
Hening. Rellys masih menunggu jawaban Virzha yang hanya mematung. Ia melepas pelukan Virzha yang melonggar. "Kak."
"Ellys, aku... aku mohon jangan tanya soal ini. Aku... aku belum bisa jawab." Aku Virzha. "Kenapa, kak? Apa susahnya tinggal jawab?" Rellys masih menagih. Setelah lama menunggu, Rellys mengusap wajahnya lelah.
Ia membalikkan tubuhnya menaiki tangga dan menuju kamarnya. Virzha hanya menatap punggungnya yang menjauh.
Rellys menutup pintu kamar dan merosot di lantai. Ia memukul-mukul lututnya. "Kenapa aku harus mencintai dia? Kenapa aku harus mencintai kekasih kakakku." Ia menghapus air matanya yang sudah siap terjatuh.
"Aku capek menangis. Nggak ada gunanya juga." Kesalnya.
...🍰🍰🍰...
Virzha mengendarai motornya dengan sangat laju. Bayangan Rellys dan Tessa terus berkelebat di kepalanya. Seakan beradu menyuruhnya menentukan pilihannya.
💞💞💞
~ "Kalau mereka jodohin aku dengan kakak, kita akan menikah? Nggak semudah itu kak. Gimana dengan Kak Tessa?"
~ "Virzha, tolong jaga Rellys ya." Pinta Tessa. "Kamu tenang aja. Aku akan jagain dia baik-baik kok." Janji Virzha. Tessa tersenyum. "Kamu harus jaga dia, layaknya kamu menjagaku."
~ "*Virzha, mulai hari ini, selama aku pergi, kita putus! Kamu bebas. Begitupun aku."
💞💞💞*
__ADS_1
Virzha menghentikan motornya seketika. Ia tidak tahan lagi dengan isi kepalanya yang sedang beradu. Ia mengacak rambutnya kasar.
"Dia kenapa bisa tanya pertanyaan itu tiba-tiba, sih? Dan kenapa dia harus marah?"
Virzha menendang motornya sampai terjatuh. Ia tak berniat membenarkan posisi motor yang terjatuh itu.
💞💞💞
"Llys, nanti kamu kayak gini ya. Terus ininya harus kayak gini.." Hanya itu kata yang keluar dari mulut Virzha selama mengajarkan Rellys membawa motornya. Sedangkan Rellys hanya menatap wajah Virzha yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Dilihat dari dekat, Virzha memang sangat tampan. Pantas saja kakaknya itu tergila-gila padanya.
"Kenapa liat aku? Liat ke depan!" Pinta Virzha yang menyadari Rellys yang terus-menerus melihatnya bukannya fokus pada penjelasannya.
💞💞💞
Di tengah lamunannya, hujan turun dan langsung mengguyur tubuhnya. Ia mengusap wajahnya yang basah karena air hujan.
💞💞💞
Perlahan Virzha mendekatkan tubuhnya pada Rellys. Ia membalikkan tubuh Rellys menghadapnya. Ia memegang kedua pinggang Rellys dan menyandarkan kepalanya pada kepala Rellys.
Keduanya terdiam dalam posisi seperti itu selama beberapa detik. Rellys dan Virzha memejamkan mata sama-sama menikmati momen seperti ini.
💞💞💞
__ADS_1
Tanpa sadar, bibirnya tersenyum. Ia kembali melajukan motornya memutar balik menuju rumah Rellys.
Flashback
"Virzha, kalau suatu saat nanti penyakit ku semakin parah dan dinyatakan nggak bisa sembuh gimana?" Tanya Tessa tiba-tiba.
Saat itu, mereka sedang menikmati obrolannya di sofa ruang tamu. "Kenapa nanya gitu?" Virzha sedikit kesal dengan pertanyaan Tessa.
"Ya nggak. Aku cuman mau tau aja jawaban kamu." Sahut Tessa.
"Kamu semudah itu menyerah? Tessa, kamu harus janji untuk berjuang demi aku dan masa depan kita." Virzha mengingatkan.
Tessa terkekeh. "Aku cuman iseng nanya. Serius amat kamu." Ia mendorong kening Virzha pelan.
"Jangan ngomong sembarangan lagi." Virzha membalas dengan mencubit hidung Tessa gemas. Tessa mengerucutkan bibirnya.
Rellys terpaku melihat Tessa dan Virzha yang tengah mengobrol di sofa ruang tamu.
Tessa dan Virzha sontak menoleh padanya yang datang tanpa mengucapkan salam. "Rellys!" Tessa terkejut. "Mm, itu... Apa namanya? Itu loh..." Rellys gelagapan. Tessa menepuk keningnya melihat tingkah Rellys. "Kakak kapan pulang?" Tanya Rellys. "Barusan. Diantar Virzha." Jawab Tessa.
Flashback off
Bayangan akan Tessa terputar di kepala Virzha. Ia menggelengkan kepala beberapa kali. Kali ini, yang harus ia lakukan adalah yakin. Kali ini, yang harus ia hadapi adalah masa kini. Bukan masa lalu.
__ADS_1