
"Ren, apa yang kamu lihat sih?" tanya Vira, yang dari tadi memperhatikan Reno.
"Tidak ada sayang, kamu sudah makannya? Ayo kita lanjut belanja," jawab Reno yang tidak mau mengakui kalau dirinya sedang memperhatikan Dinda dengan seorang laki-laki.
"Sudah, baiklah ayo kita belanja!" ajak Vira dengan antusias.
Vira dan Reno langsung menuju ke mall yang ada di hotel itu, sesampainya di mall seperti biasanya Vira begitu antusias belanja cukup banyak dan tentunya habisnya itu tidak puluhan juta lagi, melainkan ratusan juta, namun dengan senang hati Reno membayar belanjaan Vira tanpa melakukan protes, bagi Reno yang penting Vira bahagia. Biarpun habis ratusan juta ia tidak masalah, yang penting Vira tidak ngambek.
***
Bima dan Dinda masih berada di taman hotel, mereka asik mengobrol.
"Kruyukkk!!!"
Seketika Dinda merasa malu, kenapa di saat seperti ini cacing-cacing di perutnya tidak bisa diajak kompromi. "Sungguh kalian berbunyi di saat yang tidak tepat, aku malu sekali," batin Dinda dalam hatinya.
"Apakah itu bunyi cacing-cacing di perutmu?" tanya Bima seraya menyunggingkan senyum terbaiknya, Dinda mengangguk malu-malu.
"Ayo kita makan! Kebetulan aku juga lapar," ajak Bima dengan senang hati.
"Tidak usah, aku lupa membawa dompetku soalnya, aku makannya nanti saja di kamar," tolak Dinda dengan sopan, padahal ia tidak punya uang dan ada ATM pun ia tidak tahu pin ATM nya, malang sekali nasibku menjadi istri laki-laki kaya namun perut saja kelaparan.
"Aku yang tlakir hari ini, anggap saja ini sebagai tanda pertemanan kita," kata Bima pada Dinda.
"Baiklah," jawab Dinda, ia menerima ajakan Bima karena saat ini ia merasa lapar sekali, sedangkan kartu ATM yang diberikan oleh Reno, Dinda tidak tahu no PINnya, daripada mati kelaparan, ya apa salahnya menerima ajakan dari Bima?
Bima dan Dinda sama-sama beranjak dari tempat duduk mereka, lalu mereka bergegas pergi menuju ke restoran hotel untuk makan.
Mereka memesan makanan, hingga beberapa lama makanan mereka akhirnya datang juga, sembari menikmati makanannya mereka juga mengobrol-obrol kecil.
__ADS_1
***
Cuaca terlihat begitu mendung, sepertinya akan turun hujan.
Dinda terdiam sendirian sambil melihat langit yang semakin gelap, lalu ia mendaratkan bokongnya di kursi yang dekat jendela sambil terus menatap langit.
Tiba-tiba hati Dinda bergemuruh merasakan sakit karena nasib hidupnya yang entah akan seperti apa?
Di saat ia sudah menikah dan saat ini sedang bulan madu, aturan ia bahagia, namun bukannya bahagia ia hanya bisa menelan pahitnya kehidupan, melihat laki-laki yang sudah menikahi dirinya malah berbulan madu dengan wanita lain.
"Tuhan, kenapa nasibku malang sekali?" keluhnya.
"Aku harus menjadi istri yang tak di inginkan, aku harus melihat suamiku bersama dengan wanita lain, gini amat hidupku." lanjutnya sedih, air mata juga tetes demi tetes telah jatuh membasahi pipi mulusnya.
Dengan hati yang tidak baik-baik saja, Dinda memejamkan matanya, ia berusaha kuat namun buliran air mata akhirnya jatuh membahasi kedua pipi mulusnya. "Padahal hujannya belum turun, tapi malah air mataku yang deras duluan," batinnya dalam hati, segera Dinda menghapus air matanya, ia tidak ingin menjadi wanita yang lemah, kita lihat saja siapa yang duluan akan nyerah? Atau jatuh cinta lebih dulu, jika kamu bisa berpacaran, aku juga bisa, aku tidak lupa statusku hanyalah istri yang tak diinginkan, tukasnya dalam hatinya.
