
Iren menghubungi Hilda dan Sonya. Mengajak mereka berkumpul di apartemen milik Hilda.
Dia terpaksa terus terang pada keduanya. Kalau malam ini dia sedang kesal. Lalu melanggar peraturan Alvaro. Makanya dia butuh kerja sama mereka untuk menyembunyikan dia dari seorang Alvaro. Tanpa banyak tanya keduanya setuju. Lalu mereka pun menyusun rencana.
Utuk mengelabui orang suruhan Alvaro, Iren menyusun rencana. Hilda si pemilik rumah pergi lebih dulu, untuk mengalihkan perhatian orang suruhan Alvaro. Setengah jam kemudian barulah Iren dan Sonya berangkat ke apartemen Hilda.
Sudah hampir setengah jam Iren dan Sonya menunggu Hilda di apartemennya. Tapi gadis itu belum juga muncul.
"Kemana sih ni anak, di telpon juga gak di angkat." omel Sonya.
Baru saja gadis itu berhenti ngomel, pintu apartemen terdengar terbuka. "Sory, aku cari cemilan dulu. Di sini gak ada apa apa, abisnya jarang di tempati." ujar gadis itu, sembari memperlihatkan plastik yang di tentengnya.
Iren dan Sonya berpandangan lalu mereka tertawa berbarengan. Dasar Hilda, bukannya bilang kalau mau beli cemilan bikin orang khawatir saja.
Mereka sudah lama tak melakukan hal ini. Nginep di apartemen lalu begadang sampai pagi. Tak ada yang aneh aneh yang mereka lakukan. Mereka hanya nonton, lalu bahas ngebahas pemeran cowok yang hot abis.
"Iren, lo ngindarin abang lo segitunya. Sebenarnya ada apa sih?" tanya Hilda. Dia seperti mencium hal tak beres antara Iren dan Alvaro. Secara mereka hanyalah saudara angkat.
"Gak ada apa apa, cuma dia posesif aja." sahut Iren bohong. Dia tidak mungkin jujur tentang kelainan Alvaro kan.
Hilda menatap Iren dengan seksama. Dia tak berani mengorek informasi dari Iren lebih dalam. Mengingat sikapnya yang rada tertutup. Baru akhir akhir ini dia sedikit lebih terbuka pada Hilda.
"Tapi beneran kan gak ada apa apa?"
"Hmmm."
"Baiklah, aku percaya padamu." ujar Hilda. Sementara Sonya, hanya menyimak omongan mereka berdua.
*****
Ruang kerja itu hanya di sinari oleh cahaya temaram. Bau tembakau yang terbakar tercium sangat jelas memenuhi ruang tertutup ini. Di sudut ruang, dibalik jendela kaca yang terukir indah. Alvaro duduk sembari menatap keluar Jendela. Gelas wine dan puntung rokok berserakan di atas meja di hadapannya. Dia tengah menunggu kabar dari anak buahnya yang mendadak kehilangan jejak Iren.
Rasanya dia hampir gila memikirkan kelakuan Iren. Entah di mana dan bersama siapa, gadis itu sekarang. Orangnya bahkan tak mengendus keberadaan Iren hingga jam segini. Gadis itu begitu susah di atur, kadang penurut kadang sangat membangkang.
Mobil Hilda yang di duga di kendarai mereka bertiga malah di jemput supir pengganti. Awalnya orangnya melaporkan bahwa mobil yang di tumpangi Iren dan teman teman masuk ke sebuah mall. Karena masalah parkir, mereka kehilangan jejak. Hanya menemukan posisi mobil yang mereka ke tahui. Sialnya anak buahnya memutuskan menunggu di sekitar mobil Iren. Tapi sampai Mall hampir tutup yang punya mobil tak kunjung muncul. Malah mobilnya di jemput supir pengganti, sungguh sial.
__ADS_1
Kehilangan Iren seperti kehilangan semangat hidupnya. Membuat amarahnya seperti bensin yang mudah tersulut api, mudah terbakar.
Sudah hampir dini hari, ketika Alvaro meninggalkan rumah. Dengan pikiran yang sudah di pengaruhi alkohol dalam darah. Alvaro pergi ke sebuah klub malam.
Begitu sampai dia langsung masuk keruangan khusus. Tau Alvaro yang datang pihak pengelola langsung menyambutnya.
Alvaro duduk di sofa panjang dengan mata terpejam.
"Tuan ingin saya menyiapkan apa?" Lelaki bertubuh kekar berambut cepat itu bertanya dengan sedikit membungkuk.
Alvaro membuka mata elangnya menatap pria itu dengan tatapan tajam. "Carikan aku wanita bersih." pintanya. Lelaki itu tersurut, dengan takut takut dia menatap Alvaro.
"T-tapi tuan. Sudah hampir pagi, lagi pula barang seperti itu tidak selalu ada kalau tidak di pesan dulu." ucapnya.
Alvaro mendengkus kesal. "Lalu apa yang kau punya?" tanya pria itu dengan mata berkilau.
"Aku akan periksa dulu tuan. Aku tidak berani memastikan apakah aku punya barang yang sesuai selera tuan." sahut Pria itu dengan sangat hati hati.
"Cepatlah bawa kemari." pintanya tak sabaran.
