
"Aku, beberapa hari ini,"
Dinda menatap Leo ragu-ragu, karena bingung ingin menjawab apa?
"Beberapa hari ini, kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Leo penuh perhatian.
"Emmh, iya aku sakit Le," jawab Dinda dengan gugup, rasanya berat sekali harus membohongi laki-laki sebaik Leo.
"Kenapa kamu tidak menelponku? Aku kan bisa mengantar kamu ke rumah sakit untuk periksa," ujar Leo dengan perhatian yang tulus.
"Le, ada kedua orang tuaku di rumah, mereka yang merawatku beberapa hari ini," sahut Dinda yang lagi-lagi terpaksa berbohong pada Leo.
Leo mengangguk, benar kata Dinda ada kedua orang tuanya di rumah, ya pasti Dinda tidak butuh bantuan darinya.
"Din, kamu pulang saja! Istirahat dulu sampai kamu benar-benar pulih," tutur Leo dengan nada lembut, seketika hati Dinda bergetar bahagia merasakan perhatian dari Leo. "Bahkan suamiku tidak seperhatian ini, nasib istri yang tak diinginkan," batin Dinda dalam hatinya.
"Tidak apa-apa Le, aku sudah sehat kok," ujar Dinda pada Leo.
Namun dengan penuh perhatian, Leo tetap menyuruh Dinda pulang untuk istirahat, bahkan Leo dengan senang hati ingin mengantarkan Dinda, namun dengan sopan dan tutur kata yang lembut Dinda menolak tawaran Leo.
Akhirnya setelah selesai sarapan, Dinda tidak jadi kerja dan ia bergegas berganti pakaian, lalu menaruh kembali pakaian kerjanya di loker.
"Le, aku pulang dulu ya, makasih ya," ujar Dinda pada Leo yang sudah tersenyum manis pada Dinda di depan pintu keluar.
"Sama-sama, istirahat yang cukup! Jika besok belum pulih, ingat jangan masuk kerja dulu!" Leo mengacak-acak rambut Dinda dengan lembut, mereka seperti orang pacaran namun sayangnya hanya sebatas teman.
"Apakah gajiku akan di potong?" tanya Dinda, dan berhasil membuat Leo tertawa kecil.
"Apakah selama ini aku pernah memotong gajian kamu?" canda Leo dan Dinda menggelengkan kepalanya, memang selama ini Leo tidak pernah memotong gajian Dinda, Dinda tidak masuk tanpa kabar saja Leo tidak memecatnya.
"Terimakasih bos, sana lanjutkan pekerjaan bos!" ujar Dinda sebelum pergi dari hadapan Leo.
Leo mengangguk, Dinda berlalu pergi dari hadapan Leo, Leo juga melihat Dinda hingga Dinda tidak terlihat lagi.
Setelah Dinda sudah benar-benar pergi, Leo kembali ke ruangan kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk di atas meja.
***
Di sebuah hotel mewah, Vira baru saja selesai berjumbu dengan laki-laki yang sudah tidak muda lagi, ya semua ini Vira lakukan demi uang.
"Sayang, kemarin bulan madu dengannya, kamu ngapain saja?" tanya laki-laki itu pada Vira, sambil membelai lembut pipi Vira dengan tangannya yang sudah tidak mulus lagi, iya tangannya sudah terlihat agak keriput.
"Seperti malam-malam biasanya, kita selalu gagal dan berakhir dengan tidur saja," ujar Vira dengan genit."Kenapa, apa kamu bahagia?" bisik Vira nakal.
"Tentu saja aku bahagia, rumah siputmu ini tidak sampai di nikmati oleh dia," terukir senyum nakal di sudut bibir laki-laki itu, bahkan dengan kemesuman laki-laki itu mencium bibir Vira, dengan senang hati Vira juga membalas ciuman itu.
"Emmh, sudah cukup sayang, aku harus ke rumah Reno," desisnya dan melepaskan bibirnya dari bibir lelaki itu.
Laki-laki itu memasang raut wajah kecewa, apalagi di saat benda tumpul di bawa sana sudah mulai tegang, namun Vira malah mau pergi.
Vira memakai kembali pakaiannya, sedangkan laki-laki itu masih telanjang di atas ranjang tempat tidur.
"Sayang, transfer aku uang 100 juta ya!" ujar Vira sebelum pergi.
"Buat apa? Memangnya 20 juta kemarin sudah habis?" sahut lelaki itu.
__ADS_1
"Sudah," jawab Vira singkat.
"**** lolipopku dulu, nanti aku transfer," ujar lelaki itu dengan mesum.
Tanpa menolak Vira langsung mendekati lelaki itu, lalu ia langsung mengarahkan kepalanya ke bawa sana dan siap berperang dengan lolipop yang sudah menantang itu.
"Jangankan hanya ****, di celupkan aku juga mau sayang."
"Lakukan sayangku! Aku akan menambah uangnya lagi, yang penting punyaku puas, kamu tahu punya istriku tidak seenak punyamu."
"Baiklah sayang."
Tanpa aba-aba, Vira langsung menyelupkan lolipop milik lelaki itu ke dalam rumah siputnya.
Hingga beberapa lama, akhirnya perkerjaannya itu selesai, sebelum Vira pergi lelaki itu juga langsung mentransfer Vira 150 juta.
"Puas sekali, semalaman ini wanita nakalku benar-benar hebat," ujar lelaki itu sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak sia-sia aku membayarnya mahal, apalagi apemnya legit banget," lanjutnya seraya mengelus-elus lolipopnya.
***
Setelah beberapa lama naik taksi, akhirnya Vira sampai di rumah Reno.
Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Vira langsung masuk ke dalam rumah Reno, satpam yang jaga di depan juga tidak berani melarang Vira, apalagi mereka tahu Vira adalah wanita kesayangan bosnya selama ini.
"Padahal Tuan Reno sudah menikah, tapi Nona Vira masih saja datang, kalau Nyonya besar tahu pasti akan terjadi perang dunia," ujar Tedi pada Andi.
"Biarin Ted, yang penting kita diam saja! Daripada kita harus kehilangan pekerjaan kita," sahut Andi yang tidak mau tahu.
Vira langsung masuk ke dalam kamar, ia tahu pasti Reno sudah menunggu dirinya di dalam kamarnya.
Reno duduk di tepi ranjang, ia cukup senang melihat kedatangan Vira.
"Sayang, aku rasa jalanmu agak aneh," ujar Reno yang melihat Vira jalan tidak seperti biasanya.
Deg
Vira menarik nafasnya perlahan-lahan, hatinya merasa takut, jika Reno tahu kalau semalaman ini aku habis di garap oleh laki-laki lain, pasti Reno akan marah besar, aku harus mencari alasan yang tepat.
"Iya sayangku, bagian pahaku alergi dengan CD yang kamu belikan, jadi agak lecet gitu, makanya jalan aku seperti ini," kata Vira, kalau tahu aku habis di garap oleh laki-laki lain hingga beberapa ronde, entah apa yang akan Reno lakukan padaku?
"Oh gitu, apa kamu mau ke Dokter? Biar aku antar," tanyanya dengan penuh perhatian.
"Tidak usah, aku hanya perlu kamu sayang, kamu tidak pergi ke kantor?" Vira berglendotan manja, namun Reno tidak risih, ia malah merasa senang dengan sikap manja Vira pada dirinya.
"Tadi berangkat cuma sebentar, ada Devan, nanti yang urus semuanya," ujar Reno seraya menyusupkan tangannya masuk ke dalam pakaian Vira, hingga Reno bisa menyentuh benda kenyal yang ada di dalam sana, dengan lembut Reno menekan-nekan salah satu benda kenyal itu.
"Geli sayang, jangan buat mainan!" titah Vira manja.
"Aku pingin mimi, boleh aku melakukannya?" kata Reno dengan tatapan mesumnya.
Vira menggelidik keenakan saat Reno mulai memainkan biji salaknya, ia menggelinjang senang.
"Jangan sayang, gunung kembar aku sedang bengkak karena alergi, jadi rasanya sakit," larang Vira dengan alasan yang menurutnya tepat, jika sampai di buka pasti akan berabe, apalagi bekas merah tadi malam masih berserahkan penuh di bagian gunung kembarku.
__ADS_1
"Kita nonton televisi berdua yuk di ruang tengah sambil pacaran," ajak Vira dengan manja.
Reno tampak kesal karena Vira lagi-lagi tidak menuruti keinginannya, tapi Vira terus membujuk Reno hingga akhirnya Reno mau diajak ke ruang tengah.
Kini mereka duduk di sofa ruang tengah, bahkan mereka duduk dengan posisi bersebelahan dan sambil terus berpegangan tangan dengan mesra.
"Oh iya gadis udik itu mana?" tanya Vira, yang tidak melihat sosok Dinda di rumah Reno.
"Dia pergi kerja," jawab Reno cuek.
"Kerja! Apa kamu tidak memberikan nafkah padanya?" Vira tampak kaget.
"Untuk apa?" tanya Reno malas. "Lagian dia itu bukan istri yang aku inginkan, jadi aku tidak akan memberikan nafkah materi maupun batin padanya," tukas Reno dengan tegas.
Aku tersenyum kecil mendengar jawaban Reno yang tidak lain adalah kekasihku, pada akhirnya aku lah yang akan menjadi wanita satu-satunya dalam hidup Reno, batin Vira begitu yakin.
Dengan langkah gontai seperti biasanya, akhirnya Dinda sampai di rumah, Dinda masuk ke dalam, ia pun menyapa kedua satpam penjaga rumah Reno dengan sopan.
"Nona,"
"Ada apa pak?" tanya Dinda, ia menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke sumber suara.
"Tidak apa-apa nona," jawab Andi. "Sudah jangan ikut campur, nanti Tuan Reno pasti akan marah," bisik Andi di telinga Tedy.
Tedy menganggukkan kepalanya, biarpun ia merasa kasian pada Dinda, namun ia bisa apa? Ia hanyalah seorang satpam yang tidak mau kalau sampai harus kehilangan pekerjaannya.
"Kasian Nona Dinda," dengan hati yang cukup sedih, Tedy merasa ibah pada Dinda.
"Sudahlah, doakan saja biar Nona Dinda bertemu dengan laki-laki yang tepat!" ujar Andi dan di anggukin oleh Tedy.
Melihat pintu rumah agak sedikit terbuka, Dinda langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"Apa Tuan Reno dirumah?" gumamnya dalam hati.
"Sayang, geli ih jangan lakukan itu!" kata Vira dengan manja, yang di iringi tawa kecil.
"Lagian kamu nakal," ujar Reno yang terus menciumi pipi Vira dengan gemas.
Mendengar suara yang tidak asing, Dinda terus berjalan mengikuti sumber suara.
Melihat adegan demi adegan, Dinda tercengang sambil memperhatikan dua sejoli yang sedang bercanda mesra.
"Kamu, kenapa tidak mengetuk pintu dulu? Dasar tidak punya sopan santun," tanya Reno dengan suara menggema, sorot matanya tampak penuh amarah melihat Dinda.
"Maaf tuan, saya kira tidak ada orang," lirih Dinda, tubuhnya gemetaran karena takut.
"Dasar penganggu," cetus Vira dengan sengit.
Dinda menunduhkan kepalanya, ia tidak punya keberanian cukup untuk melawan Vira dan Reno.
"Sana masak! Kita lapar," suruh Vira seenak sendiri.
"Cepat lakukan apa perintah dari Vira, ingat Vira itu calon istriku!" tukas Reno dengan tegas.
Dinda mengangguk, lalu ia buru-buru pergi menuju ke dapur untuk masak.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia