Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 66


__ADS_3

Iren beringsut ke belakang saat Alvaro terus mendesak kearahnya. Keadaan ini tidak menguntungkan bagi Iren, dia tak bisa berbuat banyak karena ada Austin di sini.


Melihat itu Alvaro tertawa sinis. Lalu mengulurkan tangannya menyentuh pipi merah jambu Iren. Iren tampak kaget, tapi tak menepis gerakan tangan Alvaro. "Kau cantik saat malu malu begini," puji Alvaro. Membuat pipi Iren semakin merah.


Dan sialnya dia malah memejamkan mata saat Alvaro menggerakkan jarinya mengusap pipi Iren dengan lembut. Menikmati sentuhan Alvaro yang membuat jantungnya terpacu dengan kencang.


Iren membuka matanya saat Alvaro melepas sentuhannya. Menatap wajah tampan itu dengan tatapan penuh rindu. Memindai setiap inci lekuk wajah pria itu yang terlihat begitu sempurna.


Melihat Iren yang menerima sentuhannya, Alvaro merasa heran.


"Kalau lelah, pergilah istrahat di samping Austin." ujar Alvaro. Dia pikir Iren tak punya tenaga untuk beradu argumen dengannya karena lelah. Jadi dia meminta gadis itu untuk istrahat.


Iren hanya diam sembari menatap Alvaro dengan sorot mata penuh rindu. Melihat sorot mata itu, Alvaro berdecak kesal. Bisa bisa dia hilang kendali oleh sorot mata Iren. Tapi Iren seakan sengaja provokasi dirinya.


"Istrahatlah aku mau mandi dulu." imbuhnya lalu beranjak berdiri. Dia sudah akan melangkah saat jemari Iren menyentuh pergelangan tangannya menahan langkah kakinya.


"Ada apa?" tanya Alvaro berusaha menahan gejolak hatinya. Sentuhan lembut Iren membuat hasratnya meronta. Sedari tadi dia berusaha menahan diri agar tak bersikap agresif pada gadis itu. Tapi malah dia yang memancing hasratnya.


Iren menengadah menatap Alvaro yang juga tengah menatapnya. "Boleh aku ikut mandi dengan kakak?" ucapnya dengan mata sayu.


Oh my good Iren....


Dengan sekali gerak, Alvaro menarik tubuh langsing itu kedalam dekapannya. Sudah sangat lama dia berandai andai. Akhirnya dia bisa mengenggam tangan mungil ini, menghirup sisa aroma parfum yang samar samar tertinggal pada tubuh mulus Iren. Lalu perlahan melabuhkan sentuhan hangat di bibir merah nan menggoda. Melu matnya, sembari menikmati setiap sensasi yang memercik di aliran darahnya. Dadanya terasa seperti ingin meledak, karena ciuman hangat dan panjang ini.


Dengan nafas terengah Alvaro melepas ciu mannya. "Kau mau ikut mandi denganku?" Tanya pria itu dengan sotot mata berkabut. Iren mengagguk setuju. Membuat senyum Alvaro mengembang sempurna di bibirnya.


Dia sama sekali tak menyangka akan kembali sedekat ini pada Iren. Tapi kenapa Iren mendadak membuka hatinya, bahkan secepat itu dia menerima sentuhan Alvaro.

__ADS_1


"Menikahlah secara resmi dengan Varo." pinta mama begitu siuman. Ucapan itu di amini oleh papa dengan anggu'an kepala.


Kala itu Iren hanya diam. Tapi hatinya penuh suka cita, kalimat mama seperti sebuah lamaran untuknya. Dia tak mau menolak, sebab hatinya juga menginginkan pria arogan itu jadi teman hidupnya.


Apalagi Glen sudah menceritakan semua tentang masa lalu mereka. Bagaimana Alvaro mengalami trauma mendalam karena perbuatan mamanya. Ini aib yang seharusnya di simpan rapat rapat. Tapi Glen merasa Iren wajib tau, sebab Glen mau mereka kembali bersatu sebagai sepasang suami istri.


Dari semua cerita Glen. Iren tau kenapa sikap Alvaro seperti itu. Cerita itu malah mendorong hatinya agar merangkul pundak pria itu. Memberinya kasih sayang yang selama ini ingin dia dapat dari Iren. Itulah kenapa Iren tak lagi menolak saat Alvaro mencoba menyentuhnya.