Begitu pria itu pergi, Alvaro kembali memejamkan matanya. Menikmati bayang bayang Iren yang menari nari dalam tempurung kepalanya.
"Dia Melia tuan." Ujar pria itu, memperkenalkan seorang gadis muda berusia tujuh belas tahun.
Alvaro membuka matanya menatap wanita di depannya. Matanya tak berkedip memindai setiap jengkal sosok Melia di depannya.
"Tinggalkan dia." ujar Alvaro memberi perintah.
Pria itu menatap Alvaro penuh binar. "Baik tuan." Sahutnya, kemudian beralih menatap Melia.
"Layani tuan dengan baik." Pesan pria itu sebelum pergi.
Alvaro menarik tatapannya dari sosok Melia, lalu kembali memejamkan matanya.
Di depannya Melia diam diam memperhatikan sosok Alvaro. Pria berdada bidang itu duduk bersandar di bahu sofa, dengan mata terpejam. Dengan posisi seperti itu dia terlihat seperti patung dewa. Bulu matanya lebat, begitu juga alisnya. Mempertegas ketajaman pandangannya. Hidungnya mancung, bibirnya tipis dengan bentuk yang begitu indah.
__ADS_1
Dari kemejanya yang terbuka, Melia dapat melihat bulu bulu halus tumbuh diantara otot otot perutnya. Melia menelan saliva dengan kasar.
"Melia berapa usiamu?" tanya Alvaro, lalu membuka matanya perlahan. Memperlihatkan bola matanya yang setajam elang.
"T-tujuh belas tahun tuan." sahut Melia gugup.
"Sudah berapa tamu yang kau layani?" tanya Alvaro lagi, dengan suara berat dan datar. Sangat seksi, membuat bulu tengkuk Melia meremang.
"S-sudah lima tuan." Melia masih di landa gugup. Gugup oleh sikap dingin Alvaro. Biasanya begitu melihat Keindahan Melia, tamunya tak bisa menahan diri untuk tak langsung mengeksekusinya.
Alvaro menggangguk sembari memindai sekali lagi sosok Melia di hadapannya. Tubuhnya tinggi semampai melebihi tinggi Irene. Lakuk tubuhnya juga sangat indah, dadanya lumayan besar, juga bokongnya. Sementara pinggannya sangat ramping. Lalu pandangannya berhenti pada sepasang kaki ramping Melia. Dia sangat suka bentuk kaki seperti itu.
"Kemarilah." pintanya, sembari membuka tangannya lebar lebar. Melia dengan senang hati mendekat. Menjatuhkan diri di sisi Alvaro. Tak ingin membuang waktu, Alvaro langsung saja menghujani wanita itu dengan ciuman ganasnya.
Dalam sekejap, ruang tertutup itu menjadi hangat oleh desah dan geraman Akeno. Walau pemula, ternyata gadis itu pandai menyenangkan pria. Terlihat dari Akeno yang begitu menikmati permaianan Melia.
Tubuh Melia ternyata terlihat lebih indah saat dalam keadaan polos. Tubuhnya masih sangat padat dan berisi. Maklumlah usianya masih tujuh belas tahun.
"Kau pandai bermain Melia." puji Alvaro sembari mengubah posisi tubuh Melia, yang semula di atas kini Alvaro menekannya di bawahnya.
Dia ingin cepat melakukan penyatuan. Dan dia mau dia yang menguasai keadaan, bukan melia.
Gadis muda itu menjerit saat junior Alvaro melesak masuk kedalam liang senggamanya. Terasa sedikit perih, mungkin karena lawan mainnya sebelum Alvaro memiliki Junior lebih kecil dari milik Alvaro.
Melihat itu pria berwajah dingin itu menyeringai. Dia menikmati permainan ini, dengan penuh semangat dia menghentak miliknya lebih dalam. Melia menjerit, antara sakit dan nikmat. Membuat Alvaro mengeram gemas melihat ekspresi ketakutan Melia.
Dia terus menghentak penuh semangat. Tapi tiba tiba tubuhnya terdiam kaku. Lalu dengan kasar dia melepas miliknya dari liang senggama Melia. Tak sampai di situ, pria itu mengarahkan jari jari kokohnya ke lehe Melia. Gadis itu masih sangat kaget jadi tidak menyadari apa yang dilakukan pria itu padanya. Dia baru sadar saat jari jari itu mengerat kuat menjerat lehernya. Dia ingin bertanya ada apa, tapi bahkan dia tak bisa bernafas.
Tubuhnya menegang, kukunya yang panjang menancap erat di tubuh Alvaro. Matanya nyalang menatap Alvaro memohon pengampunan. Tapi Alvaro seperti iblis yang sedang murka, semakin sekarat korbannya maka semakin bahagia jiwanya. Beberapa detik kemudian tubuh gadis muda itu melemah, lalu tak bergerak sama sekali.
Alvaro menghepas napas kasar, dengan tenang turun dari ranjang. Sembari membalut tubuhnya Alvaro menghubungi seseorang.
"Kau urus wanita tadi, aku mau mandi." ucapnya datar.
"A-Apa dia mati tuan?" tanya pria di ujung sana.
__ADS_1
"Aku rasa tidak." sahutnya lalu memutus panggilan. Sebelum masuk kamar mandi dia menatap Melia sejenak. Lalu berlalu tak perduli.
Bersambung