
Malam semakin larut, namun mata kedua sejoli itu belum juga terpejam.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Reno, ia melihat Dinda yang masih membuka kedua matanya.
"Belum mengantuk," jawab Dinda singkat.
Reno membenarkan posisinya menjadi duduk, ia bersandar di kepala ranjang dengan raut wajah yang sulit di artikan. "Om nya, sejak kapan Vira di rawat oleh Om dia?" batin Reno dalam hatinya.
Setau Reno memang Vira tidak punya Om, kalau pun di rawat ia di rawat oleh neneknya yang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu.
Kedua orangtuanya juga sudah meninggal dan Vira menjadi anak yatim-piatu dari dia kelas 3 SMA.
Dinda menatap Reno heran, apa Tuan Reno tidak nyaman tidur satu ranjang denganku?
"Tuan, jika tuan tidak nyaman tidur denganku, aku tidak apa-apa tidur di lantai saja," ujar Dinda hati-hati.
Dinda beringsut, lalu ia bangun dari kasur empuk itu dan berniat pindah ke lantai, namun saat Dinda hendak menurunkan kedua kakinya tiba-tiba Reno menahan lengan tangannya. "Tetaplah tidur di sini! Aku bukan risih karena tidur satu ranjang denganmu, tapi aku sedang memikirkan hal lain," ujar Reno dengan nada lembut.
Dinda mengangguk ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur.
Kini 15 menit telah berlalu, Dinda akhirnya sudah tertidur nyenyak.
Reno yang masih duduk dan gusar karena memikirkan suara laki-laki yang memanggil Vira, ia belum juga bisa tidur.
Diam-diam Reno mengalihkan pandangan kedua matanya ke wajah cantik Dinda.
"Cantik sekali saat dia sedang tidur," puji Reno dan tanpa sadar satu tangannya ternyata sudah berada di pipi mulus Dinda, di elus-eluslah pipi Dinda dengan lembut.
"Saat bebek jelek ini tidur, dia begitu tenang, tapi dia itu tidak jelek, karena sebenarnya dia itu sangat cantik sekali," lagi-lagi Reno memuji Dinda tanpa ia sadari.
Dengan tatapan yang penuh makna, Reno tiba-tiba memberikan ciuman hangat di kening Dinda. "Tidurlah, maaf waktu itu aku menampar pipi kamu, sungguh aku sangat menyesal," batin Reno dalam hatinya.
Reno membaringkan tubuhnya, ia pun dengan sengaja menyingkirkan bantal guling pembatas yang ia buat untuk dirinya dan Dinda. "Aku akan membuat kamu pagi-pagi tidur di pelukan aku, lihat saja!" batin Reno dalam hatinya, sungguh ternyata Reno licik juga, tapi bilang saja Reno itu gengsi.
Detik jam terus berjalan, angin malam ini juga cukup dingin, hingga tidak terasa Dinda beringsut pelan dan tanpa ia sadari ia dusel-dusel ke dekepan Reno, sekilas Reno membuka kedua matanya karena merasakan sesuatu.
Ternyata Dinda kini sudah berada di dalam dekapannya, Reno tersenyum dalam hatinya, ia pun dengan senang hati malah memeluk Dinda dengan erat.
Malam semakin larut, angin semakin berhembus kencang, kedua sejoli ini pun semakin menikmati pelukan mereka, tanpa sadar Dinda juga memeluk pinggang Reno.
***
__ADS_1
Pagi yang cerah telah datang, Dinda perlahan-lahan membuka matanya, kedua matanya langsung terbelalak kaget karena tangan Reno kini ada di perutnya.
"Bantal gulingnya kemana?" gumam Dinda dengan suara pelan.
"Dasar manusia bodoh, aku yakin dia pasti sengaja mengambil kesempatan dariku!" pekik Dinda yang merasa kesal.
Mungkin Dinda lupa akan kejadian semalam, siapa yang lebih dulu memeluknya? Jika ingat pasti Dinda akan merasa malu, lihat saja nanti!
"Emm," Reno bergulat, namun ia merasakan berat di bagian lengan kepalanya.
"Aish, bebek jelek, kenapa kamu berat sekali sih?" keluhnya, lalu ia menarik lengan tangannya yang dari semalam di buat bantal oleh Dinda.
