
Rellys menyadari bahwa memang benar ia yang salah. Ia yang salah menganggap bahwa Virzha telah membuka hati untuknya setidaknya sedikit.
Ia juga salah karena telah berpikir bahwa Virzha memperlakukannya dengan spesial. Padahal bisa jadi, Virzha melakukannya karena Rellys adalah adik dari kekasihnya yang harus ia jaga.
Tapi...
💞💞💞
~ "Llys, aku mungkin emang belum bisa menerima cinta kamu. Tapi, i will give you a chance. Percaya sama aku."
~ "Kenapa pakai sweater? Aku nggak kedinginan kok." Ujar Rellys polos. "Nggak apa-apa. Cuman, nggak baik seorang gadis pakai baju pendek malam-malam lagi."
~ Rellys tersenyum lebar. Ia melepas tangan Virzha dan berputar-putar di tengah hujan. Sedangkan Virzha hanya bisa tersenyum melihat tingkah Rellys yang seperti anak kecil.
Perlahan Virzha mendekatkan tubuhnya pada Rellys. Ia membalikkan tubuh Rellys menghadapnya. Ia memegang kedua pinggang Rellys dan menyandarkan kepalanya pada kepala Rellys.
Keduanya terdiam dalam posisi seperti itu selama beberapa detik. Rellys dan Virzha memejamkan mata sama-sama menikmati momen seperti ini. Virzha tersadar dan membuka mata. Ia mengusap pipi Rellys.
~ "Aku mau minum kopi, tapi buatan mu." Rellys mengernyit mendengar kalimat Virzha. "Maksudnya?" Tanyanya tak mengerti. "Aku mau minum kopi buatan kamu, Ellys." Virzha berkata sekali lagi. Rellys tertawa pelan. "Nggak takut malah asin lagi nih?" Rellys mengingatkan kejadian tempo hari. Saat ia membuatkan kopi untuk Virzha.
"Nggak apa-apa, aku malah mau yang asin kayak waktu itu." Rellys kembali menatap heran pada pemuda di hadapannya ini. "Iya, aku kangen sama kopi asin buatan mu."
~ 'Cup'
Ucapan Rellys terpotong saat Virzha dengan cepat mengecup keningnya dan melajukan motor tanpa mengucapkan apapun lagi.
💞💞💞
"Tapi... Perhatiannya selama ini, apa nggak berlebihan kalau cuman sebatas adik?"
__ADS_1
"Llys, Rellys! Weh, kok bengong gitu?" Ranyz melambai-lambaikan tangan di depan wajah Rellys yang tak kunjung sadar dari lamunannya.
"Llys, kamu ngapain bengong gitu?" Ranzy mengguncang lengan Rellys yang langsung tersadar. "Udah bangun?" Tanyanya yang membuat Rellys mengernyit. "Hah? Bangun apaan?"
"Bangun dari mimpi." Ujar Ranzy ngegas. "Hah, mimpi? Emang aku tidur?" Tanyanya yang hanya dibalas helaan napas oleh Ranzy. "Ya kamu kenapa bengong aja dari tadi? Aku panggil-panggil juga nggak nyahut. Lagi mikirin apa, sih?" Tanya Ranzy tak sabar.
"Ng... nggak lagi mikirin apa-apa." Kilah Rellys. "Bohong. Kalau nggak mikirin apa-apa nggak mungkin kamu..."
"Ellys!" Ranzy dan Rellys menoleh ke arah sumber suara. Rellys dengan cepat berdiri dari sofa. "Mm, kak Virzha. Kak Virzha ngapain..." Virzha menarik tangan Rellys untuk berdiri di sampingnya. Ia menatap Ranzy datar.
"Pacarnya Rellys udah datang. Aku pikir, urusan kalian udah selesai. Silahkan pulang." Virzha merentangkan tangannya mempersilakan Ranzy pulang.
Ranzy segera berdiri dari sofa. "Aku juga udah selesai berbincang dan mau langsung pulang kok. Santai aja." Jelasnya menepuk pundak Virzha menegaskan. Rellys hanya memperhatikan kedua insan di hadapannya dengan suana yang ia rasa berubah menjadi dingin.
Ranzy beralih pada Rellys dan tersenyum. "Aku pulang dulu ya." Ia membelai rambut Rellys lembut. Sengaja membuat Virzha panas. "Hati-hati." Ucap Rellys tersenyum canggung karena merasa sedang ditatap oleh Virzha.
