
Entah apa yang akan terjadi di dalam nanti?
Dengan nakal Vira mendorong tubuh kekar Reno ke sofa, lalu ia duduk di pangkuan Reno dengan posisi ngangkang, jari-jari lentiknya bermain-main di wajah tampan Reno.
Bukannya merasa senang atau bahagia, Reno malah merasa jijik dan ingin sekali muntah. Namun Reno tetap tenang dan berusaha bermain cantik.
"Sayang, bukannya kamu menginginkan hal ini sejak lama?" godanya dengan bisikan nakal.
Rasanya Reno jijik sekali dan ingin muntah mendengar kata-kata Vira, mungkin sangat menginginkannya tapi sekarang, siapa juga mau dengan bekas papanya sendiri? Berdekatan saja jijik, apalagi harus saling belai membelai, aku rasa aku akan muntah-muntah.
"Vir, ini di kantor jaga sikapmu," dengan cepat Reno menahan bibir Vira saat Vira hendak mencium bibirnya.
Vira melirik-lirikan matanya karena kesal, sejak kapan Reno peduli dengan tempat saat mereka hendak memadu kasih, perasaan baru kali ini saja. Aku yakin Reno pasti menyembunyikan sesuatu dariku, tapi itu apa?
"Reno, kamu itu kenapa sih?" tanya Vira, dengan mesra ia menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Reno.
Dalam hati Reno, ingin sekali berbuat kasar pada Vira, namun tidak ia lakukan karena belum menemukan bukti yang nyata.
"Tidak apa-apa," jawabnya cuek.
Mendengar jawaban Reno yang cuek, Vira mendengus kesal, kini kedua matanya menatap lekat kedua mata Reno.
"Kenapa? Apa karena gadis tidak tahu diri itu, kamu berubah tiba-tiba pasti karena dia kan," tuduhnya dengan yakin.
"Berhenti menyalahkan Dinda, dia tidak ada halangannya dengan hubungan kita," dengan kesal Reno membela Dinda.
Seketika Vira turun dari pangkuan Reno dengan kasar.
"Apa jangan-jangan kamu mulai menyukai gadis tidak tahu diri itu," tuduhnya lagi dengan entengnya.
"Vira, aku masih banyak pekerjaan, aku hanya ingin memenangkan diri saja, lebih baik kamu pulang saja!" titah Reno dan langsung mengatar Vira keluar dari dalam ruangan kerjanya.
Setelah Vira keluar, Reno kembali menutup pintu ruangan kerjanya, lalu ia duduk di kursi kerjanya.
Devan berdiri di ambang pintu ruangan kerjanya, ia bahagia menyaksikan Vira yang lagi-lagi di abaikan oleh Reno.
"Cie, kusut amat mukanya, sudah seperti kain lap saja," sindir Devan dengan sengaja.
"Dasar jomblo berkarat, selalu saja muncul dimana-mana," balas Vira sinis.
"Daripada ladangnya mau di airin sama siapa saja, mending jomblolah terhormat dan satu lagi aku masih suci loh," cibir Devan dengan jail, ia memang suka sekali mencibir Vira. Apalagi Devan tahu Vira itu seperti apa? Tapi ya Reno saja yang terlalu buta karena cinta.
"Jaga mulutmu! Dasar brengsek," cetus Vira marah.
"Vira, aku bicara kenyataan, aku tidak sebodoh Reno yang bisa kamu tipu dengan rayuan manismu," dengan senyum terukir tawa kecil di sudut bibir Devan.
Karena sudah sangat merasa kesal, Vira berlalu pergi begitu saja meninggalkan Devan masih berdiri di ambang pintu ruangan kerjanya.
"Kenapa aku selalu bertemu dengan Devan, dasar brengsek," gumam Vira seraya berjalan menuju ke mobilnya.
__ADS_1
Di saat Vira sudah berlalu pergi, tiba-tiba Reno datang ke ruangan Devan. Membuat Devan cukup kaget, karena tidak biasanya Reno datang ke ruangannya.
"Ada apa?" tanya Devan, ia duduk di sebelah Reno.
"Tadi mantap-mantap tidak dengan Vira?" tanya Devan dengan kepo.
"Kamu saja! Dev, dia bekas papaku, mending aku sama Dinda yang jelas-jelas masih suci," ujar Reno dan tanpa sadar menyebutkan nama Dinda.
"Cie, sekarang saja Dinda, dulu saja Vira, Vira dan Vira, tidak bisa sehari tanpa Vira," cibir Devan dengan jail.
"Dev, aku rasa kamu harus segera mencari kekasih deh, aku tidak mau kamu gila," cetus Reno dengan nada kesal.
"Reno, aku akan mencari kekasih tapi tunggu kamu menemukan arah hidup yang benar dulu, biar aku tenang," katanya dengan begitu ibah.
"Hey brengsek, apa selama ini hidupku salah arah?" tatapan Reno sangat buas, membuat Devan mengeryit pura-pura takut.
"Bukan salah arah sih, lebih tepatnya salah jalan," pungkas Devan yang diiringi tawa ngakak.
"Sama saja bodoh," sahut Reno semakin kesal.
"Ren, aku lapar, kita makan yuk!" ajak Devan, ia mengelus-elus perutnya seperti orang sedang hamil.
Reno tersenyum, seketika terpancar ide cemerlang di kepalanya.
"Kita makan di cafe tempat Dinda kerja tapi," ajaknya dengan antusias.
"Lama-lama kamu terkena sindrom Dinda, sekarang sedikit-sedikit Dinda, Dinda dan Dinda," ledek Devan dengan jail.
Kini mereka berdua langsung berjalan menuju ke parkiran mobil, mereka naik mobil Reno dan langsung pergi menuju ke cafe tempat Dinda kerja.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, akhirnya Reno dan Devan sampai di depan cafe.
Mereka berdua sama-sama turun dari dalam mobil, dengan gaya cool dan kerennya Reno membenarkan dasinya, Devan juga memakai kaca mata hitam.
Mereka langsung berjalan masuk ke dalam cafe, dengan langkah yang beriringan.
Mata para pelanggan semuanya tertuju pada Reno dan Devan saat melihat mereka semua.
"Keren sekali."
"Lihat, tampan sekali."
"Ayo kita dekatin, apakah mereka jomblo?"
"Entahlah, namun mereka datang berdua."
Para gadis muda yang sedang nongkrong di cafe, mereka saling kagum mengagumi ketampanan Reno dan Devan.
Leo yang baru saja keluar dari dalam ruangan kerjanya, ia tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Bukankah itu laki-laki yang waktu itu datang menjemput Dinda," lirihnya dan otaknya mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
Reno dan Devan duduk di satu meja, mereka duduk dengan posisi saling berhadapan.
"Maaf tuan, mau pesan apa?" tanya pelayan cafe.
"Pesan dua cappucino, lalu roti bakar isi coklat, terus dua menu makanan utama di cafe ini," kata Reno.
"Baik tuan, mohon di tunggu," jawab sang pelayan cafe dengan sopan.
Leo berjalan menghampiri Dinda, membuat Dinda kaget karena Leo tiba-tiba berdiri di belakangnya, sungguh Leo itu memang seperti siluman suka sekali muncul tiba-tiba.
"Din, itu ada laki-laki yang waktu itu datang menjemput kamu," ujar Leo dengan nada lembut.
Deggg
Jantung Dinda tiba-tiba berdetak kencang. "Siapa, apakah Tuan Reno yang datang?" batinnya dalam hati.
"Siapa Le?" tanya Dinda penasaran, ia takut dugaannya salah, lagian mana mau Tuan Reno yang seperti kulkas mau datang ke cafe tempat kerjanya, aku rasa tidak mungkin. Tepis Dinda dalam hatinya.
"Itu Din," dengan jari telunjuknya Leo menunjukkan laki-laki yang di maksud.
"Haah, benar dia," dengan kedua mata yang melotot Dinda tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. "Itu benar Tuan Reno," batinnya dalam hati.
Reno mencari-cari sosok Dinda secara diam-diam.
"Setiap kali aku datang ke cafe ini, pasti laki-laki itu selalu dekat-dekat dengan Dinda, sebenarnya laki-laki itu siapa sih?" lirihnya dengan sorot mata kesal.
Devan yang tertarik, ia mengikuti sorot mata Reno.
"Siapa sih Ren?" tanya Devan penasaran.
"Itu laki-laki yang berdiri di dekat sebelah istriku," jawab Reno dan menunjukkan Dinda dan laki-laki yang di sebelahnya.
"Cie, sekarang istri," cibir Devan dengan jail.
"Kan memang Dinda itu istriku," sahut Reno tegas.
"Istri yang tak di inginkan maksudnya," timpal Devan dengan nada kecil.
Reno melirik Devan kasar, membuat Devan menahan tawanya.
"Katanya bosnya, tapi mereka tampak akrab," gerutu Reno dengan nada kesal.
"Mungkin mereka,"
"Diam kamu, ayo kita samperin mereka!" ajak Reno seraya memotong kata-kata Devan.
Entah apa yang akan terjadi?
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia