Izinkan Aku Mencintaimu

Izinkan Aku Mencintaimu
Episode 30: Rindu kopi buatan mu


__ADS_3

...🖤🖤🖤...


...~~...


...🖤🖤🖤...


Hari ini, sepulang dari Kampus, Rellys memilih berdiam diri di kamar. Ia menyibak tirai kamar kala mendengar deruan motor. Rellys tersenyum tipis. Setidaknya kehadiran orang itu akan sedikit berguna baginya. Ia melirik arloji. Waktu menunjukkan pukul 16:45.


Rellys mengusap kening sejenak.


"Apa cara pacaran Kak Tessa dan Kak Virzha juga kaku seperti kami ya. Aku aja bahkan nggak tahu hubungan kami pantas disebut pacaran atau nggak?"


Rellys memilih turun menyambut Virzha di bawah. "Ellys, udah baikan?" Tanya Virzha perhatian. "Iya kak, makasih." Rellys ikut terduduk di samping Virzha. Keduanya saling terdiam beberapa menit.

__ADS_1


"Ellys, kemarin kamu kenapa sih, ada masalah?" Virzha mulai menatap serius. "Nggak ada masalah kok, cuman lagi nggak mood aja." Jawab Rellys tak ingin membahas. Tentu saja Rellys tak ingin memberitahu perihal Amanda yang menyebarkan foto kebersamaannya dengan Virzha.


"Benar nggak ada apa-apa?" Virzha memastikan. Rellys mengangguk meyakinkan. "Ellys, kalau ada apa-apa cerita aja, jangan di simpan sendiri." Virzha menggenggam tangan Rellys dan mengelusnya lembut. Rellys menegang. Sangat jarang Virzha memperlakukannya seperti ini. Bahkan mungkin tidak pernah sama sekali.


"Aku nggak apa-apa kok, cuman kemarin emang lagi nggak mood aja." Rellys kembali meyakinkan. Virzha mengangguk-angguk. Rellys perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Virzha. Ia takut tidak bisa menahan detak jantungnya jika terus seperti ini.


"Nak Virzha mau minum kopi?" Rellys dan Virzha sama-sama menoleh mendengar suara bi Ipah. "Maaf bibi mengganggu."


"Nggak apa-apa bi." Rellys tersenyum jenaka. "Oh iya, Kak Virzha mau minum sesuatu?" Tanya Rellys. Virzha tampak berpikir. "Boleh deh."


"Nggak apa-apa, aku malah mau yang asin kayak waktu itu." Rellys kembali menatap heran pada pemuda di hadapannya ini. "Iya, aku kangen sama kopi asin buatan mu." Virzha mentowel kening Rellys. Rellys menatap berbinar. "Beneran kak?" Tanyanya. Virzha mengangguk singkat. "Aneh banget, mm tapi ya udah tunggu di sini." Rellys pamit ke dapur membuatkan kopi untuk Virzha.


Jangan tanya bi Ipah. Pastinya ia telah pergi saat tahu kehadirannya malah dijadikan kacang. Melanjutkan kerjanya maksudnya.

__ADS_1


Rellys kembali dengan membawakan secangkir kopi untuk Virzha. "Terimakasih." Ucap Virzha sebelum meneguk kopi tersebut. Ia meneguknya dengan satu kali tegukan. Rellys hanya menatapnya tak percaya. "Cepat banget habisnya? Kakak suka banget sama kopi asin ya?" Rellys mengintip cangkir kosong tersebut.


Virzha menyandarkan punggungnya pada sofa. "Kalau makanan atau minuman yang nggak enak, lebih enak dihabiskan dalam satu kali tegukan, biar rasa nggak enaknya terasa pas di akhir." Jelas Virzha yang langsung membuat Rellys manyun. "Jadi maksud kakak kopi aku nggak enak? Kalau gitu ngapain suruh aku buatin?" Rellys memalingkan wajah kesal. Ia melipat kedua tangan di dada.


Virzha tersenyum miring. Ia membelai rambut Rellys. "Bukan gitu maksud aku." Kilahnya. Rellys menepis tangan Virzha yang membelai rambutnya. "Ellys, kopi kamu menurut aku adalah kopi terenak nomor satu di dunia." Goda Virzha mendekatkan wajah pada telinga Rellys.


Rellys tersenyum senang. "Beneran nih? Nggak bohong kan?" Rellys memastikan seperti anak kecil yang sedang ditipu.


Virzha mengangguk dengan senyum menawannya. "Udah nggak ngambek lagi kan?" Virzha membelai rambut Rellys lembut.


...🖤🖤🖤...


...~~...

__ADS_1


...🖤🖤🖤...


__ADS_2