Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 64


__ADS_3

Iren menyentuh dadanya yang berdetak begitu kencang. Melihat sorot mata Alvaro saat menatap kearahnya penuh binar membuat dada Iren berdesir.


Kapan lelaki itu datang, dia bahkan tak mengabari Kalau akan datang. Dia menganggap ini seperti rumahnya sendiri datang dan pergi sesuka hatinya tanpa perlu meminta izin pada Iren. Mungkin sebentar lagi pria itu masuk kamar Iren tanpa Izin. Memikirkannya Iren mencebik kesal.


Selesai berganti baju Iren keluar kamar menemui mereka di meja makan. Dari jauh dia melihat keduanya bercerita dengan begitu hangat. Tak menyangka pria berwajah dingin yang identik dengan kekerasan itu. Bisa begitu lembuat memperlakukan putranya. Lihatlah wajah Austin terlihat sangat ceria saat bicara dengannya.


Ada perasaan sejuk saat melihat kedekatan ayah dan anak itu.


"Kapan kakak datang?" tanya Iren sembari menarik kursi di depan Austin dan Alvaro.


"Tadi malam aku sampai, dan pagi ini aku langsung kesini." sahut Alvaro.


"Ooo."


"Kau dan Austin biar aku yang antar."


"Tidak usah, kakak antar Austin aja. Aku biar berangkat sendiri."


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Jadi kau biar kuantar saja."


"Iya baiklah." sahut Iren. Dia juga tak punya alasan untuk menolak.


Selesai mengantar Austin, Alvaro langsung mengantarkan Iren ke kantornya.


"Kakak ingin bicara apa?" tanya Iren. Sembari menatap Alvaro, pria itu terlihat sibuk dengan laptopnya. Saat ini mereka dalam perjalanan ke kantor Iren.


"Aku ingin melihat kantormu. Kita bicara di sana saja." sahut Alvaro tanpa beralih sesikitpun dari laptopnya.


Iren menarik nafas dalam, netranya memindai wajah lelaki yang selalu mengisi hatinya selama beberapa tahun ini. Dia tersenyum saat melihat mata indah Alvaro mengerjab, menggerakkan bulu matanya yang indah.


Kadang dia suka iri melihat bulu mata Alvaro, padahal dia pria kenapa memiliki bulu mata selesai itu. Para wanita bahkan harus susah payah memasang bulu mata palsu agar terlihat lebat.


"Ada apa melihatku seperti itu. Kau sudah mulai merindukan aku?" tanya Alvaro tanpa beralih pandang.


Iren tertawa pelan. Tentu saja dia rindu, bohong kalau dia tidak merindukan pria breng sek ini.

__ADS_1


"Wajarkan, kalau aku merindukan ayah dari anak ku." sahut Iren. Lalu berpaling menatap keluar jendela.


Mendengar itu cepat Alvaro berpaling menatap Iren. Sudut bibirnya terangkat saat melihat pipi gadis itu bersemu merah. Dia yang mengatakan kata kata romantis, tapi malah dia sendiri yang merasa malu.


Alvaro benar benar singgah di kantor Iren. Kedatangan pria berparas tampan itu menimbulkan kakak kutuk pegawai Iren. Masalahnya wajah Alvaro sangat mirip dengan Austin.


"Karyawan mu sepertinya menyukai ku." ujar Alvaro, sembari menempatkan tubuhnya di atas sofa.


Iren mencibir. Tentu saja karyawannya heboh. Selama ini mereka penasaran dengan sosok ayah bagi Austin. Menurut mereka wajah tampan Austin bersumber dari papanya. Iren tak memungkiri itu. Dan hari ini Alvaro membuktikan spekulasi mereka.


"Apa yang akan kakak bicarakan padaku?" tanya Iren.


Alvaro tak langsung menjawab. Dia memindai setiap gerak Iren.


"Apa Kenji ada menghubungi mu akhir akhir ini?" tanya Alvaro.


"Tentu saja ada."


"Apa dia mengatakan padamu kalau dia juga bertunangan di negaranya."


"Kau sudah tau?"


"Hmmm."


"Lalu apa keputusanmu?" tanya Alvaro penasaran.


Irenmengedikkan bahunya acuh. Lalu kembali melanjutkan aktivitasnya menyusun berkas berkas di meja kerjanya.


Melihat reaksi Iren, Alvaro mengepalkan jemarinya erat.


