
"Mama, ada apa?" tanya Restu dengan nada lembut.
Reno dan Dinda berada di belakang Ria.
Entah apa yang akan terjadi nanti? Bagaimana nanti nasib Restu?
Reno dan Dinda yang biasanya saat bertemu dengan Restu meyalami tangannya saja kali ini tidak, Reno saat ini sedang sangat kecewa pada papanya. Begitu juga Dinda, sebagai menantunya ia sangat tidak rela mama mertuanya yang begitu baik di sakiti hatinya.
"Kamu tanya ada apa?" tatapan Ria cukup dalam pada Restu. "Mas ini adalah perusahaanku, lalu kamu siapa? Kamu di sini hanya menumpang," ujarnya dengan sinis.
"Menumpang, aku yang mengelola semuanya," sahutnya tidak terima, bertahun-tahun aku mengembangkan perusahaan ini, lalu sekarang Ria bilang aku hanya menumpang, enak saja.
"Kamu kerja di sini di gaji mas, semua pemilik sah perusahaan ini aku, jadi kamu hanyalah seorang karyawan saja," tukas Ria dengan lantang.
"Lalu kamu mau apa?" tanya Restu dengan suara menggema.
"Aku mau mengambil alih perusahaan ini, aku juga akan meminta cerai darimu." Ria berusaha kuat, ia menahan air matanya agar tidak sampai terjatuh.
"Itu tidak akan terjadi," dengan sorot mata tajam Restu menatap Ria.
"Aku sudah siapkan pengacara, surat pemecatanmu juga sudah siap, jadi aku harap kamu mengerti, kamu itu orang miskin yang aku punggut namun kamu lupa akan itu," cecar Ria dengan hati yang cukup bergumuruh.
"Maka saat ini juga aku akan kembalikan kamu ke asalmu dulu," lanjutnya dengan tegas.
Restu mematung, ia tak berkutik sedikitpun dan hanya diam.
"Ria, maafkan aku," lirihnya dengan nada memelas.
"Aku sudah memaafkanmu, tapi semuanya juga tidak akan berubah," jawab Ria dengan tegas.
__ADS_1
"Pengacaraku sudah datang, mari kita selesaikan semuanya hari ini," ujar Ria dengan nada menekan.
Dua laki-laki gagah kini sudah berada di ruangan itu, mereka adalah pengacara khusus Ria yang akan mengurus semuanya nanti.
"Mereka siapa ma? jika mereka pengacara untuk apa ma?" tanya Restu pada Ria.
"Mereka pengacaraku, mereka yang akan mengurus perceraianku dengan kamu mas," jelas Ria.
"Aku tidak akan menceraikanmu Ria," ujar Restu tegas.
"Aku yang akan menceraikanmu Restu, aku akan menceraikanmu dengan kasus perselingkuhan kamu dengan gundikmu itu," pungkas Ria tidak mau kalah.
"Reno, katakan pada mamamu, kalau papa khilaf," dengan hati yang tidak baik-baik saja, Restu berusaha meminta bantuan Reno.
"Khilaf, sudahlah pa, memang papa pantas untuk mendapatkan semua ini. Wanita sebaik Mama tega papa sakiti hatinya," tolak Reno tegas. Biarpun kamu adalah papaku tapi aku lebih sayang pada mama, aku akan selalu melindungi mamaku, beliau adalah wanita hebat.
"Itu bukan,"
Dengan berat hati Restu menerima surat pemecatannya itu.
"Anda tahukan pintu keluar sebelah mana? Silahkan keluar!" titah Ria kasar, hatinya cukup sakit mengingat penghianatan yang di berikan oleh Restu, goresan luka itu cukup dalam. Bahkan rumah tangga yang diarungi beberapa tahun lamanya kini berakhir sudah.
Setelah Restu berlalu pergi dari ruangan itu, Ria berbicara pada kedua pengacaranya dan mereka paham, kini mereka berdua juga pamit.
Kini di ruangan itu tinggalah Ria, Reno dan Dinda.
Ria terduduk lemas di sofa, Dinda terus memegang erat tangan mama mertuanya, ia tahu mamanya saat ini sangat butuh sandaran.
"Reno, kamu juga seorang laki-laki, jangan pernah melakukan penghianatan kepada istrimu, cukup mama saja yang merasakan karena itu rasanya sangat pedih dan sakit sekali," lirihnya tapi di dengar oleh Reno dan Dinda, buliran air mata terus berjatuhan di kedua pipi mulus Ria.
__ADS_1
"Mama, jangan nangis!" pinta Dinda, dengan kedua tangannya ia menghapus air mata yang membasahi kedua pipi mama mertuanya.
Hati Reno begitu tersayat, mengingat sampai saat ini dia sudah menikah tapi tega menjalin hubungan dengan kekasihnya, tapi sudah putus sejak kejadian malam menjijikkan itu.
"Mama, aku janji aku akan menjadi laki-laki yang setia, aku akan mencintai satu wanita untuk selamanya," kata Reno dan ia memeluk sang mama dengan erat.
Karena entah ada dendam apa Vira pada keluarga Reno, kini keluarga Reno yang selama ini begitu harmonis akhirnya hancur juga.
****
Dengan langkah berat Restu berjalan kaki menelusuri trotoar pinggir jalan, mobilnya sudah di ambil oleh Ria.
Dalam hati Restu, aku menyesal sudah melakukan hal bodoh, aku lupa akan asal-usulku jika bukan karena menikah dengan Ria, aku hanyalah orang miskin yang tidak punya apa-apa, bahkan untuk makan setiap hari saja susah. Tapi di saat gelimangan harta mencukupi hidupku, aku lupa akan semuanya, aku tergiur dengan gadis cantik karena servisnya, aku lupa Ria lah yang selama ini memberikan aku semuanya.
Aku khilaf, aku salah, aku minta maaf. Semuanya hilang dalam sekejap, anak, istri dan menantuku, semuanya pergi meninggalkan aku. Kini aku harus kemana?
Restu mengeluarkan dompetnya, ia melihat ada beberapa kartu dan uang cash ada 1 juta di dalam dompetnya. "Aku masih punya ini, aku akan menggunakan untuk hidupku ke depannya," batin Restu dalam hatinya.
Melihat ada ATM di pinggir jalan, ia menghentikan langkah kakinya dan masuk ke dalam ATM itu.
"Aku akan ambil beberapa uang untuk menginap di hotel," gumamnya lirih tapi penuh semangat.
Restu memasukan ATM nya ke mesin ATM dan ternyata ATM nya sudah terblokir. "Ria kamu tega sekali, uang miliaran di dalam tabunganku, kamu blokir juga," pekiknya dengan kesal.
Restu mencoba kartu lainnya dan hasilnya sama, sungguh tega kamu Ria.
Akhirnya dengan langkah gontai Restu kembali berjalan menelusuri jalanan, ia tidak tahu mau kemana?
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia