Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Seperti cacing kepanasan


__ADS_3

"Ehem-ehem," suara deheman membuat Dinda dan Leo sama-sama menatap kedua laki-laki tampan yang ada di hadapan mereka saat ini.


Dinda agak risih saat melihat Reno, apalagi ada Leo juga.


"Tuan Reno, ada apa?" tanya Dinda gugup. Tidak biasanya manusia bodoh ini datang ke tempat kerjanya.


Reno langsung berdiri di tengah-tengah Dinda dan Leo, Leo mengeryitkan dahinya karena merasa heran.


"Di sebelah sana luas, kenapa harus berdiri di tengah-tengah kita? Apa anda ingin menghalangi rasa cintaku pada Dinda," sindir Leo dengan sinis, Leo tidak suka saat Reno berdiri di tengah-tengah dirinya dan Dinda, sungguh ini membuat dirinya terhalang untuk melihat wajah cantik Dinda.


"Sudahlah lupakan cintamu itu," ujar Reno dengan sinis.


"Maaf Tuan Reno, aku harus melanjutkan pekerjaanku dulu," pamit Dinda dan ia terang-terangan menarik lengan tangan Leo dengan lembut.


"Ayo bos, kita pergi!" ajaknya, Leo nyengir kuda seraya menjulurkan lidahnya pada Reno. "Wlekkk!!" ledeknya dengan senyuman penuh kemenangan.


Setelah Dinda dan Leo sudah berlalu, Reno terlihat kesal.


"Dasar brengsek, dia itu sebenarnya bosnya atau siapa sih? Sering sekali dia mengantar istriku saat pulang kerja, di cafe juga mereka tampak akrab, bahkan kamu lihat itu Dev, Dinda mengandeng tangan laki-laki itu, hey sebagai suami sungguh aku ini tidak ada harga dirinya sama sekali," cecar Reno, kedua manik matanya terlihat begitu penuh amarah, hatinya juga bergumuruh hebat seakan tidak rela.


Devan sambil melipat kedua tangannya ke dada, ia hanya tersenyum sinis.


"Reno, apa saat ini kamu sudah mengakui gadis itu menjadi istrimu?" sindir Devan dengan sengaja.


"Tentu saja belum!" pungkas Reno ketus.


"Iya kalau belum, untuk apa juga kamu marah-marah? Dinda saja baik-baik saja saat melihat kamu dengan Vira, lah kamu sekarang malah seperti cacing kepanasan," lanjut Devan dengan entengnya.


"Apa kamu butuh air dingin? Biar aku ambilkan," tawar Devan dan langsung di tatap garang oleh Reno.


"Tidak, ayo kita kembali ke kantor sekarang!" ajak Reno, ia berlalu dengan kasar.


Devan menggelengkan kepalanya pelan, tidak lupa sebelum ia dan Reno pergi meninggalkan cafe, Devan lebih dulu membayar pesanan mereka yang belum sempat di makan.


"Dasar Reno tidak jelas, tadi minta datang ke sini begitu semangat."


"Sekarang malah seperti cacing kepanasan, jika ia mulai ada rasa cemburu, kenapa ia tidak mengatakannya saja?"


Kini mereka berdua langsung kembali ke kantor, Devan yang menyetir mobilnya dan Reno hanya diam saja tak bergeming.


****

__ADS_1


"Bahkan hari ini Reno juga kembali menolakku, dia itu kenapa?" lirih Vira, ada rasa sedih di dalam hatinya.


Dalam hati Vira, Vira untuk apa juga sedih memikirkan Reno? Ingat kamu berpacaran dengan Reno, kamu juga menjalin hubungan dengan papanya Reno itu semua untuk balas dendam, kamu tidak boleh sedih, kamu harus ingat tujuanmu yaitu balas dendam. Karena Ria, mama kamu jadi sakit-sakitan dan ia meninggal.


Saat mengingat rencananya untuk balas dendam, Vira menghela nafas berat.


"Mama, aku akan membuat Nenek lampir itu sakit hati seperti mama, aku akan membuatnya menderita dalam hidupnya!" pungkasnya dengan yakin.


Vira bergegas pergi, entah dia mau kemana dengan pakaian yang begitu seski dan kurang bahan itu.


****


Jam menunjukkan pukul 7 malam, Dinda sudah pulang dari tempat kerjanya, seperti malam-malam biasanya Dinda pulang di antar oleh Leo.


Reno yang juga sama-sama baru pulang dari kantor, jelas ia melihat Dinda dan Leo asik bercanda, saat mereka turun dari mobil.


Kini di meja makan, mereka sedang makan malam bersama.


"Din, kamu pulang di antar oleh manusia brengsek itu lagi," ujar Reno terlihat tidak suka.


"Namanya Leo, dia baik kok tidak brengsek," sahut Dinda dengan nada lembut.


"Jangan pernah memuji laki-laki lain di hadapanku, ingat itu!" sorot mata Reno penuh ancaman.


"Ahh bela saja terus!"


Reno yang entah kenapa, ia beranjak dari tempat duduknya dengan kasar padahal makannya belum selesai.


"Dasar aneh."


"Sepertinya otaknya sudah agak-agak miring itu manusia bodoh."


Dinda yang enggan memikirkan Reno lebih lanjut, ia memilih melanjutkan makannya.


Di dalam kamar ponselnya Reno berdering, Reno meraih benda pipih yang ada di atas nakas dekat tempat tidurnya.


"Vira," gumamnya pelan.


Dengan perasaan yang entah sudah hilang atau kecewa, Reno mengangkat telpon dari Vira.


"Hallo Vir, ada apa?"

__ADS_1


"Reno, aku di rumah sakit, aku di rawat," terdengar suara Vira yang di buat-buat selemas mungkin.


"Kamu sakit apa?" biarpun ada rasa kecewa yang dalam, namun saat mendengar Vira sakit, Reno tampak kawatir.


"Aku badannya panas, meriang Ren," jelasnya dengan memelas.


"Reno, jagain aku di rumah sakit ya!" pintanya mengharap simpati Reno.


"Baiklah," tanpa menunggu jawaban dari Vira, Reno langsung mematikan saluran telponnya begitu saja.


Reno meraih switter warna hitam miliknya, ia bergegas pergi keluar dari dalam kamar.


"Ehh,ehh mau kemana tuan?" tanya Dinda pada Reno.


"Aku ada urusan, kamu tidur duluan saja!" ujar Reno dan buru-buru pergi menuju ke rumah sakit.


Reno mengendarai mobilnya dengan kecepatan agak tinggi, biar bagaimanapun Reno kawatir pada Vira, apalagi Vira sudah tidak punya keluarga, ia hidup hanya sebatang karah.


Sesampainya di rumah sakit, Reno menanyakan kamar pasien atas nama Vira Syahfira pada suster, dan Reno langsung pergi menuju ke ruangan yang di tunjukkan oleh suster itu.


Sesampainya di ruangan tersebut, Reno membuka pintu ruangan itu, ia melihat Vira sedang berbaring di atas bankar dengan wajah pucat.


Vira memasang wajah lemas. "Aku tahu kamu akan segera datang mendengar aku sakit, tidak sia-sia aku menyewa jasa make up mahal, untuk membuat Reno percaya kalau aku sakit, hahaha," dengan bahagia Vira tertawa dalam hatinya.


"Sayang, akhirnya kamu datang juga," suaranya di buat begitu lirih dan lemas.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Reno, ia duduk di kursi dekat bankar.


"Aku sakit," lirihnya.


"Bukannya kamu kemarin baik-baik saja," ujar Reno dengan yakin.


"Kan itu kemarin," lirih Vira lagi.


Reno mengangguk, ia menatap lekat wajah pucat Vira. "Aku rasa ada yang aneh, dia juga tidak punya riwayat sakit apa-apa, apa Vira ini sedang bermain-main padaku," batin Reno dalam hatinya.


Reno tersenyum licik dalam hatinya, ia tahu ia harus berbuat dan ia juga yakin pasti seseorang ini akan sangat kawatir saat mendengar Vira sakit.


"Mari kita bermain drama," batin Reno dalam hatinya.


Entah drama apa yang akan Reno mainkan?

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2