***
Reno juga sudah kembali aktif masuk kantor lagi sedangkan Dinda juga sudah berangkat kerja ke cafe, iya dia bekerja di cafe milik temannya sekolah.
Dinda bekerja sebagai pengantar makanan, iya pikir Dinda daripada nganggur, lagian kalau Dinda tidak kerja juga tidak akan ada yang memberikan uang, apalagi Reno, memberikan ATM saja tidak memberitahu pin ATM nya. Lalu setelah pulang bulan madu, ATM nya juga langsung di minta dari Dinda, bahkan Dinda tidak mengunakan sedikitpun uang yang ada di dalam ATM milik Reno itu.
Dinda melangkahkan kakinya dengan gontai, ia menelusuri setiap jalan untuk berangkat ke cafe tempatnya bekerja.
"Biarpun aku di nikahi oleh laki-laki kaya raya, namun itu bukan jaminan untukku bahagia, karena kenyataannya hidupku ya menyedihkan." Lirihnya dalam hati.
Sambil berjalan Dinda hanya bisa meratapi nasibnya yang malang.
Sesampainya di cafe, Dinda langsung masuk ke dalam cafe, lalu ia bergegas untuk berganti pakaian dengan seragam kerja.
__ADS_1
Dinda terlihat cantik dengan setelan kerja dengan atasan kaos warna putih dan di padukan dengan rok pendek warna hitam.
"Din," sapa seorang.
"Leo, ada apa?" tanya Dinda, melihat Leo yang tiba-tiba datang.
"Sudah sarapan?" tanya Leo penuh perhatian.
Dinda tersenyum kecil, ia menatap Leo dengan lembut. "Belum, tadi aku buru-buru takut terlambat," ujar Dinda pada Leo.
"Ini sarapan dulu!" Leo memberikan kotak bekal yang ia bawa untuk Dinda, padahal itu di siapkan khusus oleh ibunya untuk sarapan, namun Leo selalu saja memberikan kotak bekalnya pada Dinda dengan senang hati.
Dinda menatap Leo ragu-ragu, membuat Leo membalasnya dengan senyuman tipis. "Terima Din! Tidak usah merasa tidak enak padaku, kita kan teman," paksa Leo dan Dinda akhirnya menerima kotak bekal yang berisi makanan dari Leo.
Leo adalah laki-laki yang sangat baik, tubuhnya yang kekar dan senyumnya yang manis, tentu saja banyak gadis cantik yang terpikat oleh ketampanan Leo, namun Leo hanya tertarik pada Dinda seorang, tapi Leo tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Dinda dari dulu sampai sekarang, namun ia selalu memberikan perhatian lebih untuk Dinda, dengan alasan kalau mereka ini teman, padahal sebenarnya Leo berharap lebih namun Leo tidak punya keberanian dan hanya bisa memendam perasaannya sampai sekarang.
Leo juga pemilik cafe tempat Dinda bekerja, makanya Dinda kadang tidak enak hati jika Leo sering sekali memberikan bekal dari rumah yang Leo bawa untuk dirinya, perhatian lebih Leo pada Dinda, itu juga kadang membuat para pekerja yang lainnya iri, apalagi melihat kedekatan Dinda dan Leo, kadang juga banyak yang tidak suka.
"Lihat tuh sih Dinda, setiap pagi pasti sudah cari-cari perhatian sama Bos Leo," ujar salah satu rekan kerja Dinda.
"Nina, kamu kan tahu mereka teman satu sekolah, sudahlah ayo kita mulai kerja!" ajak Nesa, yang enggan menggibah di pagi hari.
Sebelum mulai kerja, Dinda dan Leo sarapan bersama sambil ngobrol.
"Dinda, kamu kemana saja? Kok beberapa hari ini tidak masuk kerja?" tanya Leo, membuat Dinda tiba-tiba merasa gugup, karena tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan dari Leo itu?
"Aku, beberapa hari ini ,"
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia