
"Mas ini undangan dari....."
"Iya itu dari.....".
Dari siapa ya kira-kira undangan yang Reno baca?
"Sih brengsek Devan, sungguh dia mau menikah. Dia bilang dia jomblo, terus ini tiba-tiba nyebarin undangan pernikahan," celoteh Reno panjang lebar membuat Dinda tertawa.
"Mas biarkan saja Kak Devan itu menikah, lagian apa salahnya? Mungkin dia sudah bertemu dengan jodohnya," sahut Dinda enteng. Ya lagian jadi jomblo salah, sekarang mau nikah juga masih di komen oleh Reno. Dasar Reno ini sableng, lihat sahabat bahagia bukannya senang ini malah ngoceh.
Reno menelpon Handi dan Farhan gabungan, mereka menelpon bertiga.
"Hallo Han, Far, kamu sudah mendapatkan undangan pernikahan dari sih brengsek itu?" tanya Reno pada kedua sahabatnya.
"Sudah Reno, dia diam-diam malah duluan, bagaimana ini konsepnya?" sahut Handi yang tidak kalah kesal dari Reno.
"Ternyata Bang Devan lebih sat set dari kita," timpal Farhan yang diiringi tawa bahagia.
"Farhan, telpon sih brengsek itu sekarang!" titah Reno pada Farhan, dengan cepat Farhan menelpon Devan.
Farhan menelpon Devan, langsung tersambung dan kini mereka berempat menelpon bareng-bareng.
"Hay sahabat-sahabatku, apa undangan pernikahanku sudah sampai pada kalian?" tanya Devan dengan sumringah.
"Kamu bisa-bisanya menikah lebih dulu, Dev," omel Handi pada Devan.
"Kan jodoh tidak ada yang tahu, kalian harus hadir ya nanti! Ingat bawa pasangan kalian, terus kalian jangan pacaran lama-lama, takut ada setan lewat nanti kalian hilaf," cibir Devan pada Handi dan Farhan yang belum menikah.
Reno langsung ngagak parah, tawanya begitu pecah di hadapan para teman-temannya itu.
Farhan dan Handi geleng-geleng kepala, mereka sempat meledek Devan dan ternyata Devan yang akan mengakhiri masa lajangnya lebih dulu.
"Kita bisa ngobrol berempat seperti ini di telpon rasanya jarang sekali ya, ini akan menjadi kenangan untuk kita. Terus kenang-kenangan masa-masa indah kita ya para sahabatku," kata Handi terlihat tatapan matanya begitu sendu. Ada rasa yang sulit ia ungkapkan tapi bersama dengan para sahabatnya yang somplak ini Handi sangat bahagia.
"Nanti kita ceritakan kenangan indah sama anak-anak kita, bawa Papanya mereka pernah gila bareng-bareng," sambung Devan yang diiringi tawa bahagia.
__ADS_1
"Eh kalian mau dengar kabar bahagia tidak? Adonanku sudah jadi tahu," dengan senang hati Reno memberikan kabar bahagia ini pada para sahabatnya.
"Wihh selamat ya Ren," ucap Devan bahagia.
"Akhirnya kamu akan menjadi Papa Muda," sambung Handi yang tak kalah bahagia.
"Pasti rajin membuat adonan makanya cepat jadi," gelak tawa Farhan membuat semuanya ikut tertawa.
"Sudah-sudah nanti malam kumpul ya pesta bujang gitu, jangan ada mengajak pasangan ya!" titah Devan pada para sahabatnya.
"Baiklah," jawab semuanya dengan serempak.
Setelah obrolan demi obrolan selesai, akhirnya semuanya sama-sama mematikan saluran telpon mereka semua.
***
Malam menunjukkan pukul 7, Reno sudah siap untuk pergi ke acara pesta bujang Devan malam ini. Sedangkan Dinda malam ini di temani oleh Mamanya, untung saja Mamanya selalu siap siaga. Apalagi mendengar Dinda saat ini sedang hamil dengan senang hati Ria menjaga menantu kesayangannya itu.
Dinda juga tidak melarang Reno untuk pergi berkumpul dengan para sahabatnya, lagian itukan acara penting bagi Reno. Apalagi Devan sangat dekat dengannya selama ini.
****
Keempat laki-laki tampan ini mengelar pestanya di rumah Devan.
Devan sudah menyediakan minuman yang memabukkan, berbagai makanan dan ada juga minuman kaleng.
"Asik lepas masa lajang nih sebentar lagi," cetus Farhan sambil nyengir.
"Bentar lagi halal dong," sambung Handi jail.
"Itu keris pusaka masih tajam kan Dev? Atau perlu di asah dulu?" cibir Reno yang membuat semuanya tertawa.
"Masih dong Ren, masih perjaka ini," pamer Devan tidak mau kalah.
"Ahh yakin masih perjaka," sahut Handi tidak percaya.
__ADS_1
"Masih segelan ini Han," pekik Devan dengan mantap.
Mereka berempat bersulang, tapi malam ini Reno tidak ikutan mabuk, apalagi istrinya sedang hamil ia tidak mau minum dulu takutnya salah, kan kasian istrinya nanti.
"Setelah acara pernikahanmu, aku mau berangkat keluar negeri Dev," kata Handi pada Devan.
"Lalu Art pujaan hatimu bagaimana? Kamu mau meninggalkan dia begitu saja," tanya Devan pada Handi.
"Dia akan tetap di sini, hanya aku yang akan pergi," sahut Handi sambil meneguk minumannya.
"Kenapa tidak di ajak?" tanya Reno pada Handi.
"Aku tidak mau dia ikut pergi bersamaku," sahut Handi dengan santai, tapi kata-kata itu penuh arti.
"Bang Handi, kamu akan menikahinya kan?" tanya Farhan, ia yang paling kecil di antara mereka.
"Entahlah, tapi aku pasti akan menyaksikan kebahagiaan dia dari jauh sana," jawab Handi dengan nada lembut.
"Handi, kamu sudah mabuk, sudah jangan minum lagi!" larang Devan, saat melihat Handi sudah minum beberapa gelas. Tapi Handi memang tidak kuat mimum.
"Kan nanti bahagianya bersama denganmu Han," cetus Reno dan di anggukin oleh Farhan.
Handi hanya tersenyum kecil, lalu ia mengeluarkan ponsel miliknya.
"Ayo kita ambil foto kita, ini untuk kenang-kenangan," kata Handi dan ia mengambil beberapa kali foto selfie dengan para sahabatnya.
"Ini harus kalian simpan untuk kenang-kenangan," kata Handi pada semuanya.
"Lalu kita ceritakan pada anak-anak kita nanti," sambung Reno yang diiringi tawa kecil.
Tak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, Devan sudah sangat mabuk, ia tergelak di sofa, Farhan juga sudah tertidur, sedangkan selesai acara Reno langsung pulang karena kawatir akan istrinya.
Lalu Handi ia bergegas pulang menaiki mobilnya menuju ke rumahnya dengan keadaan mabuk.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia