
Lelaki bertubuh kekar, berambut panjang, tengah berdiri di jendela besar yang menghadap ke balkon kamarnya. Matanya yang tajam menatap lurus kedepan. Di belakangnya seorang wanita berkaca mata tebal sedang melaporkan beberapa agenda untuk besok pagi.
"Jam sembilan bapak ada janji dengan tuan Robert, lalu jam sepuluhnya kita sudah setuju untuk bertemu muka dengan nona Selena. Dan makan siang tuan ada janji dengan nona Irene. Setelah itu kosong sampai sore. Sorenya bapak ada janji temu dengan tuan Adrew." ujar wanita itu membacakan agenda untuk besok, sebelum dia pulang.
Lelaki yang sedari tadi menghadap jendela itu, berbalik cepat menatap wanita berkaca mata tebal itu dengan tatapan tajam.
"Kau bilang janji dengan Irene?" tanyanya dengan suara dalam.
Wanita itu mengangguk. "Iya pak. Nona Irene setuju bertemu dengan bapak, asistennya sudah mengabari saya pagi tadi."
"Kenapa kau tidak bilang?!"
"Barusan saya sudah bacakan jadwal pertemuan bapak. Termasuk juga pertemuan dengan nona Irene." sahut wanita itu mengingatkan.
Pria dengan rambut di kunci satu itu menarik nafas panjang. "Untuk besok, batalkan semua janji temu dengan klien. Kecuali dengan nona Irene. Kau reservasi restauran terbaik di kota ini. Cari tempat yang tenang, dia tidak menyukai tempat yang ramai dan bising." titah pria itu. Membuat wanita berkacama tebal itu kelabakan.
"Tapi pak, kita tidak bisa menunda pertemuan dengan tuan Robert, pria itu rencananya akan terbang kenegaranya besok." ujar wanita itu.
"Lakukan saja seperti perintahku. Kau boleh pulang sekarang." sahut pria itu sembari berbalik memunggungi lawan bicaranya.
Pria itu tak lain adalah Reytama, tampilan dan postur tubuh pria itu tampak berbeda. Pria yang dulu terlihat kalem kini terlihat sangar dan dingin. Kerasnya hidup yang dia jalani merubah total kepribadiannya. Bukan hanya kehidupannya saja yang keras. Tapi bisnis yang dia jalanani juga sangat keras.
Tapi ada yang masih tetap sama pada pria itu. Dia masih mencintai wanita yang sama selama beberapa tahun ini. Fakta bahwa Iren melarikan diri dari Alvaro, membuat Rey berani mencari keberadaan Iren. Sama seperti Alvaro, akhirnya dia menemukan jekak Iren saat dirinya tampil di majalah bisnis. Dan keberuntungan memihaknya, ternyata mereka tinggal di negara yang sama.
Sementara Itu, di tempat lain Iren tengah makan malam bersama seluruh keluarganya. Hilda juga turut serta. Malam ini adalah momen yang paling indah, menurut Iren. Dia bisa berkumpul dengan orang orang yang sangat dia sayangi.
Terutama Hilda, teman yang banyak membantunya dulu. Juga satu satunya teman dekat yang dia punya. Sebab dulu Alvaro selalu membatasi geraknya.
Malam ini Alvaro terlihat sangat tampan. Dia tampil kompak dengan putranya, mereka sama sama memakai kemeja hitam dan celana jeans. Padahal mereka tidak janjian mau memakai baju yang sama.
Sedang Iren tampil sangat cantik dengan dres berwarna putih sebatas lutut. Tampilannya yang sederhana tetap mampu memukau kekasih hatinya. Pria itu tak bisa berpaling sedikitpun dari menatap Iren.
"Apa kau hanya ingin menatap Iren saja? Kami sedang menunggumu memesan makanan." sindir Glen. Saat melihat adik tirinya itu hanya focus pada Iren seorang.
__ADS_1
Alvaro menarik pandangannya, lalu bergantian menatap yang lainnya.
"Maaf, aku lupa kalau ada kalian disini." kelakar ya. Membuat yang lain mendengkus kesal. Iren tertawa kecil mendengar candaan Alvaro. Jarang jarang kan dia bercanda seperti ini.
Tak berapa lama pelayan datang membawa daftar menu untuk mereka. Dan alvaro benar benar menjamu mereka dengan menu menu istimewa yang ada di restauran ini. Ini sebagai bentuk suka citanya bisa menemukan Iren kembali.
"Selamat makan, semoga hidangan ini sesuai dengan selera kalian." ujar Alvaro, ramah.
