
Iren saat ini berada di pusat perbelanjaan di kota A di negara B tempat Iren tinggal. Ada klien yang beberapa hari lalu telah membuat janji bertemu di tempat ini. Tidak biasanya klien meminta bertemu di pusat keramaian seperti ini. Biasanya mereka memilih private room di sebuah restauran mewah sebagai tempat janji bertemu. Tapi kali ini berbeda, dia meminta Iren menunggu di sebuah pusat perbelanjaan yang sedang ramai ramainya.
Iren memilih menunggu di Cafe yang ada di lantai satu tempat ini. Suasananya sedikit tenang, ketimbang tempat yang di minta si klien.
Sembari menikmati secangkir kopi pahit, Iren memeriksa gawainya. Melihat pesan yang baru saja masuk dari klien yang di tunggunya.
"Maaf, mungkin aku terlambat sepuluh menit. Saya harap Anda tidak keberatan untuk menunggu sebentar." bunyi pesan itu.
"Its oke. Saya sudah terlanjur di sini juga kan," balas Iren.
Dia klien yang sudah lama meminta Iren mendesain rumah tinggalnya. Karena terlalu sibuk, baru sekarang Iren bisa menemui pria pengusaha itu.
Sementara itu, tak jauh dari tempat Iren duduk sekarang. Seorang pria bermata tajam tengan menatap tak berkedip kearahnya.
Tak satupun gerak Iren yang lepas dari pandangan tajam pria itu. Pria itu terlihat begitu mengagumi sosok Iren, itu terlihat dari caranya meneliti inci demi inci lekuk yubuh Iren yang menawan. Pria itu menelan kasar salivanya saat tatapannya terbentur dua benda kenyal yang terlihat bertambah besar ukurannya. Seringai halus terukir samar di bibir tipisnya saat pandangannya melihat bibir mungil milik Iren. Entah apa yang ada dalam benak peia itu saat ini.
Lalu, lima belas menit kemudian. Barulah pria itu berjalan mendekat ke arah Iren.
"Permisi," sapanya pada Iren yang tengah mengatakan atik ponselnya.
Iren menengadah menatap pria jangkung di sampingnya. Begitu melihat siapa pria itu, Iren tampak kaget.
"Rey?" ujar Iren tak percaya, dia bisa bertemu lelaki itu di negara asing ini. Iren menatap pria itu tak berkedip. Sudah sangat lama dia tak bertemu Rey, banyak yang berubah pada fisik lelaki itu. Tubuhnya terlihat kekar dan berotot. Terlihat jelas dari kemeja putih transparan yang dia kenakan. Dari balik kaca mata hitamnya tersembunyi sorot matanya yang tajam. Sementara rambutnya yang hitam legam di biarkan panjang, lalu di kuncir begitu saja. Rey benar benar terlihat berbeda.
"Hmmm, apa kabarmu?" sahut pria itu lalu menarik kursi di depan Iren. Kemudian duduk disana.
"Aku baik, sudah sangat lama kita tidak bertemu. Kau kemana saja?" Bola mata Iren tak berkedip menatap Rey. Pria itu tampak tersenyum.
__ADS_1
"Ada sedikit masalah di tanah air, yang membuatku terpaksa harus pergi dan menetap disini." sahut Rey.
"Ooo begitu, tapi maaf Rey aku sedang menunggu seseorang. Mungkin sebentar lagi dia akan datang. Kita bisa ngobrol lagi lain waktu." ujar Iren.
"Kau sedang menunggu Daniel?" tebak Rey.
Iren mengangguk. "Iya, bagaimana kau bisa tau?"
"Tentu saja aku tau, karena Daniel itu aku." sahutnya sembari mengulurkan tangan pada Iren.
"Selamat bekerja sama kedepannya." imbuh Rey.
Iren menarik nafas dalam lalu menyambut uluran tangan Rey. Dalam kepalanya berkecamuk memikirkan tentang kerja sama ini. Apa tidak apa apa dia menerima kerja sama ini. Sementara dia tau betul bagaiaman sikap Alvaro pada Rey. Kalau dia tau Daniel adalah Rey, sudah pasti dia akan langsung menolak tanpa memberi peluang seperti ini.
"Hahhh senangnya kau bersedia menerima kerja sama ini." ujar Rey begitu Iren menarik tangannya dari genggaman Rey.
"Maksudmu?"
Iren menarik nafas berat. "Aku hanya membuat cetak biru untuk rumah yang akan kau bangun."
"Aku tau, tapi aku minta kau juga ikut mengawasi pengerjaannya. Kau harus mengawasi apakah bangunan itu sesuai dengan cetak bitu yang kau buat" pinta Rey. Dan Iren tidak mungkin menolak permintaan sederhana itu, untuk seorang arsitek seperti dirinya.
"Baiklah aku setuju." sahut Iren. Walau hatinya was was, dia tidak tau bagaimana reaksi Alvaro setelah mengetahui kerja sama ini. Dia yakin pertemuan ini tak lepas dari pantaun seorang Aivaro.Tapi dia juga harus bersikap profesional dalam bekerja.
"Boleh minta nomor mu?" pinta Rey, sembari menatap lekat lekat wajah cantik Iren. Iren tampak berpikir sejenak, ada keraguan pada sorot matanya dan Rey bisa melihat itu.
"Aku tidak akan menyalah gunakan nomor mu, percayalah. Aku hanya akan menghubungimu bila ada yang benar benar penting menyangkut pekerjaan." ujar Rey meyakinkan. Netranya masih terpaku pada sosok di depannya. Wajah yang penuh pesona, yang menjerat hatinya beberapa tahun ini.
__ADS_1
Bulu matanya yang lebat alami, dengan bentuk mata yang indah sempurna. Membuat hati Rey berdetak kencang saat beradu pandang dengannya. Dia bahkan tak berani menatap bibir tipis yang terlihat basah itu, atau dia tak bisa menahan keinginannya untuk melu mat benda kenyal itu saat ini juga. Dia bukan Rey yang dulu, yang memilih memendam hasrat dan perasaannya. Hidup keras menempah kepribadiannya menjadi pribadi yang berbeda. Bukan tanpa alasan dia menjalin kerja sama dengan Iren.
Dia juga sengaja membuat janji di tempat terbuka begini, untuk memancing kemarahan seseorang yang sangat dia benci beberapa tahun ini. Dia ingin membakar jantung pria itu dengan perasaan cemburu setelah itu dia akan menyingkirkan pria itu dari sisi Iren. Lalu dia akan menempatkan diri di sisi kosong itu. Benarkah bisa begitu..?
Di tempat lain, Alvaro tengah di landa cemburu yang teramat sangat. Saat melihat laporan yang baru saja di kirim orang suruhannya. Rey ternyata bergerak lebih cepat dari dugaannya. Sebenarnya dia sudah tau akan ada adegan seperti ini nantinya, saat tau Rey menyelidiki Iren secara diam diam. Tapi dia tak menyangka hatinya akan sepanas ini melihat wanitanya terlihat akrab dengan mantan pacarnya. Ingin rasanya dia datang dan menyeret Rey agar menjauh dari Iren. Tapi Alvaro berusaha menahannya.
Rey bukanlah lawan yang bisa dia lumpuhkan hanya dengan sekali tebas seperti dulu. Pria itu tumbuh semakin kuat, setelah dia singkirkan. Ini berita mengejutkan untuk Alvaro. Tapi tetap saja, level pria itu berada jauh di bawahnya. Walau begitu dia tak mau gegabah. Dia tak mau melakukan kesalahan sekecil apapun kali ini. Apalagi bila risikonya kehilangan Iren.
Alvaro mengambil ponsel di sampingnya lalu menghubungi Iren. Sementara matanya awas melihat layar monitor di depannya.
"Kau di mana?" tanya Alvaro begitu Iren mengangakat panggilannya.
"Aku diluar sedang bertemu klien." sahut Iren. Di layar monitor terlihat jelas gadis itu melirik Rey. Membuat hati Alvaro mendidih karena cemburu.
"Masih lama?"
"Tidak, sudah akan selesai. Ada apa kak?"
"Aku ingin makan siang dengan mu di luar."
"Ohh, ya udah tunggu aja bentar lagi aku kabari."
"Hmmm." sahut Alvaro dengan bergumam.
.
Bersambung
__ADS_1