"Bolehkah aku melakukan lebih dari ini?" tanya Alvaro, saat ciu man saja tak mampu memuaskan hasratnya yang mengebu.


Iren tak menyahut, tubuh polosnya saat ini apa belum cukup sebagai jawaban pertanyaan pria ini. Tapi kemudian dia mengagguk, memberi Alvaro izin.


Melihat itu, Alvaro menyeringai. Tubuh polos dalam rengkuhanya kembali dia hujani cumbuan. Tak perduli desah Iren mungkin bisa membangunkan Austin di luar sana. Tapi saat ini dia benar benar ingin mendengar desah dan rintih gadis itu. Dia bahkan ingin mendengar jerit nikmat dari bibir merah Iren.


Seakan ingin menebus waktu yang lama terbuang. Alvaro tak melepas seincipun permukaan tubuh Iren tanpa cumbuannya.


Tubuh Iren melirik indah saat bibir basah Alvaro menyusuri leher jenjangnya. Sementara jari jemari kokohnya menjamahi kulit mulus Iren tak tersisa.


Alvaro menggeram gemas, sembari melepas sentuhan bibirnya. Matanya nyalang menatap kebawah sana, tangan indah itu tangan bermain nakal di antara selangkangannya. Iren hanya tertawa mencibir, saat rahang pria itu mengeras menahan hasrat yang nyaris meledak.


"Aku ingin sekarang." geramnya, saat Iren masih belum membuka liang senggamanya untuk di hujami senjata Alvaro yang sudah mengeras sempurna. Gadis itu seperti sengaja melakukannya.


Iren tak menyahut, dia hanya mengulum senyum sembari menggerakkan jarinya dengan gerakan maju mundur di bawah sana.


"Kau pikir apa yang kau lakukan?!" geram Alvaro. Iren masih juga belum mau membuka liang sengamanya. Tapi sepertinya Alvaro tak punya banyak kesabaran. Dengan sedikit kasar dia meraih tubuh Iren, mengangkat tubuh itu lalu menaruhnya kedalam bathtup yang sudah berisi air.


Menindih tubuh polos itu, membuka lebar lebar paha gadis itu dengan paksa.

__ADS_1


"Ahhh..." desah Iren lolos begitu saja. Saat milik Alvaro menghujam dalam, kedalam liang senggamanya. Pria itu seperti tak ingin membuang waktu, dia langsung menggerakkan tubuhnya dengan begitu seksi. Menghujami Iren dengan ribuan rasa nikmat yang tak mampu di lukiskan dengan sebaik kata.


"Kau nikmat sayang," racau pria itu di tengah gempuran dahsatnya. Siapa suruh gadis itu memprovokasi dirinya. Membangkitkan gairah yang telah lama bersemayam dan minta disalurkan.


Cukup lama Iren di hajar oleh hujaman penuh nikmat. Sampai akhirnya keduanya menggapai puncak bersama sama. Jerit Iren benar benar lolos bersama tumpahnya cairan kenikmatan dalam rahimnya.


Iren terkulai tak berdaya dalam genangan air yang merendam tubuhnya sebatas dada.


"Tangks." bisik Alvaro. Membuat mata Iren yang terpejam, terbuka lebar. Menatap wajah pria itu dengan luapan perasaan.


"Mau di mandiin?" tanya Alvaro. Iren mengangguk.


Dengan cekatan pria itu memandikan Iren. Lalu dia juga mandi.


Tepat saat keduanya sudah berganti baju, Austin pun bangun dari tidurnya.


"Ma lapar." rengek bocah itu begitu membuka matanya.


"Oke, cuci muka mu dulu ya. Biar papa pesan makanan dulu, Kita makan di sini saja." ujar Alvaro.


Iren mengangguk setuju. Dia sudah tak memiliki tenaga kalau harus keluar dari kamar ini lagi. Setelah apa yang Alvaro lakukan padanya tadi. Pria itu memaksanya bercinta dengan berbagai gaya, dengan durasi yang cukup lama. Nikmat memang, tapi tubuhnya terasa remuk redam.


.


Bersambung


Pembaca setia emak, jangan lupa tinggalin jejak di sini ya. Buat yang udah tinggalin jejak, thank you banyak banyak 🥰😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2