Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Satu minggu berlalu


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 7 malam, Restu akhirnya datang ke rumah Vira yang ia belikan beberapa waktu lalu dan tentu saja itu pakai uangnya Ria, yang sekarang berstatus calon mantan istrinya.


"Tok,tok,"


Mendengar suara ketukan pintu, Vira beranjak dari tempat duduknya dan menaruh cemilannya di atas meja.


"Siapa yang malam-malam datang?" gumam Vira, tapi Vira tersenyum kecil, aku yakin itu pasti Reno.


Dengan langkah mantap ia berjalan ke depan untuk membukakan pintu.


"Ceklek." Pintu terbuka, mata Vira terbelalak melihat Restu yang ada di hadapannya.


"Om, ada apa malam-malam kesini?" tanya Vira dengan nada lembut.


"Sayang, om mau menginap di rumahmu," lirih Restu dengan nada sendu.


"Masuklah om!"


Vira mengajak Restu masuk, mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Vir, mulai sekarang aku mau tinggal di sini," ujar Restu yakin.


Vira bergelonjak kaget. "Haah tinggal di sini, kok gitu om?"


"Vir, aku sudah tidak punya apa-apa, Ria sudah mengambil semuanya, aku hanya punya rumah ini," tukas Restu dengan menekan.


"Tidak, Om Restu tidak boleh tinggal di sini, ini rumah Vira, lagian rumah ini juga di beli atas nama aku om," sahut Vira tegas. Siapa juga yang mau tinggal bersama laki-laki yang sudah tidak punya apa-apa, biarpun aku hanya ingin balas dendam, tapi aku juga butuh uangnya kali.


Restu menghela nafas kesal, sorot matanya terlihat sinis pada Vira.


"Kamu giliran aku sudah tidak punya apa-apa, kamu buang aku begitu saja, dasar gundik sialan," jijik sekali Restu pada Vira. Jijik juga dulu mau, bahkan sering kali main kuda-kudaan, kenapa sekarang baru bilang jijik? Dasar laki-laki itu munafik.


"Om, lagian buat apa juga aku menampung laki-laki yang sudah miskin seperti om, sekarang om pergi dari rumahku!" usir Vira dengan kasar, bahkan ia menarik tangan Restu cukup kasar dan membawanya keluar dari dalam rumahnya. "Pergi sana! Nanti rumahku kotor," usianya dengan tatapan jijik.

__ADS_1


Restu akhirnya pergi dari rumah Vira, padahal itu rumah yang membeli Restu, tapi salahnya Restu rumah itu di atas namakan Vira.


Restu kembali menelusuri jalanan, langkah semakin lelah, ia juga tak punya tujuan mau kemana?


Dengan uang 1 juta, ia juga tidak mungkin menginap di hotel. Restu terdiam duduk di tengah-tengah taman kota sambil memakan nasi bungkus, ia menangis meratapi nasibnya, kini ia kembali menjadi seperti dulu miskin dan tidak punya apa-apa lagi.


****


Satu minggu telah berlalu, Ria masih di rumah Reno dan Dinda, karena Reno dan Dinda tidak mengizinkan Ria untuk pulang selain kawatir mereka juga tidak mau mamanya kesepian di rumah sendirian.


Hari-hari yang mereka lalui cukup bahagia biarpun tanpa Restu, karena hadirnya Ria di tengah-tengah Reno dan Dinda, itu juga membuat dua sejoli itu seperti pasangan nyata biarpun hanya sebuah sandiwara.


Sarapan pagi seperti pagi biasanya terasa hangat, Reno dan Dinda terlihat kompak dengan sandiwara mereka. "Ren, kamu yakin akan terus bersandiwara?" gumamnya dalam hati.


"Mama, perusahaan mama siapa mengurus?" tanya Reno pada mamanya.


"Yang mengurus semuanya untuk sementara Paman Pras, nak," jawab Ria dengan nada lembut.


Setelah selesai sarapan pagi Reno dan Dinda berpamitan pada Ria untuk berangkat kerja, saat Ria tahu Dinda kerja di cafe, Ria juga cukup senang dan tidak keberatan. Lagian Ria melarang Dinda agar di rumah saja agar tidak kerja tapi kata Dinda jenuh dan bosan, jadi sebagai orang tua yang baik Ria hanya bisa memberikan dukungan untuk anak dan mantu kesayangannya itu.


Di tengah-tengah perjalanan menuju ke cafe Dinda, Reno diam-diam memperhatikan Dinda. "Semakin hari dia semakin cantik," pujinya dalam hati.


"Cantik juga kamu sia-siakan, kalau di empat laki-laki lain saja, aku yakin pasti kamu guling-guling di lapangan," bisik hati kanannya, anggap saja ini hati yang baik.


"Cantikan Vira," bisik hati yang kiri, anggap saja ini hati yang jahat.


"Sudah bekas kalau yang itu, tuh depan kamu masih bersegel," hati baiknya tidak mau kalah.


"Ahh enakan yang sering di pakai longgar," bisik hati jahatnya.


"Diam kalian!!" titah Reno marah.


Dinda menoleh, ia menatap Reno kaget.

__ADS_1


"Kamu bicara dengan siapa?" tanya Dinda raut wajah tampak bingung.


"Tidak ada," sahut Reno.


"Lama-lama aku bisa gila karena bisikan kalian hati baik dan hati jahatku, kalian jangan mengangguku!" pintanya dalam hati.


Dinda tersenyum kecil, mungkin manusia bodoh ini sudah mulai gila, entah karena apa?


Sesampainya di depan cafe, Reno turun dari mobil dan ia membukakan pintu mobilnya untuk Dinda.


Ini adalah pemandangan yang tidak biasa, Dinda saja lagi-lagi terkejut di buat olehnya.


"Terimakasih," kata Dinda dengan nada lembut.


Dinda hendak melangkahkan kaki menuju ke cafe, namun tiba-tiba tangannya di raih oleh Reno membuat Dinda menoleh dan menatapnya penuh kebingungan.


"Kenapa?" tanyanya.


"Kamu itu istriku," ujar Reno pada Dinda.


"Iya, tapikan aku ini istri yang tak di inginkan," ujar Dinda tegas.


"Tapi tetap saja sebagai istri, kalau kemana-mana kamu harus," Reno menghentikan kata-katanya.


"Harus apa?"


Dinda terus menatap Reno yang malah diam dan raut wajahnya penuh dengan keraguan.


"Iya harus ini,"


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2