
Iren menggeliat pelan, saat tangan mungil yang terasa dingin menyentuh pipinya. Mata indahnya mengerjab berulang kali, guna menetralkan pandangannya yang sedikit kabur karena bangun tidur. Senyumnya mengembang sempurna menatap wajah mungil di depannya.
"Mom, come on." rengennya, sembari menarik baju tidur Iren. Iren bukannya bangkit malah menyusupkan wajahnya di balik guling. Membuat bocah laki laki berusai empat tahun Itu kembali merengek.
"Mom, nanti papa Glen datang kita belum siap."
Mendengar bocah itu memanggil Glen dengan sebutan papa, Iren langsung bangkit. "Austin, mama sudah bilang. Jangan panggil papa pada om Glen." ujar Iren pemperingati Austin.
Bocah itu menekuk wajahnya tak suka. "Aku ingin panggil om Glen dengan panggilan papa. Agar teman sekolahmu berhenti mengecek ku." ujarnya dengan mimik menggemaskan.
Iren menarik nafas dalam. Putranya sudah besar rupanya, sudah rindu sosok seorang ayah. "Tapi kalau om Glen tidak suka panggilan itu bagaimana?" tanya Iren, sembari menatap wajah yang sangat mirip dengan Alvaro itu penuh kasih sayang.
"Enggak kok, dia suka kok."
"Masak?"
"He, em."
"Dia yang minta di panggil papa." ujar bocah itu dengan lugunya. Iren terdiam, sudah cukup bagi Glen mencurahkan semua waktu dan perhatiannya pada mereka berdua. Iren tak mau membebani dia dengan panggilan papa yang nantinya akan menimbulkan masalah.
"Kalau begitu baiklah. Sekarang Austin keluar dulu ok. Mama mau bersiap dulu."
"Oke mami." sahutnya sembari menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O.
Iren tertawa renyah melihat itu. Wajah Alvaro yang melekat di wajah Austin seperti sebuah hukuman untuknya. Dia benar benar tak bisa melepas sosok pria Arogan itu, walau berada sangat jauh dari sisinya.
Setelah bersiap dia keluar dari kamarnya, dan ternyata Glen sudah ada di ruang tamu bersama Glen.
"Memangnya kita mau kemana hari ini?" tanya Iren. Dia tak tau dua lelaki ini punya rencana apa pagi ini.
"Papa Glen mau ngenalin kita pada mama baru." sahut Austin dengan penuh semangat. Iren terlihat bingung.
Melihat itu Glen tertawa. "Udah gak usah bengong gitu, kamu kelihatan jelek tau." ledek Glen.
Iren mencebik kesal. Dua lelaki ini memang selalu merencanakan sesuatu tanpa melibatkan dirinya.
__ADS_1
Glen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melirik wajah cantik adik angkatnya itu sembari menyetir. Sementara Ausin duduk tenang di belakang.
"Kenji ingin bertemu padamu, dia baru saja sampai tapi sudah mencarimu." ujar Glen membuka percakapan.
"Paman Kenji kesini?" timpal Austin, sebelum Iren buka suara. Iren langsung menatap bocah itu dengan mata membulat. Austin labgsung tersurut. Lalu tatapan Iren berpindah pada Glen, dia menatap Glen dengan sorot mata tajam.
Glen menarik nafas dalam. "Sudah empat tahun usianya, dia sudah mulai mencari sosok ayah dalam hidupnya." ujar Glen dengan suara pelan.
"Bukankah kakak memintanya memanggilnya papa? Lalu apa lagi "
"Iren, aku dan Desi akan segera bertunangan. Setelah itu kami akan menikah, setelah menikah waktuku akan banyak tersisa untuk Desi dan keluarga kecil kami. Itu akan menjadi pukulan berat buat Austin."
Iren menarik nafas berat. "Aku belum mau dekat dengan siapapun saat ini." ujarnya pelan.
"Kalau begitu beritahu ayahnya keberadaan Austin. Kau juga belum bisa melupakannya bukan?"
"Tidak akan. Aku tidak mau merusak rumah tangga orang. Biar saja seperti ini, Austin harus terbiasa dengan keadaannya tanpa ayah."
"Hhhh, Iren.."
"Jadi kita mau kemana pagi ini?" potong Iren cepat.
"Oh ya, beberapa majalah bisnis terus mendesakku, mereka terus saja membujuk ku untuk meminta waktu mewawancarai dirimu." ujar Glen sembari menatap Iren di sampingnya.
"Apa itu Desi yang meminta?" tebak Iren.
Glen tertawa, kekasihnya Desi adalah seorang reporter sebuah majalah bisnis. Dia mendapat desakan dari atasannya untuk mencari informasi mengenai Iren. Keberhasilan Iren membuat gedung seni di negara B tepatnya di kota A ini membuat nama Iren melambung tinggi. Banyak majalah bisnis yang menawarkan wawancara eksklusif dengannya. Tapi Iren menolaknya.
Dia tidak mau seorang Iren di kenal banyak orang. Dia tetap ingin bersembunyi dari seseorang. Dia belum siap bila di pertemukan dengan pria itu. Dia takut tak bisa menahan diri, sebab rindunya pada pria itu setinggi gunung sedalam lautan.
"Nah sudah sampai." ujar Glen.
Mereka berhenti di depan sebuah restauran. Restauran ini bukak pagi hanya di akhir pekan seperti ini. Di hari biasa mereka buka dari tengah hari.
Begitu turun Desi langsung menyambut mereka. "Mama.." teriak Austin sembari berlari memeluk Desi. Membuat Iren termangu di tempatnya. Sejak kapan Austin memanggil Desi dengan sebutan mama?
__ADS_1
"Apa apan ini?" tanya Iren sembari menatap Glen. Pria itu malah ngeloyor pergi meninggalkan Iren seorang diri.
"Hahh! Dasar!" gerutu Iren. Ternyata selama ini dia terlalu sibuk hingga tak tau kalau anaknya memanggil Glen, papa dan Desi, mama.
"Sepertinya aku harus cuti panjang, sebelum Austin manggil aku tante." ujar Iren sembari menggeser kursi di depan Desi dan Glen. Dua orang itu cuma cengengesan mendengar ucapan Iren.
"Aku dengar kau baru saja pulang?" tanya Iren pada Desi. Gadis berwajah cabi itu mengangguk.
"Iya, dan ada berita bagus untuk mu dari tanah air."
"Aku tidak mau dengar."
"Tery menikah minggu lalu." ujar Desi tak perduli Iren mau dengar atau tidak.
"Mereka baru menikah? Aku kira mereka bahkan sudah punya anak."
"Mereka siapa yang kau maksud?" tanya Desi sembari menatap lekat wajah Iren. Dia berharap Iren menyebut nama pria itu. Tapi Iren malah mengangkat bahunya acuh.
"Hhhh dasar!" geram Desi.
"Tery menikahi lelaki lain, setelah di putuskan Alvaro beberapa tahun lalu." jelas Desi tanpa di minta. Tapi Desi pikir Iren harus tau itu. Bila perlu dia beri tahu sekalian bahwa Alvaro masih mencarinya hingga saat ini.
Iren termangu, jadi Alvaro masih melajang hingga saat ini. Iren menarik nafas dalam. "Aku rasa cita rasa makanan di restauran ini semakin enak, iya kan?" ujarnya mengalihkan pembicaraan. Membuat pasangan di depannya mengelus dada.
"Minggu depan luangkan waktumu untuk majalah bisnisku." ujar Desi sembari mengunyah roti di mulutnya.
"Hey aku belum setuju?!"
"Kau ingin aku cepat menikah bukan?" tanya Desi, Iren mengagguk.
"Maka luangkan waktumu minggu depan. Aku tak kan bisa menikahi kakak ganteng mu ini kalau tugas besar ku belum kelar."
"Lagi pula sudah waktunya kau keluar dari persembunyian. Lima tahun apa belum membuat mu kuat? Jangan terus lari, sesekali hadapi kenyataan. Jangan sampai kau banyak membuang waktu untuk hal yang seharusnya terajut indah." imbuh Desi.
Iren menarik nafas berat. Dia pernah berpikir begitu. Tapi dia takut hatinya kembali goyah oleh seseorang. Sedang dia tak tau bagaimana hati orang itu terhadapnya.
__ADS_1
.
Bersambung