
...🖤🖤🖤...
...~~...
...🖤🖤🖤...
Pagi ini Rellys berjalan dengan lebih santai. Wajahnya menunjukkan aura ceria. Meskipun sebenarnya ia sedikit gugup untuk hari ini. Ya, ia akan mencoba mengikuti saran Virzha. Rellys menuju kelas dengan senyum yang terukir lebar di wajahnya.
"Hai, Ranzy." Sapa nya. Seperti biasa, ia merangkul pundak Ranzy dan mengajaknya ke kelas bersama. "Hari ini kamu kenapa? Kelihatan ceria banget." Ranzy mendongak. Rellys menggeleng. Ia menaruh ranselnya di kursi. Kepalanya celingukan mencari seseorang. Karena tak menemukan orang yang dicari, Rellys mendekat pada Ranzy.
"Zy, Amanda ke mana?" Tanyanya berbisik. Ranzy menggeleng tanpa menoleh. Ia sibuk dengan buku di tangannya. "Nggak hadir kali." Jawabnya singkat. Rellys mendelik. Ia kembali ke kursinya.
__ADS_1
...🍰🍰🍰...
Rellys menuju kelas Tian. Ia melihat Tian terlihat tengah berkumpul sambil bersenda dengan teman-temannya. Rellys menghela nafas. Ia berjalan menghampiri Tian. Teman-teman Tian termasuk Tian terdiam sesaat. Mereka semua menatap Rellys. Tak terkecuali Tian. Ia heran mengapa Rellys menghampirinya kali ini.
Rellys memilih tidak peduli dengan tatapan teman-teman Tian. Toh, ia memang sudah terbiasa ditatap seperti itu oleh kaum pria maupun wanita karena kecantikan alami yang dimilikinya. Ea, pede bangett.
Rellys mendekatkan tubuhnya pada Tian. "Aku tunggu kamu di taman belakang." Bisiknya lalu pergi meninggalkan kerumunan teman se-gengnya Tian. "Gue duluan ya." Pamitnya langsung menyusul Rellys ke taman belakang. Ia melihat Rellys yang duduk di Gazebo tempat biasa ia duduk.
"Kenapa?" Tian bertanya dengan masih berdiri. "Duduk." Pinta Rellys menunjuk sampingnya dengan dagu. Tian ikut duduk di samping Rellys. "Kenapa panggil aku?" Tanyanya tanpa menoleh. Rellys menatap wajah Tian. "Maaf." Ucapnya pelan. "Maaf untuk apa?" Tanya Tian lagi.
"Iya, nggak apa-apa, udah ya." Tian bangkit berniat menyusul teman-temannya. "Tian, tunggu!" Rellys menahan lengan Tian. Ia membalikkan tubuh Tian dengan hati-hati. "Tian, makasih karena udah mau maafin aku. Maaf karena aku udah salah paham tentang kamu." Ucap Rellys tulus. Kali ini, ia menatap dalam mata Tian. Baru kali ini, ia bersedia menatap matanya. Biasanya ia akan selalu menghindar.
__ADS_1
Tian melepas tangannya dari Rellys. "Nggak apa-apa, selama ini kamu emang nggak pernah paham tentang aku." Ia menatap Rellys lebih dalam. "Selama ini, kamu juga nggak pernah ngerti kan apa yang aku mau?" Nada bicara Tian mulai naik. "Iya kan?" Tekannya. Ia mengguncang pelan bahu Rellys.
Rellys menggeleng. Tian menghela nafas panjang. "All i want is you."
"Aku cuman pengen kamu. Setidaknya kalau nggak bisa, aku cuman pengen lihat kamu bahagia bahkan walaupun dengan laki-laki lain." Nada bicaranya kembali seperti semula.
Mata Rellys mulai berkaca-kaca. Dalam hati, ia menyesal tidak bisa membalas perasaan Tian. Lelaki yang tulus mencintainya. Rellys pikir, selama ini perasaan Tian untuknya hanya obsesi. Seperti lelaki lain yang pernah mendekatinya.
"Maafin aku." Rellys terisak pelan. Tian memeluknya hangat. Rellys tak berniat menolaknya. Ia terisak pelan di pelukan Tian. Bersamaan dengan itu, Virzha menghentikan motornya di parkiran yang mengarah langsung ke tempat mereka saat ini. Tentu saja ia melihat dengan jelas adegan itu. Virzha hanya dapat membuang muka.
...🖤🖤🖤...
__ADS_1
...~~...
...🖤🖤🖤...