Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Di buat gila oleh 2 wanita


__ADS_3

Reno kembali masuk ke dalam rumah, dengan langkah gontai ia mencari-cari Dinda di setiap sudut di ruangan rumahnya.


Namun tidak kunjung menemukan keberadaan Dinda dimana-mana.


"Kamu dimana?"


"Apa jangan-jangan kamu kabur?"


"Tapi buat apa aku perduli padanya?"


Buru-buru Reno menepis semua pikirannya yang dari tadi terus kepikiran Dinda yang entah pergi kemana?


"Lebih baik aku mandi, lalu aku pergi ke rumah Vira, daripada aku ngurusin gadis itu," ujar Reno dan ia langsung bergegas masuk ke dalam kamar untuk mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Vira.


Setelah beberapa lama akhirnya Reno sudah siap, tanpa menunggu lama ia langsung keluar rumah dan menaiki mobil sedan warna hitam kesayangannya itu.


Dengan bahagia dan sambil bernyanyi riang, perasaan yang begitu menggebu-gebu ingin rasanya cepat bertemu dengan Vira.


Namun sesampainya di rumah Vira, rumah Vira tampak sepi, Reno turun dari mobil dan bertanya pada penjaga rumah, tapi katanya Vira tidak pulang dari tadi malam.


Raut wajah bahagia Reno seketika menjadi kesal, kemana Vira pergi? Bahkan dia sampai tidak pulang semalaman.


Reno kembali menaiki mobilnya, ia mencoba menghubungi ponsel Vira, lagi-lagi tidak di angkat, bahkan setelah beberapa kali menghubungi no Vira, ini malah tidak aktif.


Reno yang tampak kesal dengan kasar melajukan mobilnya menuju pulang ke rumahnya.


***


Sesampainya di depan rumahnya, ia turun dari dalam mobil dengan kasar.


"Tuan," sapa Andi dan Tedy, namun Reno hanya berlalu pergi begitu saja tanpa menjawab sapaan dari kedua satpam rumahnya itu.


"Sepertinya Tuan Reno sudah mulai di buat gila oleh dua wanita," cibir Tedy dengan jail.


"Entahlah, nyatanya Tuan Reno itu tidak bersyukur padahal istrinya begitu imut, tapi malah lebih milih wanita sombong itu," sahut Andi malas.


Kedua satpam ini memang demen banget ghibah, padahal mereka itu laki-laki tapi ya mulutnya lemes seperti wanita.


Reno membantingkan tubuhnya dengan kasar ke sofa, kedua tangannya memegangi kepalanya seraya meremas rambutnya dengan kasar.


"Vira kemana?"


"Gadis udik itu juga kemana?"


Gubrakkk


"Auh, sakit sekali," lirihnya sambil memegangi kepalanya yang baru saja terkena meja dapur, Dinda baru bangun dari tidurnya, iya Dinda menangis cukup lama hingga ia ketiduran di bawa meja dapur, pantas saja Reno mencari ke setiap ruangan tidak menemukan Dinda, lah ternyata Dinda ini ada di bawa meja dapur, ia tidur dengan nyenyak.


Mendengar suara seperti barang jatuh, Reno buru-buru beranjak dari tempat duduknya dan mencari tahu darimana sumber suara itu berasal?


"Gadis udik, kamu ngapain disitu? Sudah seperti kucing kelaparan saja," cibir Reno, saat melihat Dinda berada di bawa meja dapur sambil duduk.


"Kalau aku kuncing kelaparan, lalu kamu apa? Kucing garong!!" seru Dinda dengan nada kesal.


"Mana ada kucing garong setampan aku," ujarnya dengan percaya diri.


"Mana ada laki-laki tampan memuji diri sendirinya tampan," sahut Dinda yang kesal juga.

__ADS_1


Dinda beranjak dari bawa meja dapur itu, lalu ia merapikan rambutnya yang acak kadul tidak jelas. "Dari kapan aku tidur disini?" batinnya dalam hati, ia mengingat kejadian kemarin saat Reno menampar pipi mulusnya dengan kuat.


Reno berjalan menghampiri Dinda, ia menatap lekat pipi Dinda yang terlihat agak memar. "Apa masih sakit?" Reno hendak menyentuh pipi mulusnya, namun Dinda menepis tangan Reno dengan kasar. "Jangan pernah menyentuhku!" tukasnya dengan tegas.


"Aku minta maaf," lirih Reno dengan nada lembut.


"Aku tidak butuh maaf darimu," sahut Dinda dan ia malah berlalu pergi dari hadapan Reno begitu saja.


Reno masih terdiam, ia berdiri dengan tegak dan kedua tangannya mengepal kesal. "Gadis itu sudah mulai berani melawanku, memangnya dia siapa? Sombong sekali maafku di tolak oleh dia," gerutu Reno dalam hatinya.


Dinda masuk ke dalam kamar, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi, setelah selesai mandi, Dinda keluar dari dalam kamar mandi.


Betapa terkejutnya saat sosok Reno sudah berdiri di depan kamar mandi dengan posisi kedua tangannya di atas dada.


"Kamu ngapain disini?" tanya Dinda, ia memegangi handuk berwarna putih bersih yang membalut tubuh mungilnya dengan erat. Jika handuknya sampai lepas, pasti Dinda akan sangat malu sekali.


"Hey, ini itu kamarku, kamu tanya aku ngapain disini?" sentak Reno marah.


Dinda berglidik malas, memang tuannya ini labil sebentar marah, sebentar baik, entahlah mungkin dedemitnya sedang merasuki tubuhnya itu.


"Mulai hari ini kamu tidak boleh memakai pakaian Vira lagi!"


Mendengar kata-kata Reno, Dinda menoleh kaget, kalau aku tidak memakai pakaian Vira? Lalu, haruskah aku telanjang seperti toples?


"Aku pinjam satu, nanti aku pulang, aku ambil baju-baju aku," ujar Dinda pada Reno.


"Aku sudah menyiapkan satu lemari dan itu isinya baju-baju kamu, jadi jangan pernah menyentuh pakaian Vira lagi!" tukasnya, Reno berjalan ke salah satu lemari yang ada di kamarnya. "Ini lemari pakaianmu," ujarnya dan Dinda mengangguk.


Dinda hendak berganti pakaian, namun Reno malah duduk di tepi ranjang.


"Kenapa malah duduk? Keluar sana! Aku mau ganti baju," kata Dinda.


Dinda memilih berganti pakaian di dalam kamar mandi, ia juga enggan menanggapi kata-kata Reno, lagian tanpa Reno ingatkan, Dinda juga tidak lupa akan posisinya saat ini. "Jika aku istri yang tak di inginkan, lalu kamu juga suami yang tidak aku inginkan juga," gumamnya, seraya berganti pakaian dengan cepat.


***


Semilir angin bertiup kencang siang ini, pepohonan yang rimbun bergoyang-goyang karena hembusan angin.


"Kamu mau kemana?" tanya Reno, melihat Dinda begitu rapi dan tumben-tumbenan ia merias wajah cantiknya.


"Aku ada pertemuan," sahut Dinda cuek.


"Pertemuan apa?" Reno merasa penasaran.


"Haruskah aku memberitahu? Ingat jangan pernah ikut campur dengan urusanku!" tegas Dinda pada Reno.


"Baiklah, pergi sana! Tidak usah pulang sekalian," kata Reno dengan kesal.


Dinda langsung berlalu pergi begitu saja tanpa menyahuti kata-kata Reno, Reno sungguh di buat kesal oleh Dinda.


Dinda sampai di sebuah restoran mewah dan di sana sudah ada rekan-rekan kerjanya, iya ini adalah acara khusus yang di buat oleh Leo agar bisa lebih dekat dengan para pegawai cafenya.


"Dinda, aku kira kamu tidak bisa datang," sapa Leo terukir senyum penuh arti.


"Aku sudah sehat Le, makanya aku datang," jawab Dinda seraya membalas senyuman Reno dengan senyum manis.


Kini mereka semua sudah duduk dan siap menikmati banyaknya hidangan yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Terimakasih Bos Leo."


"Sering-sering ajak kita makan diluar dong Bos!!"


"Iya, setiap satu bulan sekali gitu Bos!!"


Leo tersenyum senang, melihat para pegawai cafenya semuanya senang.


"Doakan cafe terus lancar, pelanggan makin banyak, makan kita akan sering-sering berpesta kecil seperti ini," ujar Leo pada semuanya dan di sambut soroakan riang dari semuanya. "Asiikk!!"


Akhirnya acara makan-makan selesai, semuanya pada pulang dan Dinda malam ini pulang di antar oleh Leo, awalnya Dinda menolak tapi Leo menyakinkan Dinda kalau ini sudah malam dan tidak baik jika seorang gadis pulang sendirian malam-malam, akhirnya Dinda setuju kalau Leo mengantarkan dirinya pulang, Dinda juga tidak perduli jika Reno tahu.


"Le, kita belok ke kanan ya!"


"Tunggu Din, bukannya rumah kamu arah ke kiri?"


"Aku sudah pindah."


Leo mengangguk, lalu ia membelokkan mobilnya ke arah kanan.


"Berhenti disini saja Le!"


Leo menghentikan mobilnya di depan rumah mewah bercat putih bersih, sungguh rumahnya ini jauh lebih megah dari rumah miliknya.


"Din, kamu punya hidup yang begitu enak, tapi kenapa kamu tetap kerja di cafe aku?" tanya Leo, ia dan Dinda masih berada di dalam mobil.


"Di rumah aku tidak ngapa-ngapain Le, daripada aku jenuh jadi aku kerja saja," jawab Dinda, mungkin jika Leo tahu kalau itu rumah suamiku, pasti Leo akan terkejut.


"Mandiri ceritanya, sudah malam aku langsung pulang ya," dengan lembut Leo membuka pintu mobilnya dan keluar dari dalam mobil untuk membukakan pintu mobilnya untuk Dinda.


"Masuklah!" kata Leo dengan nada lembut.


Dinda mengangguk, ia memalingkan wajahnya dan tersenyum manis pada Leo. "Terimakasih sudah mengantarku pulang," kata Dinda dengan nada lembut.


Leo mengangguk, lalu ia kembali menaiki mobilnya dan berlalu pergi dari rumah mewah itu.


Dari atas sana tatapan Reno berapi-api, melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam dan jelas dengan kedua matanya Leo melihat Dinda di antar pulang oleh seorang laki-laki.


"Ceklek," pintu kamar terbuka, Dinda masuk ke dalam kamar.


Namun sorot mata Reno langsung menatapnya dengan tajam seperti singa yang hendak memangsa mangsanya.


"Hebat ya bisa keluar masuk rumah seenaknya sendiri, kamu tahu sekarang sudah jam berapa?" sentak Reno, membuat Dinda menglidik kaget.


"Baru jam 10 malam," jawabnya dengan tubuh yang gemetaran.


"Kamu bilang baru jam 10, hey ini itu rumahku, aku tuan rumah disini, masa tuan rumah malah menunggu babunya pulang," tatapan Reno cukup tajam membuat Dinda semakin takut.


Reno berjalan mendekati Dinda, Dinda pun mundur perlahan, hingga kini ia mentok di tembok dan Reno mengunci tubuh mungilnya dengan tubuh kekarnya.


"Apa kamu sudah mulai berani?" tanya Reno sinis, ia mengangkat dagu Dinda dengan kasar.


Dinda ketakutan ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


"Lalu, siapa laki-laki yang mengatarkanmu pulang tadi? Siapa?!" sentak Reno dengan lantang.


"Dia, dia adalah,"

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2