Bisik Ranzy sebelum benar-benar melangkah keluar. Ia sempat melirik Virzha yang masih menatapnya tajam.
"Nggak usah diingetin. Dia emang monster."
Balas Rellys tak kalah pelan. Ranzy terkekeh kemudian berjalan keluar.
Setelah Ranzy benar-benar tidak terlihat lagi, Virzha membalikkan tubuh menghadap Rellys.
"Rellys, gimana bisa sih, kamu punya teman se macan dia?" Ledek Virzha terkekeh. "Udah tau aku pacar mu, bisa-bisanya dia tetap berani godain kamu. Pake ngelus rambut segala lagi." Keluhnya.
"Oke, jadi apa mereka saling main ledek-ledekan. Harimau? Macan? Tolonglah, kalian manusia." Rellys menggerutu dalam hati.
"Pengen ku hajar aja tuh rahang rasanya." Virzha masih merasa geram dengan tingkah Ranzy yang menurutnya menyebalkan.
__ADS_1
"Jangan apa-apain dia. Awas aja kalau kakak berani sakitin dia. Nggak akan ku maafkan." Rellys memperingati sambil menunjuk wajah Virzha.
Virzha menghela napas panjang. "Iya, aku juga cuman ngomong kok. Kamu sampai se- khawatir itu sama dia, ya?" Virzha tak terima.
"Kenapa, kakak cemburu?" Ledek Rellys "Ya iyalah. Kamu kan, pacar ku. Cowok mana yang nggak cemburu ketika ceweknya perhatian sama cowok lain?" Aku Virzha.
Rellys terdiam dan menatap Virzha dalam. "Jadi, aku pacar kak Virzha? Kak Virzha menganggap aku ini pacar mu?" Suaranya menurun. Ia menatap Virzha dengan tatapan datar.
"Iyalah. Emang kamu siapa nya aku kalau bukan pacar?" Virzha menatapnya bingung. Rellys menunduk sejenak. Ia kembali mendongak. "Lalu apa Kak Tessa bagi kakak?" Tanya Rellys tiba-tiba. Matanya meminta penjelasan.
Virzha mundur satu langkah. Ia menatap Rellys dalam. "Kenapa kakak nggak jawab?" Tagih Rellys. Virzha menggeleng beberapa kali. "Nggak. Jangan tanyain aku pertanyaan kayak gitu, Llys. Aku nggak bisa jawab." Aku Virzha yang membuat Rellys kecewa.
"Kak, kakak jadi laki-laki harus tegas. Berarti, kakak belum bisa melupakan Kak Tessa, kan?" Tanya Rellys lagi. Ia benar-benar penasaran tentang jawaban Virzha. Namun, Virzha tak kunjung menjawab.
Rellys menghapus air matanya yang hampir terjatuh. "Kak, aku tau aku salah udah jatuh cinta sama kakak. Kekasih kakak ku sendiri. Aku nggak mau terus melukai Kak Tessa." Ucap Rellys jelas. Virzha menatapnya tak mengerti. "Maksud kamu?"
"Aku tau perasaan ini salah. Hubungan ini juga salah. Oleh karena itu, hubungan ini masih bisa diperbaiki." Jelas Rellys.
"Kamu ngomong apa sih, Llys?" Virzha bingung tentang ke mana arah pembicaraan ini.
Rellys menghela napas panjang. "Aku nggak mau kita terjerumus terlalu dalam. Aku... Aku mau kita putus!" Tegasnya akhirnya. Ia melangkah hendak menaiki tangga membiarkan Virzha sendiri.
Namun, Virzha memeluknya dari belakang. Menahannya agar tidak pergi. "Ellys, aku tau kamu nggak enak sama Tessa kalau kita terus menjalani hubungan ini. Tapi, kamu nggak bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara putusin aku. Itu bukan solusi terbaik." Nasihatnya.
Rellys berusaha melepas tangan Virzha yang justru mempererat pelukannya. "Kak, aku nggak bisa. Yang orang tua kakak mau itu Kak Tessa, bukan aku." Ucapnya berat.
"Itu karena mereka nggak tau kalau kamu pacar ku. Kalau mereka tau, mereka pasti akan jodohin kamu sama aku." Jelas Virzha.
"Terus apa? Kalau mereka jodohin aku dengan kakak, kita akan menikah? Nggak semudah itu kak. Gimana dengan Kak Tessa?" Ia mengingatkan. Virzha diam tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1