Cita rasa makanan di restauran ini sangat enak. Suasana, juga momen yang indah membuat makan malam kali ini terasa istimewa. Terutama buat Glen. Pria itu sudah lama di kucilkan oleh keluarganya. Sejak identitas ayah kandungnya terkuak. Alvaro yang selalu bergantung padanya, tiba tiba bersikap seperti orang asing. Ayah yang ternyata bukan ayahnya juga mulai bersikap dingin padanya, sedang ibunya bungkam tak berdaya.
"Tolong bantu aku mendapatkan hati Iren." pinta Alvaro waktu itu. Pria itu datang pada Glen dengan kondisi separuh mabuk. Bahkan ada jejak air mata di sudut pipinya.
Waktu itu Glen tertawa mendengar ucapan Alvaro. Pria yang biasanya suka memaksakan kehendak, kini terlihat tak berdaya.
"Sudah terlambat, Iren sudah akan menikah dengan Kenji." kebohongan yang di berikan Glen waktu itu. Membuat Alvaro semakin tak menentu.
"Aku bisa gila kalau sampai mereka benar benar menikah." keluhnya.
Alvaro tertawa pelan sembari menatap Glen. Dulu sekali, ucapan seperti ini kerap kali dia dengar, saat dia ketahuan membuat onar dan Glen yang akan membereskan.
Pria itu menarik nafas panjang, lalu. "Kak, tolong bantu aku." ucap Alvaro dengan suara pelan. Glen berdiri kaku di tempatnya, mendengar Alvaro memanggilnya kakak. Walau dia tau, itu dia ucapkan karena mabuk. Karena dalam keadaan sadar pria itu tak kan mau memanggilnya kakak.
"Pa apa malam ini aku boleh minta ice cream?" tanya Austin tiba tiba, membuyarkan lamunan Glen.
"Tidak boleh, Austin baru bisa makan ice cream besok. Sekarang sudah malam, nanti Austin bisa kena flu." potong Iren.
Mendengar itu, Austin mengerucutkan bibirnya sembari menatap papanya.
Alvaro tersenyum melihat putranya meminta pembelaan padanya.
"Nanti papa belikan. Tapi ada syarat nya." ujar Alvaro.
"Apa saratnya pa?" tanya Austin dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Austin malam ini bobok bareng tante Uty sama tante Hilda. Bisa?"
Austin tampak berpikir sejenak. "Memangnya mama mau kemana?" tanya bocah itu, sembari beralih menatap Iren.
"Mama ikut papa, kami ada pekerjaan di luar. Jadi tidak bisa temani Austin tidur." sahut Alvaro, sembari mengeling nakal ke Iren. Jawaban itu tentu saja membuat orang orang dewasa itu tersenyum simpul. Sementara Austin mengangguk polos.
"Boleh, gak papa." sahutnya senang. Dia bukan anak manja yang harus di tungguin mamanya. Dia sudah biasa ditinggal Iren hitungan hari.
"Waah anak papa benar benar hebat. Nanti habis ini kita beli ice cream ya." ujar Alvaro di barengi senyum. Austin mengangguk senang.
Alvaro benar benar membawa Iren menginap di luar. Susah payah Irene menolak, tapi Alvaro tetap berhasil membawanya pergi.
Iren berdiri di ambang pintu hotel tempat Alvaro menginap dengan jantung berdebar kencang. Sementara Alvaro menatapnya sembari tersenyum tipis.
"Kau terlihat seperti gadis kecil, saat malu malu begini." ujar Alvaro, lalu meraih pergelangan tangan gadis itu membawanya masuk kedalam.
"Aku tidak malu," cebik Iren, sembari mengikuti langkah Alvaro. Dia tidak malu, hanya jantungnya saja yang serasa mau lepas dari sarangnya.
Alvaro menghentikan langkahnya tepat di ruang tamu.
"Benarkah, tapi pipimu bersemu merah." goda Alvaro sembari menyondongkan tubuhnya sejajar dengan tinggi Iren.
Iren tertunduk berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Dalam hati dia menggerutu, padahal ini bukan yang pertama kali mereka berada dalam satu ruangan.
"Kemarilah." ujar Alvaro sembari menempatkan tubuhnya di atas sofa, lalu menepuk tempat kosong di sisinya. Iren mendekat lalu duduk di sisi Alvaro.
Pria itu menatap wajah Iren yang juga menatap ke arahnya. "Aku bilang pada mama, bulan depan kita akan menikah." ujarnya sambil membelai pipi mulus Iren.
"Apa?!"
.
Bersambung.
__ADS_1