
Dua hari telah berlalu Dinda benar-benar hanya duduk di rumah saja, semenjak kejadian malam itu Dinda juga sudah tidak datang ke cafe milik Leo untuk bekerja lagi.
Reno juga menepati omongannya, ia memberikan uang bulanan untuk Dinda dan satu bulan uang belanja Dinda 20 juta, sedangkan uang khusus untuk Dinda 50 juta. Cukup besar nominalnya, tapi ya wajar saja Reno juga gajiannya besar dan uang bulanan untuk Dinda segitu itu tidak ada apa-apanya.
Saat Reno memberikan uang bulanan secara cash pada Dinda, ia cukup tercengang menerimanya, bukannya tidak bersyukur, uang gajian Dinda di cafe saja hanya 5 juta. Dan yang di berikan oleh Reno sudah sangat lebih dan cukup.
"Tuan ini,"
"Hush mulai sekarang panggil aku mas! Aku juga tidak menerima penolakan darimu, jadi kamu harus patuh padaku!" Reno menutup mulut Dinda dengan jari telunjuknya, terasa aliran darah Reno lebih cepat dari biasanya, hatinya bergetar seperti ada sengatan listrik yang masuk ke dalam tubuhnya. "Aku rasa, aku semakin gila," pekiknya dalam hati.
Dinda menyingkirkan jari telunjuk Reno dengan hati-hati.
"Baiklah, mas tapi ini kebanyakan uangnya," lirih Dinda dengan jujur.
"Habiskan aku tidak mau tahu!" ujar Reno, membuat Dinda kaget. "Habiskan, bagaimana caranya menghabiskan uang sebanyak ini? Mama dan papa saja selalu pelit padaku, biarpun mereka punya uang banyak, ini di kasih uang sebanyak ini cuma-cuma, kalau mama dan papa aku tahu pasti sudah di habiskan untuk bermain judi," batin Dinda dalam hatinya.
Dinda tersenyum kecil, membuat Reno ikut tersenyum.
"Ada yang mau kamu tanyakan?" tanya Reno, sudah seperti guru yang bertanya pada muridnya saja.
__ADS_1
"Ajari aku cara menghabiskan uang ini!" pinta Dinda dengan nada lembut.
Reno mengangguk, dasar ternyata Dinda ini beda sekali dengan Vira. Kalau Vira di berikan uang segitu pasti akan kurang, untung saja ATM yang aku berikan pada Vira waktu itu, memang tidak aku ambil dari Vira karena terlalu malas untuk bertemu dengan gundik itu lagi tapi sudah aku blokir, biar Vira tidak bisa menggunakan ATM itu lagi. Enak saja, aku yang capek cari uang mending aku berikan pada istriku saja. Dasar Reno, kenapa aku dulu begitu bodoh karena cinta? Mungkin dulu itu yang namakan cinta itu buta, aku dulu begitu batu, Devan sering mengingatkan aku, aku juga tidak pernah mendengar itu dan mati-matian berdebat dengan Devan hanya karena membela gundiknya papa itu. Ternyata inilah aku, biarpun aku pintar dalam urusan pekerjaan, tapi untuk masalah percintaan aku nol besar.
"Berdandan lah yang cantik! Nanti aku ajari menghabiskan uang itu," titah Reno dan Dinda mengangguk, ia bergegas untuk berdandan cantik sesuai perintah dari Reno.
Dinda sibuk siap-siap, sedangkan Reno sibuk dengan ponselnya.
"Ren, kejadian di hotel xx waktu ulang tahun bosnya Dinda, itu ulah seseorang." Pesan dari Devan.
Setelah kejadian malam itu, Reno memang pagi-pagi sekali menghubungi Devan untuk mencari tahu semuanya, Devan dengan siap siaga langsung mematuhi perintah dari Reno. Dan tidak butuh waktu lama, hari ini Devan sudah mencaritahu semuanya. Dan dengan mudahnya semuanya terungkap dengan mudah oleh Devan.
"Bagus Dev, urus semuanya! Aku mau mengajari istriku cara menghabiskan uangku dulu." Balas Reno.
"Dulu saja, di suruh mengakui menjadi istri mati-matian tidak mau, sekarang mulai bucin." Balas Devan.
Membaca balasan pesan dari Devan, Reno hanya senyam-senyum sendiri seperti orang tidak waras.
"Tenang saja Dev, kali ini bukan cinta buta lagi kok." Balas Reno yang diiringi dengan emoticon tertawa bahagia.
__ADS_1
Devan geleng-geleng kepala, terserahlah orang sedang jatuh cinta itu memang gila. Lihat saja, aku rasa Reno juga semakin gila. Tapi setidaknya tidak sebuta waktu dengan gundik itu.
Devan kembali melanjutkan penyelidikannya, hari ini juga harus tuntas senjang, pelakunya juga tidak akan di biarkan oleh Devan lepas begitu saja.
***
Setelah beberapa lama berdandan, akhirnya Dinda sudah siap dengan dress warna putih tulang yang panjangnya selutut dan kuncir kuda yang agak berantakan, riasan yang cukup natural membuat kecantikannya begitu terpancar.
"Aku sudah siap mas," katanya dengan begitu manis dan cukup lemah lembut, seketika debaran jantung Reno begitu cepat, aliran darahnya kembali mengalir dengan cepat. "Ternyata dia cantik juga," pujinya dalam hati.
Reno malah terdiam sambil memandangi Dinda dengan tatapan cukup dalam, mungkin sebentar lagi iler Reno akan ngeces karena membayangkan punggung mulus Dinda.
"Mas, kok malam diam?" Dinda menyentuh bahu Reno dan membuat Reno kaget.
"Ehh iya, ayo kita berangkat," ajaknya dengan gugup dan Dinda mengangguk.
Kini tanpa permisi Reno meraih tangan Dinda, lalu mengandeng tangan Dinda dengan lembut, Reno sudah mulai nakal hanya saja dia belum berani mengakui perasaannya pada Dinda.
Kini mereka naik mobil, entah Reno mau membawa Dinda kemana hari ini?
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia