Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 23


__ADS_3

Iren di paksa pulang, setelah berganti baju terlebih dahulu. Kepergian Iren diiringi kecurigaan kedua temannya. Terutama Hilda, dia menduga ada ketidak beresan dalam hubungan keduanya.


Sementara Iren bersama Alvaro pulang ke apartemen. Pria itu hanya diam di sepanjang perjalanan. Iren juga tak berani bicara, melihat ekspresi dinginnya saja membuat otak Iren membeku.edw membeku.edw


"Jangan, lakukan hal seperti ini lagi." ucap Alvaro akhirnya. Irene menoleh menatap Alvaro, sementara lelaki itu menatap kelayar laptop yang ada di pangkuannya dengan wajah sangat tenang.


"Memangnya aku melakukan apa? Kakak punya kehidupan sendiri bukan? Begitu juga aku. Aku juga punya hal yang ingin aku lakukan tanpa harus meminta pendapat kakak, boleh apa enggak," celoteh Iren.


Alvaro menatap Iren sekilas ada seringai samar di sudut bibirnya. "Kau dengarkan saja aku. Karena aku tidak akan mendengarkan pendapat mu." ujar Alvaro dengan sorot mata dingin.


"Aku tidak mau." pungkas Iren.


Alvaro seperti tak mendengar apa yang di katakan gadis itu. Dia sibuk menatap layar laptonya. Sesekali jarinya menekan tombol keyboard. Membuka email yang masuk.


Kesal diabaikan Iren membuang pandangan keluar jendela, menatap lalu lalang kendaraan yang ada di sekitar mereka. Lalu kemudian, Iren baru sadar. Kalau jalan yang di tempuh mobil ini mengarah ke apartemen.


"Kita mai kemana?" tanya Iren, sembari menatap Alvaro dengan tatapan tajam. Sekali lagi Alvaro seperti tak mendengar ucapan Iren sama sekali. Membuat Iren naik darah.


"Kak! Aku gak mau ikut kakak ke apartemen. Kakak juga gak boleh seenaknya gini sama aku. Bisa tidak kakak berhenti berbuat sesuka hati begini. Kakak wajib tanya aku dulu, jangan main bawa gini seenaknya." omel Iren dengan suara tinggi.


Alvaro menutup laptopnya, lalu beralih menatap Iren. Mata elangnya memindai wajah Iren inci demi inci.


Lalu mengembuskan nafas dalam. "Jangan buang tenaga melawan ke hendakku. Kau hanya boleh mengikuti kemauanku. Selain itu tidak boleh. Kalau kau memainkan permainan ini sekali lagi. Aku akan melenyapkan semua orang yang terlibat. Kau tidak akan bertemu mereka lagi, kecuali mati." Ancam Alvaro, di barengi senyum lebar dibibirnya. Padahal wajahnya terlihat begitu tampan. Tapi di mata Iren dia mirip dengan iblis pencabut nyawa.


Tubuh Iren meremang, nafasnya mendadak berhenti di tengoroan. Membuat dadanya sesak dan nyaris meledak.


Tiba tiba saja nyalinya menyusut, seakan ancaman alvaro sudah terlihat olehnya dengan jelas.


Melihat Iren ketakutan, Alvaro menggeram gemas. Lalu dengan sekali gerakan tubuh Iren sudah jatuh dalam dekapan pria itu. Iren tak berani meronta apalagi teriak, dia memilih memejamkan matanya saat dengan kasar alvaro menciumi bibirnya.


Iren hanya bisa meremas kuat kuat jari jemarinya sembari memejamkan mata. Sama sekali tak berniat membalas ciuman panas itu, dia bahkan tak berhasrat sama sekali. Ucapan Alvaro membuatnya takut, sampai sampai tak bisa merasakan sentuhan Alvaroy yang begitu membara. Biasanya dia pasti akan terpancing hasratnya saat bersentuhan dengan lelaki itu.


Alvaro melepas ciumannya dengan kasar. Sorot matanya yang datar berubah penuh kemarahan. Membuat Iren semakin tersurut.


Alvaro menghempas nafasnya kasar. Terlihat dia berusaha mengendalikan sesuatu yang sangat bergejolak dalam darahnya. Sesekali dia menatap ke Iren dengan sorot mata membara, tapi tetap berusaha menguasai dirinya dengan sangat tenang.

__ADS_1


Mobil berhenti di basemen. Dengan posesif Alvaro menggandeng tangan Iren menuju lift. Gengamannya bahkan membuat jemari Iren mati rasa.


Lelaki itu baru melepas tangannya saat mereka sudah tiba di dalam kamar. "Kau istrahat saja di sini. Aku akan pergi keluar." ucapnya sembari menatap Iren lekat lekat.