"Putuskan pertunangan mu dengan pria breng sek itu?!" titahnya.


Iren kembali menghentikan aktifitasnya. Kini pandangan matanya yang tajam menatap Alvaro lekat lekat. "Jangan memakinya kak. Dia tunangan ku." ujar Iren. Membuat Alvaro menggeram marah.


"Kalau kau tidak bisa memutuskanya, biar aku yang akan melakukannya."

__ADS_1


"Kakak gak bisa melakukan itu."


"Tentu saja bisa. Bahkan aku juga bisa melenyapkan bang sat itu. Kau tidak percaya?" ancam Alvaro geram.


Iren terdiam. Melihat sorot mata pria itu, sepertinya dia tidak main main. Iren harus mengakhiri dramanya atau Alvaro benar benar hilang kendali.


"Kenapa kakak terus ikut campur masalah pribadiku? Dulu, sekarang. Kakak selalu seperti ini." ujar Iren. Netranya masih terus menatap wajah kalut Alvaro. Dan Iren sangat menikmatinya. Kalau saja Alvaro tidak arogan begini, mungkin Iren belum mau menyudahi dramanya. Dia ingin menyiksa pria ini, seperti dia menyiksa Iren tempo dulu.


Alvaro menghempas nafas kasar. "Aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu Iren. Mungkin kau tidak percaya perkataanku. Tapi aku tidak bisa diam saja saat kau di perlakukan begini. Awalnya aku sudah rela melepasmu, kalau memang bahagiamu dengan pria itu. Tapi kebahagiaan apa yang kau dapat bila pria itu saja menduakan mu." sahut Alvaro.


Iren tersenyum getir. "Bukankah lelaki memang seperti itu. Saat dengan kakak nasibku malah lebih parah. Apa kakak sudah lupa, bagaiaman kakak memperlakukan seorang Iren waktu itu? Karena perbuatan kakak, aku jadi tak punya kesempatan memilih jalan hidup yang kumau dan ku impikan. Mungkin pria yang sangat mencintaiku akan menerima masa laluku yang memiliki anak di luar nikah. Tapi keluarganya? Mereka tak sudi mencoreng muka dengan aib menantunya. Tidak ada keluarga yang mau menerima menantu bersetatus mantan simpanan dan sudah memiliki anak diluar nikah. Apa kakak tau itu." ujar Iren sendu. Dia benar benar mengutarakan unek unek yang menjamur di hatinya.


Alvaro menunduk sembari mengusap kasar wajahnya. "Maaf, aku benar benar minta maaf. Waktu itu aku kehilangan akal sehatku." ujarnya sembari mengangkat wajahnya menatap Iren.


"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu. Ini bukan hanya tentang kita, tapi lebih tentang Austin. Aku tidak mau meninggalkan trauma pada putraku seperti yang ku alami di masa lalu." bujuk Alvaro dengan tatapan memohon. Dia sangat berharap Iren berubah pikiran.


Iren mengernyitkan alisnya menyerna ucapan Alvaro barusan. Sebenarnya trauma apa yang di alami Alvaro? Apa karena itu kepribadiannya berubah ubah.


Iren menarik nafas berat. "Jadi ini yang ingin kakak bicarakan denganku?"


"Hmmm."


"Baiklah aku sudah mendengarkannya. Masalah Kenji, biar aku sendiri yang memutuskan. Kakak tak perlu ikut campur."


Alvaro menatap Iren penuh binar. "Kau benar benar akan melakukannya?"


"Belum tau, tapi ucapan kakak akan aku pertimbangkan." sahut Iren. Pengakuan Alvaro tentang traumanya membuat Iren ingin tau lebih banyak tentang apa sebenarnya yang dialami pria itu di masa lalu.


"Baiklah, aku akan menunggu hasilnya." ujar Alvaro. Ada binar pada sorot matanya. Yang membuat hati Iren berdebar indah. Sudah sangat lama dia merindukan tatapan penuh damba milik pria itu.


"Aku tidak berjanji, tapi aku memang harus mempertimbangkan ucapan kakak. Itu juga tergantung dengan sikap kakak. Ingat aku tidak mau di perlakukan seperti dulu lagi."


Alvaro menarik sudut bibirnya mengukir senyum. Ucapan Iren seperti angin segar untuk Alvaro.


Iren. Alvaro pasti akan memperjuangkan wanita itu. Setelah mengetahui bahwa Kenji telah bertunangan dengan wanita lain.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2