
Rellys berpamitan pada om Thomas dan tante Yuli. Ia memeluk dan cipika cipiki dengan tante Yuli. "Rellys pulang dulu ya, tante. Mm, nanti kapan-kapan, Rellys ceritain tentang Kak Tessa lagi." Janjinya.
"Iya. Hati-hati, sayang." Ucapnya. Rellys melirik Virzha sejenak. "Biar ku antar." Tawar Virzha. Ia meraih sweater dan mengenakannya. "Mm, nggak usah, kak. Aku bisa pulang sendiri kok." Tolak Rellys.
"Nggak. Aku nggak akan izinin kamu pulang sendiri." Ujarnya menatap Rellys dengan mata tajam nya.
"Mm, tapi kak..."
"Rellys, benar kata Virzha. Kamu nggak boleh pulang sendiri apalagi malam-malam gini. Nggak baik apalagi buat cewek." Sambung tante Yuli dan disetujui oleh om Thomas.
Rellys menatap ketiga orang di hadapannya dan mengangguk pasrah. "Ya udah, deh. Kalau gitu, aku pamit ya, om, tante. Ayo kak!" Virzha melangkah mengikuti di belakang Rellys.
"Pepet terus!" Bisik Thomas menahan tangan Virzha. Virzha menatapnya bingung sebelum kembali menyusul Rellys yang sudah berjalan di depannya.
Ia mencekal tangan Rellys ketika mereka sudah berada di halaman rumahnya. "Ellys, kamu nggak apa-apa?" Tanyanya entah kenapa. Rellys mengernyit. "Maksud kakak? Emang aku kelihatan sakit atau gimana?" Meski ia tahu maksud dari pertanyaan Virzha.
Ia melepas tangannya dari Virzha dan berjalan menuju motor yang terparkir.
Ia meraih helm yang diberikan Virzha dan mengenakannya. Ia bersiap menaiki motor.
__ADS_1
"Ellys, maaf ya kalau kamu tersinggung. Aku cuman cerita yang sebenarnya tentang Tessa." Ungkap Virzha tiba-tiba. Rellys tersenyum. "Nggak apa-apa, kak. Aku justru senang ceritain tentang Kak Tessa ke calon mertuanya." Ucapnya. Virzha hanya menghela napas panjang sebelum melajukan motornya ke arah rumah Rellys.
Sepanjang perjalanan mereka, hanya diisi oleh keheningan. Tak ada yang membuka percakapan.
Sesampainya di rumah Rellys, ia turun dan melepas helm yang ia kenakan. "Mm, makasih banyak ya, kak, untuk hari ini." Ucapnya tersenyum tipis. Virzha tampak memandangi rumah Rellys.
Rellys menghela napas sejenak. "Mm, kakak langsung pulang aja. Biar langsung istirahat."
"Kamu ngusir aku?" Tanya Virzha menyelidik. Rellys menggelengkan kepala. "Nggak. Aku cuman nyuruh kakak cepat-cepat istirahat. Kakak pasti juga capek. Aku aja capek banget." Jelasnya pelan.
Virzha mengangguk paham. "Aku ngerti. Kamu juga harus langsung istirahat. Jangan ke mana-mana lagi." Pintanya penuh perhatian. Rellys hanya mengangguk mengerti.
"Mm, sampai jumpa, kak. Aku masuk dulu, ya. Mau langsung istirahat. Aku capek." Ia berjalan dengan cepat memasuki rumahnya. Virzha memandangi pintu rumah Rellys yang sudah tertutup.
"Apa aku ngelakuin kesalahan?"
Setelah sekitar dua menit ia berada di sana, ia akhirnya melajukan motor pulang ke rumah.
Rellys menggeser kembali tirai jendela yang ia manfaatkan untuk memperhatikan seseorang di luar sana.
__ADS_1
Ia terduduk di ranjang dengan pikiran penuh. "Kak Tessa, maafin aku. Aku minta maaf, kak." Ucapnya mulai menangis. "Maaf udah merebut kak Virzha dari kakak." Rellys terus menyalahkan dirinya yang serakah karena merebut kekasih kakaknya sendiri. Ya, kakaknya yang menyayanginya.
Ia mendudukkan diri di tepi ranjang sembari memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya di lutut dengan tangisan akan perasaan bersalah.
Tok tok tok
Rellys menghentikan tangisnya sejenak. Ia mendongak menatap pintu kamarnya.
"Neng Rellys! Neng baik-baik aja?" Sapa suara bi Ipah.
"Aku baik-baik aja, bi." Yakinnya.
"Oh, baguslah. Kalau gitu, neng nggak mau makan dulu?"
"Aku udah makan, bi. Udah kenyang juga." Rellys menolak tawaran bi Ipah bukan karena kenyang karena telah menikmati makanan di rumah Virzha. Hanya saja, ia sedang tidak berselera.
"Oh, oke. Kalau gitu bibi permisi." Bi Ipah menjauh dari kamar Rellys. Ia sedikit bingung karena Rellys tak biasanya menolak makanan. Tidak peduli ia sudah makan atau belum. Dan setahu bi Ipah, selama ia melayani di rumah Rellys, gadis itu juga tak pernah mengucapakan kata 'kenyang' seperti tadi. Namun, ia tetap berpikiran positif.
Mungkin, Rellys memang sedang tak berselera. Ditambah lagi, ia juga pasti sudah mengantuk dan kelelahan sepulang dari perjalanan bersama Virzha. Apalagi, ini sudah malam.
__ADS_1