
Reno meraih ponselnya yang ada di dalam saku celananya.
Ia menggeser layar ponselnya, lalu ia menekan salah satu no tidak asing. "Papa," batinnya dalam hati. "Mari kita bermain-main pa," lanjutnya dalam hati.
Vira menatap Reno dengan tatapan lekat, dengan pura-pura lemas tangannya meraih tangan Reno.
"Kamu mau telpon siapa sayangku?" tanyanya masih dengan nada pura-pura lemas, berharap Reno akan ibah. Namun nyatanya Reno malah tampak cuek.
"Aku menelpon papaku," ujarnya pada Vira.
"Untuk apa?" Vira terkejut, seketika debaran jantungnya sangat cepat.
Di saat sedang di sibukkan dengan pekerjaannya, Restu menghela nafas berat saat mendengar ponselnya berdering.
"Hallo Ren."
"Hallo pa, papa dimana?"
"Di kantor Ren, ada apa?"
"Papa, aku sedang di rumah sakit," ujar Reno sengaja.
"Siapa yang sakit? Apa kamu sakit?" Restu tampak kawatir.
"Yang sakit Vira pa, dia rumah sakit xx,
" jawabnya dengan suara agak menekan.
"Vira sakit!!"
"Sakit apa?" terdengar nada bicara Restu sangat kawatir.
"Sepertinya papa kawatir sekali, bukannya dulu papa sangat menentang hubungan aku dengan Vira," sindir Reno sinis.
"Bukan begitu nak, kamu hanya salah paham saja, lagian siapa juga yang menghawatirkan wanita itu," elaknya dengan gugup.
"Aku pikir papa sangat kawatir, ya sudah pa, aku tutup dulu telponnya," ujar Reno dan dengan cepat memutuskan sambungan teleponnya dengan papanya.
Restu menghela nafas berat, kenapa Reno bisa-bisanya mengabari dirinya di saat Vira sakit, aduh aku jadi kawatir, aku harus ke rumah sakit nanti.
Hati Restu bergemuruh, ia tadinya fokus dengan laptopnya saja tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan terus melihat arlojinya. "Sebentar lagi aku pulang, nanti aku sempatkan mampir ke rumah sakit dulu, wanita nakalku sakit apa?" lirihnya dalam hati.
****
__ADS_1
Vira menatap Reno heran, namun Reno malah membalas tatapan itu dengan sebuah senyuman kecil.
"Reno, kenapa kamu menelpon papa kamu, kamu kan tahu kalau papa kamu itu sangat menentang hubungan kita," ujar Vira ketus.
"Aku yakin papaku saat ini sedang merasa sangat kawatir," ujar Reno pada Vira.
"Apa sih Ren? Aku tidak mengerti apa dengan apa yang kamu katakan," lirih Vira masih dengan nada lemas.
"Tidak usah di mengerti, biarkan saja berjalan apa adanya," tukas Reno yang di iringi senyum penuh arti.
Dalam hati Vira, semua tidak akan berjalan apa adanya tapi akan berjalan sesuai dengan rencanaku. Tekatnya dalam hati.
"Iya sayang, mudah-mudahan papa kamu secepatnya memberikan restu untuk hubungan kita," dengan penuh harapan Vira mengatakan itu pada Reno.
Reno menghela nafas berat, memberikan restu? Restu untuk apa? Untuk hubungan kalian yang seperti iblis itu. Aku akan cari tahu semuanya, aku tidak akan diam saja, apalagi saat mamaku sampai kamu sakiti, lihatnya saja, siapa yang akan hancur duluan?
"Hubungan kita atau hubungan kamu dengannya?" gumamnya lirih.
Samar-samar Vira mendengar gumaman Reno.
"Apa katamu, sayang?" tanya Vira, sorot matanya terus tertuju ke Reno.
"Tidak ada, aku harus pulang, soalnya istriku sudah menunggu di rumah," pamitnya pada Vira.
"Mas, bukannya kamu mau menceraikan dia, kenapa sekarang kamu malah menyebut gadis itu sebagai istri?" tanya Vira, kedua matanya tampak berkaca-kaca, mungkin sebentar lagi akan menangis.
Reno menatap Vira cuek, bahkan tatapannya sudah tak sedalam dan sehangat dulu.
"Untuk itu akan aku pikirkan," tukas Reno tegas.
"Sudah malam, kamu istirahatlah, kamu kan, sedang sakit," tutur Reno, ia melepaskan tangan Vira yang dari tadi terus memeganginya.
Vira kembali meraih tangan Reno, ia memegang erat tangan Reno.
"Mas, kamu tidak menemaniku?" tanyanya dengan nada sendu.
"Kan ada suster dan dokter, maaf aku besok ada meeting pagi-pagi," ujar Reno dan kembali melepaskan tangan Vira, lalu ia berlalu pergi begitu saja.
Meskipun sebenarnya berat dan hatinya masih ada Vira, tapi rasa kecewa dalam hatinya jauh lebih besar.
Saat Reno sudah keluar dari ruangan rawat Vira, Vira meneteskan air matanya, hatinya begitu sedih batinnya juga sangat gelisah.
Vira membaringkan tubuhnya, ia membenamkan matanya, lalu menutup kedua matanya. "Tidak apa-apa Vir, Reno hanya sedang ingin bermain-main denganmu saja, mungkin dia ingin memberikan kejutan di hari ulang tahunmu, dia sengaja membuat kamu marah dan kesal," kekehnya dalam hati.
__ADS_1
Vira berpikir sikap Reno berubah karena ini menjelang hari ulang tahunnya.
****
Sesampainya di rumah. Reno terdiam di tepi ranjang tempat tidur sambil menatap Dinda yang sudah tertidur dengan nyenyak.
"Saat dia tidur, wajahnya begitu cantik," pujinya lirih, Reno beranjak dari tepi ranjang lalu ia berjalan menghampiri Dinda yang tidur di sofa.
Pipi mulus Dinda di belai dengan lembut dengan hati-hati Reno mengecup pipi mulus Dinda, ia tersenyum lalu kembali ke tempat tidur.
"Reno, jangan jadikan Dinda pelampiasan di saat kamu sedang tidak baik-baik saja dengan Vira!" batin Reno mengingatkan.
Samar-samar karena matanya mulai mengantuk Reno terus menatap Dinda dengan lekat.
"Reno, angkat Dinda, pindahkan dia ke tempat tidur, kamu sentuh dia, kamu yakin tidak tergoda dengan tubuh mulusnya?" bisik hatinya yang tidak baik, anggap saja ini hati sebelah kiri Reno yang selalu membawa Reno ke hal-hal yang salah.
"Reno, jangan lakukan itu! Dinda masih suci, jika kamu mau melakukannya maka tunggulah sampai cinta di antara kalian tumbuh!" titah hati sebelah kanan Reno, ini adalah hati yang baik dan selalu membawa Reno ke hal-hal yang baik.
Buru-buru Reno menepis semua bisikkan itu, ia memilih untuk merebahkan tubuhnya dan tidur.
****
Di saat Reno dan Dinda sudah nyenyak dengan tidur mereka, mungkin mereka juga sedang mimpi indah.
Di sisi lain ada Vira yang gelisah karena tidak bisa tidur, apalagi ia di rumah sakit sendirian, iya itu semua karena salah sandiwaranya, lagian pakai pura-pura sakit segala.
"Reno, aku merindukanmu," lirihnya dengan nada sedih. Tanpa sadar air matanya kembali menetes membasahi pipi mulusnya.
Vira duduk sambil menyandarkan tubuhnya dengan bantal, otaknya selalu terbayang-bayang Reno, ia merindukan Reno yang selalu ada untuk dirinya, namun malam ini tidak ada Reno, sungguh hatinya sedih dan menangis.
"Tok-tok," suara ketukan pintu.
Vira terdiam, siapa yang datang ke ruang inapku di tengah malam seperti ini?"
Vira ragu membukakan pintu, lagian tangannya juga sedang di infus, entah apa yang infus gunakan to Vira sebenarnya sehat.
"Masuk!!" Vira mempersilahkan masuk, karena seseorang di depan sana terus mengetuk pintu ruangan inapnya.
"Ceklek,"
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1