
Virzha berhenti di depan rumah Rellys. Ia turun dari motor dan berjalan sempoyongan untuk mengetuk pintu.
Setelah beberapa kali mengetuk, pintu akhirnya terbuka. Ia menatap gadis di hadapannya dengan mata sayu.
"Kak Vir, kenapa?" Rellys menatap Virzha khawatir. Virzha memaksakan senyum. Matanya perlahan terpejam disusul dengan tubuhnya yang terjatuh di pelukan Rellys. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Rellys nyaman.
"Kak, kakak kenapa, sih?" Rellys menepuk-nepuk pundak Virzha. Mencoba menyadarkan nya. Ia sedikit mundur dan mendongakkan kepala Virzha untuk menatapnya. Tangannya ia ulurkan untuk meraba dahi Virzha.
"Ya ampun, kakak panas banget. Kakak hujan-hujanan?" Rellys cemas sendiri. Virzha hanya tersenyum sejenak. Seketika tubuhnya kembali tumbang di pelukan Rellys.
"Ya ampun, kakak kenapa?" Rellys semakin khawatir. Ia berusaha memapah Virzha dan membaringkannya di sofa.
"Bi Ipah!" Seru Rellys panik. "Ya ampun, aku lupa kalau bi Ipah lagi pulang." Ia berjalan tergesa-gesa menuju dapur dan mengambil sehelai kain. Ia kembali dan mengompres dahi Virzha.
Ia juga membuka sweater Virzha yang telah basah kuyup dan mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Virzha.
__ADS_1
Ia menggenggam tangan Virzha. Mengusap-usap dan sesekali meniupnya untuk memberikan kehangatan.
Perlahan, jari-jemari Virzha mulai bergerak. Dan matanya perlahan terbuka. Ia langsung menatap Rellys yang tengah menggenggam tangannya dengan wajah cemas.
"Ellys!" Sahutnya pelan. "Kak Vir kenapa? Kenapa bisa basah kuyup? Kakak kena hujan?" Tanya Rellys beruntun. Virzha tersenyum tipis. "Aku nggak apa-apa kok. Percaya deh." Tenangnya.
Rellys melepas genggaman tangannya. "Sebentar ya, kak. Aku ke dapur dulu buatin teh." Ia hendak melangkah menuju dapur, Namun Virzha menahan tangannya.
"Kenapa, kak?" Tanyanya yang kembali duduk. "Kakak butuh sesuatu?" Virzha menggeleng. Ia menatap Rellys dalam.
"Ellys, aku nggak mungkin pacaran sama cewek yang nggak aku suka. Karena menurut aku, itu suatu kebodohan." Ungkap Virzha yang membuat Rellys mengerutkan kening.
"Ellys, aku suka kamu. Kalau nggak, hubungan kita nggak akan se spesial ini. Kalau aku nggak suka kamu, aku nggak akan pertahanin hubungan kita." Jelasnya. Matanya me- lembut.
"Terus gimana tentang kak Tessa?" Rellys mengulang pertanyaannya yang belum terjawab. Virzha menunduk dan menggeleng. "Entahlah. Sekarang ini, aku bahkan nggak begitu mikirin tentang dia lagi." Akunya.
__ADS_1
"Itu karena kamu belum ketemu dia lagi, kak. Bisa jadi, itu karena kakak bosan. Nanti kalau ketemu lagi, nggak tau bakalan gimana." Batin Rellys menduga.
"Tadi, aku sempat bingung dan merenung. Tapi sekarang, aku tau. Kalau aku..." Ucapan Virzha terpotong. "Bahas nya jangan sekarang, kak." Rellys berdiri dan kembali menyelimuti Virzha. Ia lalu menuju dapur.
Virzha menatap Rellys sedih.
"Susah juga bujuk dia."
Rellys kembali dengan membawa teh hangat dan menyodorkan pada Virzha. Ia duduk di samping Virzha. "Gimana, udah baikan?" Ia kembali meraba dahi Virzha. "Baguslah. Panasnya udah menurun." Syukur nya.
Virzha menyeruput teh hangatnya sambil terus menatap Rellys. "Nggak usah liatin aku terus. Ingat! Kakak udah punya seseorang." Rellys mengingatkan dengan kepala menunduk.
Virzha menaruh gelas di meja. "Tapi, aku suka kamu." Ungkapnya lagi. "Ish, iya iya. Aku tau. Udahlah, nggak usah dibahas lagi." Rellys mengusap-usap telinganya panas mendengar ungkapan itu dari mulut Virzha.
"Sekarang kakak istirahat dulu. Supaya pas bangun, udah enakan." Pinta Rellys meraih gelas bersisi teh yang sudah kandas. Ia kembali menyelimuti Virzha dan meminta nya memejamkan mata.
__ADS_1
Virzha menahan tangan Rellys. "Boleh nggak, kalau kamu di sini aja? Temenin aku." Mohon Virzha seperti anak kecil. Rellys melepas tangannya dari genggaman Virzha. "Tidur, kak!" Pintanya kemudian melangkah menuju dapur.
Virzha menatap punggung gadis itu memelas.