Istri Yang Tidak Di Inginkan

Istri Yang Tidak Di Inginkan
Menjadi istri yang diinginkan


__ADS_3

"Status apa mas?" tanya Dinda agak deg-degan.


"Mulai sekarang kamu akan akan menjadi......"


"Menjadi apa mas?"


Reno menatap Dinda dengan sorot mata lembut, sungguh ini membuat Dinda terpaku dengan ketampanan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya ini.


"Menjadi, istri yang aku inginkan," kata Reno yang diiringi senyum bahagia.


Dinda tersenyum bahagia, Reno memeluk Dinda, kini keduanya berpelukan mesra dan tepuk tangan meriah mengiringi kebahagiaan mereka.


"Ciuman!!!"


"Ayo cium!!"


"Reno, tunggu apalagi sikat!!" teriak Devan dengan suara lantang dan itu membuat Reno malu tapi ya itulah Devan, manusia paling riweh tapi baik hati.


"Udah Ren, langsung ajak ke kamar, terus unboxing!!" timpal Handi cengar-cengir, suaranya tak kalah lantang dari Devan.


Dinda dan Reno saling melepaskan pelukannya, kini mereka saling menatap penuh senyum.


"Jangan dengarkan orang-orang gila itu, mereka karena terlalu lama jomblo saja," lirih Reno dan Dinda mengangguk pelan.


"Hayo lahh ciummm!!!" teriak Farhan, membuat Devan dan Handi langsung setuju dan mereka bertiga bertriak dengan suara paling lantang.


"Apakah aku boleh," dengan ragu-ragu Reno mengutarakan hal yang sulit ia katakan.


"Boleh apa mas?" tanya Dinda bingung, semakin deg-deggan.


"Men ci uum kamu," jawab Reno dengan gugup, ia juga tak kalah deg-deggan.


Dinda tersenyum malu-malu, ia menganggukkan kepalanya pertanda mengizinkan Reno untuk mencium bibir mungilnya.


"Apakah ini akan sakit?" bisiknya di telinga Reno, membuat Reno ingin tertawa tapi ia menahan tawanya. "Menggemaskan sekali, apa dia belum pernah berciuman dengan seorang jantan?" batin Reno dalam hati.


"Tidak akan sakit, karena aku tidak akan mengigit bibirmu, aku hanya menciumnya saja," balas Reno berbisik.


Tanpa menunggu abah-abah dari Reno, Dinda memejamkan kedua matanya. Debaran hatinya semakin kencang, aliran darahnya terasa begitu cepat, seperti apakah rasanya ciuman? Itu yang sedang Dinda pikirkan di dalam otaknya.


Saat Dinda sudah memejamkan kedua matanya di tataplah lekat oleh Reno, perlahan-lahan dengan debaran hati yang tak kalah kencang, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Dinda, lalu mensejajarkan tingginya setinggi tubuh Dinda, maklum Reno lebih tinggi dari Dinda dan Dinda itu pendek, ia juga mungil.

__ADS_1


Di raihlah dagu Dinda, lalu di angkatnya dengan lembut, tanpa menunggu lama, Reno menempelkan bibirnya dengan lembut di bibir Dinda.


Saat merasakan sesuatu di bibirnya, Dinda perlahan-lahan membuka kedua matanya. Ia tampak terkejut, ternyata bibir Reno sudah menempel di bibir mungilnya.


Kini keduanya saling menatap dalam-dalam, Reno dengan hati-hati memperdalam ciumannya, membuat Dinda agak kuwalahan karena sebelumnya belum pernah melakukan hal seperti ini, kagok rasanya.


Suara tepuk tangan memenuhi ruangan, semuanya bersorak bahagia melihat kedua sejoli itu saling berciuman.


Devan, hampir saja ngeces itu ilernya. Nasib jomblo, masa harus cium tembok.


Handi menelan ludahnya dengan kasar, Reno kamu akan melepas masa keperjakaanmu, lalu aku kapan? Entahlah, kapan itu terjadi, calon saja belum punya.


Farhan, malah senyam-senyum, ia cukup menikmati pemandangan yang ada di depannya saat ini, bahkan tanpa sadar ia dari tadi mengerepe pantat Devan, astaga ini anak sangean banget sih.


Ketiga laki-laki tampan itu memang konyol saat sedang bersama-sama, untung saja Reno tidak ada di antara mereka, coba kalau ada pasti bakal di bully habis-habisan para jomblo karatan itu.


****


Beberapa jam telah berlalu, akhirnya acara besar yang di adakan oleh Reno selesai juga.


Ria langsung pulang ke rumah dengan supir pribadinya, lalu Devan, Handi, Farhan, mereka pergi ke rumah Farhan untuk nonton film terbaru bersama.


Sedangkan dua sejoli yang sedang kasmaran ini, sudah berada di hotel pribadi Reno dengan kamar khusus pengantin baru, iya biarpun kata pengantin baru itu sudah terlambat untuk mereka tapi tak apalah masih sama-sama segelan ini.


****


"Reno sedang ngapain iya?" kata Devan, sambil bengong.


"Sedang buka segelah," celetuk Handi dengan yakin.


"Kalau bahasa kerennya sedang unboxing," timpal Farhan dengan tawa kecilnya.


"Daripada kita nonton film, bagaimana kalau kita cari pacar saja?" tawar Devan antusias, ia mikir di usianya yang sudah sangat matang ini kenapa tidak nikah-nikah? Sungguh, aku benar-benar akan menjadi jomblo karatan seperti apa kata si kunyuk Reno itu.


Farhan dan Handi mengalihkan pandangannya dari televisi, kini mereka berdua menatap ke arah Devan dengan tatapan serius.


"Mau cari dimana, Dev?" tanya Handi serius.


"Iya mau cari dimana, Abang Devan?" Farhan tak kalah bingung, tapi dia juga tidak menolak di ajak mencari pacar.


"Ayo ikut denganku!" ajak Devan, ia mematikan film yang sedang mereka tonton.

__ADS_1


Kini Devan mengajak kedua sahabatnya itu, entah kemana? Yang jelas mau cari pacar malam ini juga. Handi dan Farhan juga hanya menurut saja, saat ini mereka sudah seperti anak buah yang patuh dengan bos nya.


***


Di saat para sahabatnya sibuk mencari pacar, entah mereka mau mencari dimana?


Di malam ini Reno tampak berbunga-bunga, kini Reno dan Dinda baru selesai mandi dan mereka tampak serasi dengan setalan cauple baju tidur warna biru dongker yang malam ini mereka pakai, tentu saja ini adalah baju tidur pilihan Dinda, baju tidur dengan lengan panjang, padahal Reno sudah memilihkan lingerie yang sexy untuk Dinda, tapi katanya Dinda malu, akhirnya Reno malah nurut pada Dinda untuk memakai baju tidur cauple.


Kini keduanya sudah berada di atas ranjang tempat tidur. Dan mereka saling diam satu lain, apa yang akan di lakukan Mas Reno malam ini? Pikir Dinda dalam hatinya.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Reno memberikan kode, namun entah apakah Dinda akan mengerti dengan kode yang ia berikan.


"Haah, siap untuk apa mas?" Dinda malah kaget, ia menatap Reno bingung.


"Siap untuk mas unboxing," ujar Reno tanpa berbelit.


Dinda malah diam, lalu tiba-tiba ia tertawa membuat Reno malah kebingungan.


"Kenapa tertawa, apa ada yang lucu?" tanya Reno, gemas sekali pada istrinya.


"Lagian mas bilang mau unboxing aku, memangnya aku paketan?" tawa Dinda semakin kencang.


Reno menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kenapa dia bisa sepolos ini? Apa dia tidak tahu bahasa keren jaman sekarang?


"Sayang, bukan unboxing itu," jelas Reno pelan-pelan.


"Lalu unboxing apa mas?" tanya Dinda dengan nada lembut. Ia juga sudah menghentikan tawanya.


"Yang di bawa itu," kedua mata Reno menatap bagian Dinda, membuat Dinda semakin bingung tapi ia tertawa kecil karena malu.


"Mas apa itu namanya unboxing?" Dinda bertanya dengan suara kecil.


"Bahasa kerennya istriku," dengan genit Reno mengedipkan satu matanya.


Ihh sungguh Reno membuat Dinda semakin panas, ia juga antara deg-deggan dan bingung.


"Ayo!!" ajaknya dan Dinda mengangguk.


Akan sehot apa unboxing dua sejoli malam pengantin yang terlambat ini?


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2