"Padahal aku ingin di sini, tapi takutnya aku tak bisa menahan diri." imbuhnya lagi.


Iren cuma diam, tubuhnya berdiri kaku tapi tak bertenaga. Saat ini andai Alvaro mendorong tubuhnya dengan jari, sedikit saja. Dia pasti tumbang.


"Kau istrahatlah, aku pergi dulu." ujar pria itu, lalu beranjak pergi meninggalkan kamar. Derap kaki Alvaro terdengar menjauh, membuat tubuh Iren luruh ke lantai.


Tatapan mata itu mana mungkin bisa Iren lupakan. Bukan karena pesonanya, tapi karena mata itu terlihat begitu kejam dan buas.


Dia berulang kali mengancam akan menghabisi orang orang terdekat Iren. Bereng sek! Pria itu benar benar breng sek!


Kenapa meminta Iren tetap tinggal, sementara ada Tery di sisinya. Apa dia berniat memadu Tery. Lalu sifat ca bulnya itu, apa dia perlihatkan juga pada Tery.


Iren tertawa sinis mengingat semua itu. "Baji ngan itu menahanku hanya untuk melampiaskan sifat bina tangnya itu bukan? Karena takut menyakiti Tery, jadi dia menjadikan aku sebagai tumbalnya. Dasar baji ngan kau Alvaro!" rutuk Iren seorang diri. Tapi beberapa detik kemudian wanita itu menangis tersedu sedu. Menangisi nasib dirinya


"Ibu... aku harus apa?" lirihnya di tengah sedu sedan.


Langkah kakinya yang lebar terhenti, saat melihat bayangan Tery di lobby kantornya.


Dia masih diam sembari menatap Tery dari sisi samping. Tiba tiba wanita itu menoleh ke arahnya.


"Hay.." sapanya sembari melambaikan tangannya ke Alvaro. Beberapa karyawan yang kebetulan di sana mencuri curi pandang, penasaran.


Alvaro menarik nafas dalam lalu menghampiri Tery. "Kau mampir lagi?" tanya Alvaro.


"Hmmm," sahut Tery, sembari menganguk senang.


"Ada perlu apa?"


Tery mencebik kesal. "Apa harus ada perlu, bertemu dengan kekasih sendiri." sungutnya.


"Ayo, aku lelah berdiri di sini." ajaknya, sembari menggandeng lengan Alvaro. Membawa langkahnya menuju lift kusus.

__ADS_1


Tery menghepas tubuhnya di atas sofa, sementara Alvaro berdiri di depannya.


"Kenapa gak duduk?" tanyanya wanita itu, manja.


Alvaro nurut, duduk di samping Tery. Tery langsung saja bergelayut manja di lengan Alvaro.


"Aku kangen kamu, Varo. Kita satu rumah, tapi buat ketemu kamu susahnya minta ampun." rajuknya.


"Maaf, tapi aku benar benar sibuk Tery."


"Hhh, andai aku kamu bolehin bantu. Aku pasti dengan senang hati melakukannya."


"Jangan aneh aneh. Focus saja pada tujuan awalmu datang ke sini."


"Gak aneh kok. Aku bakal jadi nyonya Alvaro kan? Jadi apa salahnya?"


Alvaro menarik nafas dalam. "Kau istrahatlah disini, aku selesaikan beberapa pekerjaan dulu." ujar Alvaro.


"Hmmm, tapi cium dulu." rengek Tery manja. Wajahnya yang cantik membuat Alvaro gemas.


Alvaro tersenyum tipis. Lelaki yang memiliki bentuk bibir sangat seksi itu mendekat. Pria manapun tak akan menolak, ajakan dari wanita secantik Tery. Termasuk Alvaro.


Pria itu menyusupkan jarinya ke tengkuk Tery, menekan kepala gadis itu kearahnya. Mengikis jarak di antara mereka. Dengan sangat lembut, dia melu mati bibir bawah dan bibir atas Tery. Membuat Tery terengah oleh kabut gairah.


Ciuman Alvaro begitu lembut dan hangat. Berbeda jauh saat berciu man dengan Iren.


Iren??


Tiba tiba bayangan wajah Iren dengan ekspresi ketakutan. Melintas di pelupuk mata Alvaro. Reflek pria itu mendorong tubuh Tery di depannya. Gerakannya yang keras, membuat tubuh Tery terdorong jauh.


Setelahnya dua orang itu sama sama terdiam. Tery dengan perasaan bingung dan kaget. Sementara Alvaro dengan perasaan campur aduk.


"Varo ada apa?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2