
"Terimakasih Mas...",ujar Fani saat Fero membantunya untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Ya sayang...",jawab Fero tersenyum begitu hangat pada sang istri.
"Kamu gak ke kantor?", tanya Fani saat melihat suaminya itu belum juga bersiap.
"Gak sayang...ada Roby yang mengurus perusahaan.Aku akan bekerja dari rumah saja karena aku gak bisa lagi tenang bekerja karena hitungan bulan kehamilan kamu sudah mendekati lahiran",jawab Fero.
"Gak apa apa Mas...lagian aku belum merasakan sakit kok",jawab Fani sembari berpakaian.
"Kesinilah!",ujar Fero yang duduk di bibir tempat tidur memangku laptopnya.
Dengan langkah pelan Fani menghampiri sang suami.Wanita hamil besar itu makin kesusahan untuk berjalan cepat.Mungkin faktor kehamilan kembar yang membuat perutnya sendikit lebih besar dari kehamilan pada umumnya.
"Ada apa Mas?", tanya Fani mendudukkan bokongnya dengan pelan disebelah sang suami.
"Aku tak ingin terjadi sesuatu saat aku jauh dari kamu sayang.Aku ingin menjadi suami yang siaga untuk kamu.Lagian aku juga sudah meminta Papa untuk menggantikan aku jika sewaktu-waktu ada meeting penting",jawab Fero.
"Ya Mas...aku hanya tidak ingin dikira manja",ujar Fani.
"Kenapa memangnya.Manja pun kamu siapa yang melarang jika masih manja padaku.Itu sudah kewajibanku memanjakan kamu sayang", jawab Fero mengusap lembut perut Fani.
"Ayo kita sarapan Mas.Mommy pasti sudah menunggu",ujar Fani.
"Baiklah sayang, apakah mereka saat ini juga kelaparan?",tanya Fero saat membantu Fani untuk berdiri.
"Ya..."
"Mas..."
"Ya sayang,ada apa?",tanya Fero menggengam tangan sang istri dengan penuh kelembutan.
"Apakah aku gendut banget?",ujar Fani membuat Fero terdiam.Pertanyaan menjebak dari sang istri yang ia tau bakalan berujung pada pertengkaran.
__ADS_1
Fero tersenyum lalu mengecup lembut kening sang istri."Bagaimanapun bentuk tubuh kamu aku tak peduli.Kamu sudah merelakan rahim kamu untuk mengandung anak anakku.Jadi aku akan menerima kamu apa adanya.Kamu saat ini mungkin bobotmu bertambah,itu karena ada dua anak kita diperut kamu.Jika nanti mereka sudah lahir kamu bisa diet lagi jika kamu gak nyaman dengan bentuk tubuh kamu.Tapi asal kamu tau aku cinta sama kau bukan karena itu tapi hati kamu",jawab Fero panjang lebar.
"Terimakasih Mas.Aku hanya takut nantinya kamu melirik yang lain yang lebih seksi dari aku karena aku gak selangsing yang dulu",ujar Fani.
"Pemikiran macam apa itu, hum?. Untuk menjadikan kamu sebagai istriku tidak mudah bagaimana bisa aku melirik yang lain hanya untuk perkara itu.Dan menurutku kamu itu sangat seksi dengan perut buncitmu ini sayang",jawab Fero yang gemas dengan istrinya itu.
"Apaan sih Mas...",kesal Fani.
"Dan jauh lebih seksi jika kamu m******* dibawah kungkunganku", bisik Fero.
"Mas...", pekik Fani dengan muka merah merona.
"Apa,hum?",kekeh Fero yang begitu bahagia melihat wajah merona sang istri.
"Hai...kamu apakan putri Mommy,Fero?", tanya Arini saat melihat menantunya terlihat begitu kesal.
"Gak ada kok Mom,hanya menggodanya saja",jawab Fero cuek lalu membantu sang istri untuk duduk.
"Daddy mana Mom?",tanya Fero tak melihat ayahnya dimeja makan kali ini.
"Oh..."
"Makan yang banyak sayang",ujar Fero lembut pada sang istri.
"Ya Mas..."
"Ish...",ringis Fani.
"Kenapa sayang?",tanya Fero melihat ringis sang istri.
"Mas...aku pipis...", lirih Fani saat merasakan ada sesuatu yang mengalir dari area intinya.
Arini langsung mendekati sang menantu."Ya ampun sayang, ketuban kamu udah pecah.Fero ayo cepat siapkan mobil", teriak Arini.
__ADS_1
"I-iya Mom...",jawab Fero yang langsung berlari menuju garasi.
"Perut kamu sakit gak sayang?", tanya Arini pada Fani membantu sang menantu untuk berjalan.
"Sedikit Mom...",lirih Fani berusaha mengatur nafasnya.
"Sayang ayo",ujar Fero langsung membopong tubuh Fani menuju mobil.
"Mas..turunin aku tuh berat", pekik Fani.
"Diamlah sayang...",ujar Fero dengan lembut lalu mendudukkan Fani dikursi penumpang.
"Pak...tolong nanti minta pelayan bawakan koper berisi pakai baby yang ada dikamar Fero ya", teriak Arini pada kepala pelayan sebelum akan memasuki mobil.
"Ayo Fero... buruan!", teriak Arini pada Anaya anak.
"Iya Mom...",jawab Fero menjalankan mobilnya.
"Mommy akan telfon pihak rumah sakit untuk menyiapkan persalinan Fani",ujar Arini mengeluarkan ponselnya.
"Mom...sakit",lirih Fani mencengkram erat jok mobil menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan.
"Sabar sayang.... sebentar lagi kita sampai",bujuk Arini menyimpan kembali ponselnya kedalam tas.
"Fero...lebih cepat Nak", teriak Arini.
"Ini sudah cepat Mom",jawab Fero sesekali melirik sang istri dari spion mobilnya.
"Mas ...sakitttt...",lirih Fani.
"Iya sayang... kita hampir sampai",jawab Fero.
"Mas....."
__ADS_1
...****************...