
"Iya Nyonya...",jawab pelayan yang ada di dapur.
"Tolong bikinin salad buah sama sandwich ya,ingat bahan bahannya harus bersih.Karena ini untuk ibu hamil",ujar Arini.
"Baik Nyonya",jawab pelayan dan langsung mengerjakan sesuai perintah.
Arini membantu menyiapkan bahan bahan yang akan digunakan.Dia ingin memastikan makanan yang dikonsumsi oleh sang menantu dijamin sehat dan aman untuk kehamilan Dea.
Setelah selesai Arini meminta pelayan ingin membawakan makanan itu kepada sang menantu yang berada di ruang keluarga.
"Nah...ini untuk kamu sayang...",ujar Arini yang datang bersama pelayan.
"Mom...apa ini?,aku tak meminta apapun",jawab Fani.
"Ya...tapi ini bentuk kepedulianku pada kehamilanmu",ujar Arini.
Fani menatap salad buah dan sandwich berisi sayuran dengan bibir tersenyum tipis."Terimakasih Mom...",jawab Fani.
"Ya sayang...makanlah!",ujar Arini.
Dea mengambil sepotong sandwich lalu memakannya.
Hoek
"Kenapa sayang?",tanya Fero.
Fani berlari kecil ke dapur menahan rasa mual yang datang saat mencicipi sandwich yang ia makan.
"Sayang kamu kenapa?",tanya Fero mengikuti langkah Fani.
Hoek Hoek Hoek
Fani menumpahkan kembali makanan yang baru saja ia makan di westafel.
"Perut baku tiba tiba mual saat memakan sandwich tadi Mas",ujar Fani lirih.
__ADS_1
"Ya sudah...kalau gitu gak usah makan ya jika mual",jawab Fero memijit pelan tengkuk Fani.
"Fani kenapa Fero?",tanya Arini menyusul anak menantunya ke dapur.
"Mual Mom,saat memakan sandwich tadi",jawab Fero membersihkan sisa muntahan di mulut Fani.
"Ya sudah jangan dimakan lagi",ujar Arini.
"Maaf Mom aku gak bisa memakan makanan buatan Mommy",ujar Fani lirih.
"Tak apa sayang.Jika mual untuk apa di makan.Maaf jika Mommy gak tau jika kamu gak menyukainya",jawab Arini.
"Bukan aku gak suka Mom..tapi entah kenapa tadi tiba-tiba saja mual",ujar Fani.
"Wajar nak... kamu hamil muda.Ada kehidupan baru disini dan masih asing.Tubuh kamu memerlukan waktu untuk terbiasa",jawab Arini mengusap perut rata Fani.
"Ya sudah...kamu istirahat dulu sana", sambung Arini.
"Aku bawa Fani ke kamar dulu Mom...",ujar Fero.
***
"Mas...aku gak enak sama Mommy,tapi--
"Gak apa apa sayang.Itu bukan mau kamu tapi mereka",jawab Fero mengecup perut rata Fani.
"Mommy gak marah sama aku kan Mas?",tanya Fani.
"Kamu kenapa,hum?.Tiba tiba parno an begini?",jawab Fero.
"Gak tau Mas...aku takut aja Mommy mengira aku gak menghargai makanan buatannya",ujar Fani.
"Mana ada seperti itu sayang",jawab Fero menangkup pipi Fani dengan kedua tangannya.
"Mas...
__ADS_1
Hoek
Fani kembali berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Sayang--
"Jangan dekat dekat Mas,mau tubuh kamu bikin aku mual",ujar Fani.
Fero menciumi aroma tubuhnya."Gak kok sayang", jawab Fero.
"Tapi aku mual Mas...", rengek Fani kembali menumpahkan isi perutnya.
Fero tak bisa melakukan apapun untuk mengurangi rasa mual yang dialami Fani walau sekedar memijit tengkuk sang istri.Itu dikarenakan sang istri mual kian berdekatan dengannya.
Fero duduk dengan muka masam di depan televisi karena ia tak bisa bermanja-manja dengan istrinya itu.
"Tuh muka kenapa ditekuk",ledek Arini.
"Gak...",ketus Fero.
"Fani mana?",tanya Arini.
"Kamar...",jawab Fero.
"Kenapa gak ditemani?",tanya Arini.
"Gimana caranya Mom,dekat aku aja dianya mual", jawab Fero.
"Hahahaha...gimana rasanya di hindari sang isi saat lagi bucin bucinnya,hum?",ledek Aliando terkekeh kecil.
"Tau ah...",kesal Fero.
"Itu biasa terjadi Fer, nikmati aja.Nanti juga bakalan hilang sendirinya",ujar Arini.
"Ya Mom...
__ADS_1
...****************...