"Apa yang terjadi?" tanya Dinda bringas.
"Jika di ingat, pasti kamu tidak akan percaya," tukas Reno dengan santai.
Reno membenarkan posisinya menjadi duduk, lalu ia memijat tekuk lehernya dengan satu tangannya.
Dinda masih termenung, ia berusaha mengingat kejadian tadi malam, kenapa pagi-pagi seperti ini sudah main peluk-pelukan, namun Dinda tidak mengingat apapun.
"Sudahlah tidak usah di ingat-ingat, lagian aku juga melihat kamu semalam begitu nyaman di pelukanku, malah kamu yang mulai dusel-dusel, ah bilang saja kalau kamu menikmatinya kan?" godanya dengan jail.
Dinda menatap malas Reno, apa benar kalau semalam aku yang mulai duluan? Aku yakin dia hanya mengarang cerita saja.
"Jam berapa sekarang?" tanya Dinda, mengalihkan pembicaraan.
"Jam setengah 8," jawab Reno.
"Aku harus berangkat kerja, aku sudah telat," buru-buru Dinda bangun dari tempat tidur, ia hendak turun dari atas kasur, namun tiba-tiba Reno menarik pergelangan tangannya.
"Tetaplah di sini! Kamu hari ini libur kerja," ujar Reno pada Dinda.
"Tapi aku,"
"Sudahlah, Devan akan mengurus semuanya, hari ini kamu habiskan waktu denganku, temanin aku jalan-jalan juga," titah Reno tanpa mau di bantah.
"Baiklah," jawab Dinda singkat.
Reno meraih ponselnya yang ada di atas nakas meja, lalu ia mengirim pesan pada Devan untuk mengurus semuanya, termasuk datang ke cafe Dinda untuk meminta izin pada bosnya bawa Dinda hari ini tidak masuk kerja.
Devan yang masih berada di atas tempat tidurnya, ia cukup kesal apalagi pagi-pagi seperti ini Reno sudah memberikan tugas bla-bla.
__ADS_1
Namun buru-buru Devan bergegas untuk bersiap-siap, lagian Devan sangat senang jika Reno dan Dinda bisa menghabiskan banyak waktu berdua, aku yakin cinta mereka pasti akan segera tumbuh dan kamu gadis sampah cepat atau lambat Reno pasti akan membuang kamu jauh-jauh.
***
Reno dan Dinda sudah bersiap-siap, mereka akan pergi sarapan berdua setelah sarapan nanti, Reno mau mengajak Dinda jalan-jalan dan berbelanja.
Kini mereka sedang sarapan berdua di restoran yang ada di hotel itu, tiba-tiba ponsel milik Reno berdering dan ternyata itu telpon dari Devan.
Reno beranjak dari tempat duduknya, ia mengangkat telpon dari Devan agak jauh dari Dinda, karena sengaja supaya Dinda tidak mendengar obrolannya dengan Devan.
"Hallo Dev, ada apa?"
"Aku sudah urus semuanya dengan baik, apakah ada perintah lain?"
"Dev, selidiki Vira, dia pergi keluar kota dengan siapa?"
"Baiklah, akan aku selidiki, ada lagi?"
"Itu saja dulu!"
"Baiklah."
Devan mematikan saluran telponnya, lalu Reno kembali ke meja untuk melanjutkan sarapannya bersama dengan Dinda.
"Kok makannya tidak di habiskan?" tanya Reno, sembari kembali duduk di kursinya.
"Aku sudah kenyang tuan," jawab Dinda dengan nada lembut.
"Aku makan dulu ya, nanti baru kita jalan-jalan," kata Reno yang nada suaranya begitu lembut seperti tadi.
Entah kesambet dedemit mana? Reno tiba-tiba bersikap lembut seperti ini?
Dinda mengangguk, ia dengan tenang menunggu Reno yang sedang menghabiskan sarapannya.
Setelah beberapa akhirnya Reno selesai sarapan.
Mereka berdua pun langsung pergi jalan-jalan, Dinda juga tampak bahagia jalan berdua dengan Reno, apalagi Reno tidak seketus biasanya.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1