
Rellys membuka pintu kala mendengar ketukan di pintu rumahnya. Ia mengerutkan kening sejenak. "Ranzy?"
"Kenapa, kaget liat aku?" Ranzy berdiri melipat tangan di dada, seperti menginterogasi. "Nggak. Nggak sama sekali. Kenapa emangnya?" Tanya Rellys.
"Nggak apa-apa sih." Jawab Ranzy singkat. "Oh." Rellys tampak melamun sambil menatap ke bawah. Seperti seseorang yang sedang banyak pikiran.
"Ehem, aku nggak disuruh masuk, nih? Nggak sopan loh, tamu di biarin mengering di luar." Sindir Ranzy yang bingung dengan perubahan ekspresi Rellys.
"Eh, ya udah, masuk dulu!" Rellys membuka pintu lebar dan membiarkan Ranzy masuk. Ia membiarkan pintunya tetap terbuka.
Rellys duduk di samping Ranzy yang duduk di sofa. Ia kembali menatap ke bawah. "Ok, sekarang kasih tau aku, alasan kamu nggak ke kampus akhir-akhir ini? Apa karena Amanda?" Ranzy membuka obrolan.
"Hah? Nggaklah. Aku sama dia udah baikan kok. Udah nggak ada masalah lagi." Jelasnya. "Terus kenapa? Kamu juga kelihatan nggak mood gitu." Ia penasaran akan mood sahabatnya yang sepertinya sedang tidak baik.
__ADS_1
Rellys menghela napas sejenak. "Kamu pernah suka sama orang yang udah punya dimiliki seseorang, nggak?" Tanya Rellys tiba-tiba. Ranzy tampak diam sejenak. "Ya." Jawabnya yakin.
"Dan orangnya itu kamu, Llys. Aku tau, di hatimu sama sekali nggak ada aku."
"Dan, orang itu adalah pacar dari orang terdekat kamu. Gimana coba perasaan kamu kalau jadi dia?" Tanya Rellys lagi. Ranzy mengernyit. "Kamu kenapa tiba-tiba nanya gini? Nggak biasanya kamu bahas soal percintaan gini. Kamu... Lagi suka sama seseorang, ya? Siapa orangnya?" Tebak nya.
Rellys menggeleng cepat. "Nggak. Aku... aku cuman lagi ngomongin tentang temanku." Jelasnya berbohong.
"Teman? Teman kamu yang mana? Emang kamu punya teman selain aku?" Ranzy membuat Rellys tak bisa berkata.
"Mm, adalah. Emang teman aku cuman kamu doang. Ya, dia emang nggak deket sih sama aku. Tapi, dia tiba-tiba curhat gitu loh." Jelasnya salah tingkah.
Ranzy terkekeh. "Hahaha. Curhat? Yang bener aja. Siapa yang mau curhat sama cewek cupu kayak kamu?" Ia tertawa keras. "Ranzy, maksud kamu apa?" Rellys memukul dada Ranzy kesal.
__ADS_1
"Kamu kan, cupu kalau masalah percintaan." Ledek Ranzy lagi, membuat Rellys kesal sendiri. Ia mencoba menahan kekesalannya.
"Udah ah, nggak usah bahas itu." Ia menyerah. "Jadi, dia tuh suka sama pacar dari kakaknya." Rellys melanjutkan cerita. Ranzy berusaha mendengarkan dengan serius.
"Dan parahnya lagi, pas dia diajak ke rumah calon kakak iparnya itu, orang tua calon kakak iparnya itu selalu nanya soal kakaknya yang statusnya adalah calon istri kakak iparnya itu." Tuturnya penuh keseriusan.
Ranzy tampak berpikir sejenak. Ia bahkan sampai mengusap dagunya dan melirik Rellys beberapa kali. "Wah, kalau kayak gini kasusnya sih, rumit. Beneran rumit banget. Baru kali ini, aku denger cerita serumit ini di dunia nyata. Biasanya cerita gitu tuh, cuman ada di novel-novel." Tanggap nya.
Rellys manggut-manggut. "Mm, menurut kamu, dia harus hilangin perasaan itu, atau tetap pertahanin cinta buat calon kakak iparnya?" Tanya nya hati-hati. Ia menelan ludah. Takut jawaban Ranzy akan membuatnya harus mengambil keputusan.
Ia sudah memutuskan, jika jawaban Ranzy adalah tidak mendukung perasaannya untuk Virzha, maka ia akan mengakhiri hubungan nya dengan Virzha.
"Mm, belum jadi kakak ipar sungguhan, kan? Menurut aku kalau gitu, mending biarin aja dulu perasaannya kalau emang belum bisa dihilangkan. Takut nanti tambah sakit hati. Yang penting, sikap dia jangan berlebihan aja ke calon kakak iparnya itu. Dan jangan terlalu menganggap kalau dia diperlakukan spesial sama calon kakak iparnya." Saran Ranzy.
__ADS_1
Rellys tersenyum lebar. "Wah, Ranzy. Sejak kapan kawanku ini bisa sebijak ini? Kupikir, selama ini temanku bodoh." Pujinya menepuk pundak Ranzy bangga. Ranzy mencibir dan mengusap punggungnya yang ditepuk oleh Rellys. Seperti menghapus jejak tangan Rellys di sana.
"Mm, ya udah deh. Akan ku coba." Gumam Rellys sedikit lebih yakin. "Hah, kamu apa?" Tanya Ranzy. "Eh, ng... nggak." Rellys tergagap. Ia tidak sadar telah bergumam di depan Ranzy dengan suara yang cukup bisa didengar oleh sahabatnya itu.