Izinkan Aku Mencintaimu

Izinkan Aku Mencintaimu
Episode 26: Nasihat


__ADS_3

...🖤🖤🖤...


...~~...


...🖤🖤🖤...


"Ayo berangkat." Ajak Rellys. Virzha tak bergeming. "Kak, ayo berangkat." Rellys mengulang kalimatnya. "Aku nggak akan berangkat kalau kamu lesu gitu." Ujar Virzha. Rellys menghela nafas panjang. "Iya iya. Aku nggak apa-apa kok cuman capek aja." Rellys berbohong. "Ok." Virzha menancap gas pergi dari Kampus Rellys yang juga sebenarnya Kampus Tessa. Tapi, Tessa saat ini memang sedang mengambil cuti.


"Ellys, teman kamu yang waktu itu ke rumah namanya siapa sih?" Tanya Virzha penasaran. Rellys yang berada di jok belakang tak kunjung menjawab pertanyaan Virzha. "Llys, Ellys!" Seru Virzha. Karena tak kunjung dijawab Virzha berniat menjahili Rellys. Ia sengaja mempercepat mengendarai motornya dengan ngebut. Membuat Rellys yang tidak berpegangan dan sedang melamun sontak memeluknya dari belakang.


"Aduh, kakak kenapa tiba-tiba ngebut sih. Aku mau jatuh tau." Protes Rellys. Virzha tidak menjawab. "Kak. Kakak!" Seru Rellys sambil menarik jaket yang dikenakan Virzha. Dia memang selalu mengenakan jaket atau sweater jika di luar rumah.


"Kak!" Seru Rellys lantang di dekat telinga Virzha. "Apa?" Tanya Virzha santai tanpa rasa bersalah. "Tadi kok tiba-tiba ngebut? Kalau aku jatuh gimana?" Rellys kembali protes. "Kamu yang seharusnya jangan melamun terus. Dari tadi dipanggil nggak nyahut sama sekali." Virzha membalikkan fakta.


"Oh kakak manggil aku ya. Maaf deh." Ucap Rellys tertawa kecil. Ia tersadar bahwa sedari tadi dia masih memeluk tubuh Virzha dari belakang. Rellys tak berniat melepaskan pelukannya sama sekali. Toh Virzha juga tidak protes.


Rellys melihat jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul 16:55 sore.


...🍰🍰🍰...

__ADS_1


Malam harinya, Rellys memiliki janji dengan Virzha lagi. Kali ini, mereka memilih pergi ke danau yang mereka kunjungi waktu itu. Danau itu memang sangat sepi. Bahkan bisa dibilang sepertinya hanya mereka berdua yang ada di danau tersebut.


"Kak!" Seru Rellys. "Tadi kakak pas di motor manggil aku mau ngomong apa?" Tanya Rellys penasaran. Virzha teringat akan pertanyaannya tadi sore. Ia menggeleng singkat. "Bukan apa-apa." Jawabnya. "Oh." Meskipun penasaran, Rellys memilih untuk tidak membahasnya lagi.


'Kring...kring...kring' Ponsel Rellys berdering. Ia merogoh nya dan melihat nama Ranzy tertera di sana. Senyum Rellys langsung merekah mengetahui sahabatnya yang menelepon.


"Iya, halo." Rellys terkejut saat tiba-tiba Virzha menarik ponselnya dan memutuskan sambungan telepon. "Yah kak kok dimatiin?" Protes Rellys. "Bukan panggilan penting kan?" Jawab Virzha santai. "Bukan sih. Tapi itu kan dari Ranzy." Aku Rellys.


"Llys, kamu harusnya menghargai orang. Kalau lagi sama orang lain, jangan terima telepon orang dong. Kayak nggak menghargai banget. Kecuali kalau telepon penting." Nasihat Virzha. "Sejak kapan ada peraturan kayak gitu?" Tanya Rellys. "Nggak ada. Tapi pokoknya kalau lagi sama aku jangan terima telepon sembarangan. Kecuali telepon penting dan telepon dari Tessa." Pinta Virzha yang membuat Rellys jengkel.


Rellys membuang muka dan melipat tangannya di dada. "Ayo pulang." Ajak Virzha. "Tapi kak, Rellys masih mau..."


"Ish, apaan sih? Marah-marah mulu." Protes Rellys di belakang yang masih bisa didengar Virzha.


Rellys merasa matanya sudah memberat di jok belakang. Kepalanya pun berkali-kali hampir terjatuh menabrak punggung Virzha. Dengan hati-hati Rellys memeluk Virzha dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Virzha.


Kini mereka telah sampai di depan rumah Rellys. Virzha yang merasa Rellys tertidur turun dari motor pelan-pelan. Ia takut akan membangunkan Rellys. Virzha menahan kepala Rellys. Perlahan, ia mengangkat tubuh Rellys menuju rumahnya. "Kenapa kamu selalu tidur di mana-mana sih? Untung ada aku kalau nggak, gimana coba?" Bisik Virzha pelan. Ia mengetuk pintu rumah Rellys. Tak butuh berapa lama, bi Ipah membuka pintu dan terkejut melihat Virzha yang sedang mengangkat tubuh Rellys.


"Nak Virzha?"

__ADS_1


"Sst.." Virzha menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Pelan-pelan bi ngomongnya. Nanti Rellys bangun lagi." Pinta Virzha dengan suara pelan. "Ya udah kalau gitu. Makasih nak Virzha udah perhatian sama neng Rellys. Ngomong-ngomong, nak Virzha nggak mau masuk dulu?" Tawar bi Ipah. Virzha menggeleng. Tentu saja karena hari sudah malam. Tidak mungkin baginya mampir pada malam hari begini kan.


"Nggak usah bi. Saya langsung pulang aja. Besok aja saya ke sini." Tolak Virzha. Ia menyerahkan Rellys pelan-pelan pada bi Ipah. Sementara bi Ipah memapah tubuh Rellys dengan sangat hati-hati.


...🖤🖤🖤...


...~~...


...🖤🖤🖤...


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalau kalian suka 😘😘

__ADS_1


__ADS_2