguh suatu kebahagiaan ada yang datang ke panti kami, pasti anak-anak juga akan bahagia pak, bu," jawab Ibu Lina dengan senyum penuh ketulusan.


Setelah mengobrol, Reno dan Dinda kembali keluar menuju ke mobil sedangkan Ibu Lina pergi masuk ke dalam untuk memanggil semua anak pantinya. "Pasti anak-anak akan senang," batinnya dalam hati.


"Anak-anak, ayo pada keluar! Di luar sana ada orang baik yang mau berbagi dengan kalian semua," ujar Lina pada semua anak-anak pantinya.


Dengan patuh dan sopan, dan anak-anak itu terlihat begitu bahagia, semuanya mengikuti Lina keluar dari dalam panti. Beberapa pengurus yang lainnya juga ikut keluar.


"Reno, sudah aku turunkan semuanya," kata Devan, ia tampak kelelahan, temannya yang ikut membantu juga cukup terlihat lelah.


"Terimakasih Dev, oh iya Handi kok bisa ikut bersamamu?" Reno menatap Handi.


"Dia juga ikut menyelidiki kasus istrimu," sahut Devan santai.


Reno cukup tertarik dengan sahutan Reno, mungkin jika sedang tidak sibuk pasti dia akan menanyakan tentang penyelidikannya lebih lanjut, namun Reno mengurungkan niatnya karena menurutnya ini bukan saat yang tepat untuk membahas masalah itu. Ada waktunya nanti setelah acara berbagi ini selesai.


"Oh begitu, Han, terimakasih ya," kata Reno dengan senang hati.


"Iya sama-sama Ren, ayo kita lanjutkan acaranya, itu anak-anak sudah pada keluar," titah Handi dan di anggukin oleh Reno.


Handi adalah temannya Devan, Reno juga mengenalnya. Hanya saja Handi lebih akrab dengan Devan karena mereka sering bareng.


"Hallo kakak-kakak tampan dan kakak cantik," sapa semua anak-anak panti dengan riang.


"Hallo anak-anak, kenalkan namaku Dinda," dengan bahagia Dinda membalas sapaan anak-anak itu semua.


Reno, Devan dan Handi juga melakukan hal yang sama.


"Ayo kita duduk," titah Dinda dan dengan patuh anak-anak itu duduk semua.

__ADS_1


Dinda tersenyum kecil, melihat anak-anak di panti ini begitu bahagia menyambut kedatangan Dinda dan yang lainnya.


Kini Dinda, Reno, Devan dan Handi mulai membagikan snack, peralatan sekolah dan lain-lainnya pada semua anak-anak yang ada di panti. Dengan senang hati mereka menerima semua itu dengan senyuman penuh kebahagiaan.


"Terimakasih kakak-kakak semuanya," kata anak-anak panti dengan begitu kompak.


"Sama-sama anak-anak, ayo kita bermain," jawab Dinda mewakili yang lainnya, dengan antusias, rasanya bahagia sekali bisa berbagi dengan mereka.


Kini mereka bermain tanya jawab dan yang bisa menjawab pertanyaan dari Reno, Dinda, Devan dan Handi nanti boleh minta apa saja pada mereka.


"Coba jawab pertanyaan kakak, siapa yang paling tampan dari Kak Reno, Kak Devan dan Kak Handi," pertanyaan Reno yang diiringi cengiran jail.


"Aku,"


"Aku kak,"


"Aku mau jawab kakak!!"


Anak-anak berlomba-lomba ingin menjawab pertanyaan dari Reno.


"Anak cantik, kesini sayang!" panggil Reno dengan nada begitu lembut.


Dengan penuh kasih sayang, Reno menaruh gadis kecil di pangkuannya itu.


"Nama kamu siapa, anak cantik?" tanya Reno dengan senyum tipis tapi cukup manis.


"Namaku Arina, kak," jawabnya dengan suara begitu imut, kedua pipinya berwarna merah tomat karena malu-malu.


"Baiklah Arin, ayo katakan jawaban kamu apa? Harus jujur ya," titah Reno dan di anggukin oleh Arina dengan mantap.


"Arin jawab, Kak Reno yang paling tampan," jawab Arina dengan penuh kepolosan dan sangat menggemaskan. Pipinya yang cabby ingin sekali Reno mencubitnya tapi takut gadis kecil yang ada di pangkuannya ini menangis, jadi tak Reno lakukan hal itu.


"Benar, kamu pintar anak cantik," kata Reno sambil senyam-senyum sumpringah.


"Pertanyaan macam apa ini?" cetus Devan, geleng-geleng kepala.


"Hanya Reno yang bisa membuat pertanyaan konyol ini," timpal Handi bersungut-sungut.

__ADS_1


Dinda hanya tersenyum, memang suaminya ini konyol tapi biarlah kan hitung-hitung hiburan di tengah-tengah acara berbagi ini.


"Kalian sirik," cebik Reno dengan jail.


"Lalu, katakan apa Kak Dinda cantik?" tanya Reno, semakin menjadi-jadi.


"Cantik, tapi tetap saja cantikan Arina," jawab Arina dan semua yang ada di situ tertawa lepas.


"Baiklah, kamu memang lebih cantik dari kakak," dengan penuh senyum Dinda setuju dengan apa yang di katakan oleh Arina.


"Katakan, Arin mau hadiah apa?" tanya Reno pada Arina, tatapan matanya penuh dengan arti. "Kapan aku punya anak selucu ini?" batin Reno dalam hatinya.


"Arin mau hadiah sepeda saja kak, tapi yang pink," tutur Arina dengan antusias. Dan Reno mengangguk, mereka saling mengaitkan jari kelingking mereka dan Reno mengatakan akan mengirim hadiahnya langsung ke panti.


Yang lainnya bertepuk tangan dengan riang.


Kini tanya jawab masih berlanjut, hingga tak terasa waktu sudah semakin sore, Reno dan yang lainnya juga harus pulang.


Akhirnya Reno dan yang lainnya berpamitan pada semuanya.


Sebelum pulang Reno juga ketemu dengan pengurus panti dan memberikan sumbangan sebesar 100 juta untuk panti asuhan itu. Selain itu, Reno juga akan mengirim sepeda untuk semua anak panti agar mereka bisa bermain sepeda bersama-sama, untuk jumlahnya juga sudah di katakan oleh ibu panti dan Reno siap mengirimkan semuanya nanti.


Kini setelah berpamitan pada semuanya, Reno dan yang lainnya langsung menuju ke rumah Reno untuk makan malam bersama dan membahas masalah penyelidikan.


Hari ini begitu membahagiakan, Dinda juga sangat bersyukur akhirnya dia bisa memanfaatkan uang yang diberikan oleh suaminya dengan baik, ia bisa berbagi dan melihat semua anak-anak tadi bahagia, rasanya hatinya juga sangat bahagia.


Kini Dinda dan Reno saling terdiam di dalam mobil, Reno sekilas melirik Dinda yang sedang fokus melihat jalanan yang tidak terlalu macet hari ini.


"Bagaimana, apa uangnya sudah habis?" tanya Reno tiba-tiba, dan Dinda menggelengkan kepalanya.


"Masih ada, uang sebanyak itu banyak sekali buat aku," jawab Dinda dengan senyum manis.


Reno hanya tersenyum kecil, setelah bertemu dengan wanita matre selama ini, kini di gantikan dengan wanita yang begitu baik dan tidak royal, apalagi matre.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya mereka sampai di rumah Reno.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2