
Jam menunjukkan pukul 3 pagi, ponsel Devan berdering dan Devan mengangkat telpon itu, lalu menaruh ponselnya tepat di telinganya.
"Halloo...." terdengar suara Devan sangat mengantuk.
"Hallo Tuan, saya ingin mengabari kalau yang punya ponsel ini mengalami kecelakaan dan dia meninggal di tempat kejadian, korbannya langsung di bawa ke rumah sakit xx yang terdekat dari tempat kejadian," kata seorang laki-laki dari seberang sana.
Devan sangat kaget, ia pun membuka kedua matanya lebar-lebar dan melihat siapa yang menelpon dirinya dengan jelas? "Handi," gumam Devan gusar.
"Maaf ini siapa? Apa yang anda katakan?" tanya Devan dengan serius. Ia langsung membuka kedua matanya lebar-lebar, samar-samar ia mendengar kata laki-laki dari sebrang sana karena masih sangat mengantuk.
"Saya yang menolong korban dan korban terakhir kali menghubungi no ini, di sini tertulis nama Devan Sahabat," jelas laki-laki dari sebrang sini.
"Ini yang punya ponsel mengalami kecelakaan, ia meninggal di tempat dan sudah di bawa ke rumah sakit xx," lanjut laki-laki itu memberitahu kepada Devan.
"Handiii, saya akan segera kesana Pak, terimakasih ya Pak," kata Devan mengakhiri panggilannya.
Laki-laki itu merasa sangat lega karena akhirnya bisa menghubungi orang terdekat dari korban, tadi saat menolongnya ia tampak gusar tapi beruntunglah banyak orang-orang naik motor, naik mobil dan orang-orang di sekitar langsung menolong Handi, biarpun keadaannya sudah tidak bernyawa lagi.
Kecelakaan yang begitu tragis di alami oleh Handi, ia menyetir dalam keadaan mabuk, saat ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tiba-tiba ada truk yang berlawanan arah dan Handi berniat menghidari truk itu namun naas, mobilnya malah menghantam sebuah pohon besar di pinggir jalan hingga Handi tak sadarkan diri, di bagian kepalanya juga mengalami pendarahan mungkin karena sebuah benturan yang sangat keras.
Devan langsung bergegas menuju ke rumah sakit, ia juga tidak menyetir sendiri, ia mengunakan supir pribadinya, saat di mobil Devan langsung menelpon, Reno, lalu menelpon Farhan mengabari kabar duka ini pada mereka.
****
Reno tampak lemas setelah menerima kabar duka dari Devan, ia terdiam dan mengingat malam tadi kenangan terakhir bersama dengan Handi.
"Handi, kamu meminta kita mengambil foto selfie, lalu kamu ingin membuat itu sebagai kenangan, Han bukan kenangan ini yang aku mau. Kita kan akan menceritakan semua cerita kita pada anak-anak kita nanti, tapi kenapa kamu malah pergi untuk selamanya?" tangis Reno pecah, buliran air mata membanjiri kedua pipinya.
__ADS_1
Mendengar suara isakan tangis, Dinda tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan ia menatap suaminya yang saat ini sedang menangis.
"Mas, kamu kenapa?" Dinda membenarkan posisinya menjadi duduk, lalu ia memegang bahu suaminya dengan lembut.
"Handi pergi......" hanya itu yang keluar dari dalam mulutnya Reno, tangisannya juga semakin deras.
"Handi pergi kemana? Kok Mas Reno nangis?" Dinda tidak mengerti, ia kembali bertanya dengan nada lembut.
"Handi pergi untuk selamanya," lanjutnya Reno lemas.
Dinda mengelus-elus punggung Reno, berharap Reno sabar di tinggalkan oleh Handi.
"Ayo ikut Mas ke rumah sakit, Devan dan Farhan juga sedang ke rumah sakit, kasian Handi," kata Reno dan Dina mengangguk.
Dinda langsung berganti pakaian dengan dress warna hitam, Reno juga memakai setelan kemeja hitam dan celana warna hitam. Mereka langsung berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit sudah ada Farhan dan Devan, mereka juga menangis.
"Ren, jenazah sedang di urus oleh pihak rumah sakit," kata Devan pada Reno.
"Kamu sudah kabari orang tuanya?" tanya Reno pada Devan.
"Sudah Ren, aku menelpon orang tuanya pakai ponselnya Handi," jawab Devan terdengar suaranya sangat sendu.
Farhan juga menangis, dia lebih banyak diam karena sangat sedih kehilangan salah satu sahabat dekatnya.
Setelah beberapa jam akhirnya jenazah Handi siap untuk di bawa pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Di rumah Handi sudah ada kedua orang tuanya yang sangat sedih menunggu kedatangan jenazah putranya kesayangan, mereka tidak ke rumah sakit karena Devan, Farhan dan Reno yang mengurus semuanya di rumah sakit.
Nissa dari tadi terus menangis, laki-laki yang katanya mau menikahinya kini pergi untuk selamanya dan kata-kata yang pernah di ucapkan kini tinggal kenangan.
"Mas Handi, kenapa kamu begitu cepat meninggalkanku?" lirih Nissa dalam hatinya, buliran air mata terus keluar dari kedua matanya.
Kedua orang tua Handi juga dari tadi menangis, kehilangan anak satu-satunya itu membuat kedua orang tua Handi sangat terpukul sekali.
Pagi menunjukkan pukul 7 akhirnya jenazah Handi sampai di rumahnya, semuanya turun dari dalam ambulan, Reno, Devan, Farhan dan Dinda, mereka ikut di dalam ambulan dan mobil mereka di urus oleh supir-supir mereka.
Lista juga ada di situ, Farhan menghubunginya tadi saat perjalanan menuju ke rumahnya Handi.
Di rumah mewah Handi saat ini hanya ada tangis kesedihan dari para sahabatnya, keluarga besarnya dan kedua orang tuanya.
Setelah semua siap jenazah Handi langsung di bawa menuju ke makam untuk di makamkan.
Reno, Devan dan Farhan langsung ikut turun tangan langsung untuk memakamkan jenazah Handi, Dinda dan Lista setia mendampingi Nissa yang saat ini begitu sedih.
Ucapan belasungkawa tidak lupa mereka ucapkan kepada kedua orang tuanya Handi, kedua orang tua Handi juga tidak mengucapkan terimakasih kepada Reno dan yang lainnya.
Setelah selesai pemakaman, semuanya mendoakan almarhum Handi, mereka pun semuanya pulang.
Kita semua tahu kalau yang ada di dunia ini pasti semuanya akan di panggil sama yang maha kuasa.
Handi sudah pergi untuk selamanya, kini tinggal para sahabatnya yang akan mengenangnya, Nissa yang di tinggalkan begitu saja, begitu cepat semuanya itu berlalu tapi semua ini sudah takdir dan hanya bisa ikhlas.
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia