
Waktu terus berjalan, padangan mata Reno terus tertuju kepada arlojinya. "Kenapa hari ini berlalu begitu lama," lirihnya, rasanya entah ingin buru-buru pulang dan menjemput Dinda.
Dalam hati Reno, aku ini kenapa? Kenapa debaran hatiku sangat berbeda untuk gadis itu? Ada rasa yang sulit aku jelaskan, tapi itu juga jelas aku rasakan. Reno, aku rasa aku semakin gila.
Reno kembali melanjutkan pekerjaan berharap waktu cepat berlalu.
****
Di saat Reno berharap waktu berlalu cepat di sisi lain, Dinda malah sedang asik menemani Leo makan di ruangan kerjanya.
"Din, nanti malam nonton yuk!" ajaknya dengan antusias.
"Boleh, memangnya ada film bagus?" tanya Dinda dengan nada lembut.
"Ada film romantis, ya cocoklah untuk kita tonton nanti," ujar Leo dengan senyum manis.
Dinda mengangguk, tidak ada salahnya aku menerima ajakan Leo nonton. Lagian aku dan Reno kan suami-istri hanya status saja, Reno juga tidak pernah mencintaiku.
****
Kini jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dinda akhirnya selesai dengan pekerjaannya.
Reno juga sudah setia menunggu di depan cafe untuk menjemputnya.
Saat melihat Dinda berjalan keluar Reno sangat bahagia, tapi rasa bahagianya itu sesaat pudar begitu saja, karena melihat Dinda keluar bersama dengan Leo.
"Bahagia sekali dia," gumamnya dengan sorot mata kesal.
"Tot,tot," anggap saja suara klakson.
__ADS_1
Mendengar suara klakson Dinda menoleh ke sumber suara itu.
"Gadis kecil, ayo kita pulang!" teriaknya, kini sudah turun dari mobil.
Leo menatap lekat Reno, kapan laki-laki itu datang?
"Tuan, gadis kecil ini mau menonton bareng sama aku," cletuk Leo dengan sorot mata sengit.
Reno semakin menatap lekat Dinda, kini sorot matanya terlihat jelas ada sesuatu namun hanya Reno yang tahu.
"Pulang sekarang!" ajaknya dan meraih tangan Dinda dengan kasar, rasanya tidak rela jika Dinda harus jalan dengan laki-laki lain.
"Apaan sih? Aku mau pergi nonton sama Leo," ujar Dinda dan berniat mengibaskan tangan Reno tapi Reno memegang tangan Dinda dengan kuat.
"Jangan membantah, ayo kita pulang sekarang!" paksanya dan langsung menyuruh Dinda masuk ke dalam mobil.
Leo memegang tangan Dinda yang sebelah kiri, kini kedua laki-laki itu saling memegang tangan Dinda dengan kuat. "Kalau seperti ini berasa menjadi rebutan laki-laki tampan yang satu CEO yang satunya pemilik cafe," gumam Dinda dalam hati.
Lagian istri tidak di akui, giliran di dekati laki-laki lain marah-marah dasar Reno manusia bodoh.
"Tidak, dia harus pulang, ini sudah malam, tidak baik jika seorang gadis pulang kemalaman," kata Reno sewot.
"Ayo Dinda, kita pulang!"
Karena tidak mau berdebat panjang, akhirnya Dinda masuk ke dalam mobil.
"Le, maaf ya," rasanya tidak enak sekali pada Leo. Ini semua karena Reno sialan itu. Bahkan Reno langsung mengunci jendela mobilnya agar Dinda tidak bisa melihat wajah tampan Leo.
Belum sempat Leo menjawab kata-kata Dinda, Reno sudah melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1
Di dalam mobil kini terasa hening, Dinda tampak marah pada Reno.
"Kamu itu sudah punya suami, ingat tidak usah jalan dengan laki-laki lain," titah Reno tegas.
Deg
Dinda membulatkan matanya, dia saja bisa jalan dengan wanita lain, tapi giliran aku mau jalan dengan laki-laki lain dia malah marah-marah, dasar orang stress.
"Ingat, aku ini istri yang tak di inginkan," dengan tegas Dinda mengingat akan statusnya dirinya saat ini.
"Tetap saja kamu itu sudah bersuami," sahut Reno tegas.
Dinda diam, sesampainya di rumah, Dinda langsung masuk ke dalam kamar, Reno juga melakukan hal yang sama.
Di kamar mereka juga uring-uringan, untung saja mama Ria sudah tidur.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Dinda dan Reno sama-sama membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kini mereka sudah tidur satu ranjang, tapi malam ini mereka tidur dengan posisi saling membelakangi.
****
Malam yang semakin larut, Leo terdiam sendirian di kamarnya.
"Sebenarnya laki-laki itu siapa?"
"Dinda memanggilnya tuan, tapi dia bersikap seperti dia itu lebih dari ahh sudahlah, tapi sebenarnya laki-laki itu siapa?"
"Aku mencintai Dinda, aku harus mendapatkan Dinda."
Kekeh Leo, dengan cara apapun Leo akan menjadikan Dinda menjadi kekasihnya, jika bisa jadikan istrinya.
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia