
Sepertinya menjemput dan mengantar Austin sudah menjadi rutinas Alvaro sepekan ini. Austin sepertinya sangat menyukai Alvaro, dari pria itu dia menemukan sosok ayah yang selama ini dia rindukan. Pria berwajah dingin itu seakan mengerti apa yang di inginkan Austin. Jadi tak heran dalam waktu singkat mereka terlihat sangat dekat.
Tapi sepertinya untuk beberapa saat Austin akan merindukan Alvaro. Sebab pria itu akan pulang ke negaranya. Ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan kehadirannya di sana.
"Paman mengantar ku kesalah kan?" tanya Austin sembari mengunyah roti yang telah di lapisi selai.
"Iya, tapi ada yang ingin paman sampaikan padamu."
"Apa itu paman?"
"Paman akan pulang ke negara paman hari ini. Jadi saat pulang sekolah orang suruhan paman yang akan menjemputmu."
Austin tak menyahut, dia memandang Alvaro dengan wajah murung. Baru saja dia merasa nyaman dengan Alvaro. Tapi ternyata pamannya itu juga akan meninggalkannya seperti Kenji.
"Paman bosan di sini?" tanya Austin.
Alvaro menggeleng. "Ada pekerjaan paman di sana yang membutuhkan kehadiran paman. Tapi paman akan segera kembali kesini setelah pekerjaan paman selesai." janji Alvaro.
"Paman janji?"
"Tentu saja." sahut Alvaro sembari mengusap lembut puncak kepala Austin.
"Kakak jadi pulang siang ini?" tanya Iren yang baru saja masuk ke ruang makan.
"Iya, kau bersiaplah. Kita antar Austin sama sama." ujar Alvaro.
Kebetulan Iren bisa berangkat siang hari ini, jadi tak masalah kalau harus mengantar Austin terlebih dulu. Kalau biasanya dia sengaja menghindari Alvaro dengan beribu alasan. Kali ini pengecualian, sebab hari ini Alvaro akan bertolak ke negaranya.
Wajah sumringah Austin saat menggandeng tangan mama dan papanya masuk ke halaman sekolah membuat Iren berpikir ulang tentang keputusannya. Austin begitu mendambakan keluarga yang utuh seperti teman teman lainnya.
"Papa janji akan cepat pulang kan?" tanya Austin begitu tiba di depan kelas. Membuat Iren melongo menatap dua pria itu. Papa? Bukannya barusan saat di mobil bocah itu memanggil Alvaro, paman. Lalu kenapa sekarang papa?
"Wah papamu akan ke luar negeri ya Austin?" tanya bocah bertubuh tambang yang ada di samping Austin.
__ADS_1
Austin mengangguk bangga. "Kau mau di bawakan oleh oleh sama papa ku?" tanya Austin pada bocah itu. Bocah itu mengagguk cepat.
"Baiklah papa ku pasti akan membawakan oleh untuk mu, benarkan pa?" tanya Austin sembari menoleh ke Alvaro.
"Tentu saja," sahut Alvaro sembari tersenyum.
"Terimaksih pa." Autin memeluk tubuh Alvaro erat erat, Alvaro menyabut pelukan itu dengan hangat. Mata bocah itu terlihat berembun, saat bulir bening hampir menetes di sudut matanya. Cepat bocah itu menyekanya. Iren tertegun melihat itu, hatinya terasa seperti di iris sembilu tajam, terasa perih dan pedih. Apa dia terlalu egois selama ini, sampai tidak menyadari betapa Austin butuh sosok Alvaro di sisinya.
"Masuklah, papa sudah harus pergi." ujar Alvaro sembari melepas pelukannya. Bocah itu mengagguk lalu berlari masuk kedalam. Sekilas Iren melihat air mata Austin menetes membasahi pipi cabinya. Iren benar benar terpukul melihat itu.
Karena tidak membawa mobil sendiri, Iren di antar Alvaro kekantornya. "Aku titip Austin, jangan terlalu keras padanya. Kau tau bukan kita berhutang banyak padanya." ujar Alvaro.
Iren menatap pria di sampingnya dengan seksama. 'Titip? Dia juga anakku.' batin Iren.
"Ada apa? Kau tidak senang dengan kalimat ku?"
"Bukan tidak senang, hanya mendengar kalimat itu keluar dari mulut kakak. Terdengar aneh bagiku. Aku belum lupa bagaimana kakak meragukan kehamilanku. Padahal tak ada seorang pria pun yang menyentuhku saat itu." Sahut Iren masih dengan tatapan lekatnya.
Amvaro menarik nafas dalam dalam. "Maaf soal itu, tapi sungguh aku menyesali ucapanku selama hampir lima tahun ini. Iren ada banyak rencana di kepalaku untuk kita dan Austin. Tapi sayang, kau memilih mewujudkannya dengan orang lain. Jujur saja aku tak terima, dan ingin merebutmu secara paksa. Tapi akhir akhir ini aku banyak berpikir, bahwa perasaanku sudah tak penting lagi. Bagiku saat ini, Austin lebih penting dari segalanya." ujar Alvaro.
Tapi dia ingin menikmati permainan ini terlebih dahulu. Setidaknya Alvaro harus mendapat balasan atas kesengsaraan yang di derita Iren selama ini.
"Bagaimana kabar mama?" tanya Iren mengalihkan pembicaraan.
"Mingkin baik baik saja. Kalau terjadi sesuatau pada mama dia pasti menghubungi aku." sahut Alvaro datar.
"Mungkin? Memangnya sudah berapa lama kalian tidak berkomunikasi?"
Alvaro tak langsung menyahut, dia menatap Iren sembari tersenyum. "Kamu sendiri, sudah betapa lama tidak bertemu mama? Mama mengisi kepergianmu seperti menangisi anaknya sendiri. Tapi kau bahkan tak mengabari mama walau hanya sekali."
Iren tertunduk. "Itu karena aku menghindari kakak."
"Kau memang hebat bersembunyi. Aku bahkan tidak bisa menemukan jejakmu. Apa Glen menyewakan mu jet pribadi makanya tak terlacak?"
__ADS_1
Iren menggeleng, membuat Iren mengerutkan alusnya heran. Sebab tidak ada penerbangan atas nama mereka selama lima tahun ini.
"Lalu dengan apa kau pergi ke luar negeri?"
"Kapal."
"What?! Yang benar saja!"
"Aku tidak bohong. Kami pergi menggunakan kapal barang. Ada kapal kenalan kak Glen yang kebetulan bersandar di sana dan akan berlayar kenegara ini. Kak Glen tau, kalau menggunakan pesawat, kakak pasti bisa melacak keberadaanku." Jelas Iren.
Alvaro tertawa lalu menatap Iren lekat lekat. "Dasar licik, aku belum memberi Glen perhitungan. Jadi dia bisa tenang sekarang." ujarnya.
"Janga gagagu dia, akulah yang membuat dia melakukan itu. Saat itu aku putus asa, aku takut kakak akan memaksaku mengugurkan kandunganku. Aku berpikir hanya itu satu satunya jalan keluar untukku. kakak tau kan, aku tidak punya siapapun untuk di minta tolong selain kak Glen."
"Dimataku dia tetap saja bersalah. Ngomong ngomong kau dan Kenji apa tidak bisa di pikirkan lagi?"
"Apanya yang dipikirkan. Kami sudah dekat selama hitungan tahun. Keadaanku dia juga tau. Lalu apa yang perlu dipikirkan. Lagi pula dia sangat menyayangi Austin. Itu yang paling penting.
Alvaro mengepalkan jarinya erat, berusaha mengendalikan perasaan marahnya. Membayangkan wanita pujaannya di sentuh lelaki lain membuatnya tak tahan untuk tidak merasa marah.
"Kau tidak tau, seperti apa keluarganya. Mereka tidak sama dengan kita. Mungkin Kenji bisa menerima mu. Tapi belum tentu dengan keluarganya. Aku yakin pertunangan kalian tidak di ketahui oleh keluarga Kenji, bukan?" tebak Alvaro.
"Dia rela meninggalkan semuanya kalau memang keluarganya tak menerima ku." sahut Iren dengan sangat santai.
"Tidak bisa begitu Ir..."
"Sudah sampai." Potong Iren sembari menatap keluar jendela. Mobil mereka berhenti tepat di depan kantor Iren.
"Aku turun dulu. Kakak hati hatilah di jalan." ujar Iren sebelum beranjak turun.
Alvaro hanya diam menatap wajah cantik Iren. Bahkan saat gadis itu sudah turun dan mobil sudah melaju, pandangannya masih tertuju ke gadis itu.
Seperti ada yang hilang dalam hatinya, juga ada nyeri yang menusuk nusuk jantungnya. Tapi dia hanya bisa menghela nafas tanpa bisa melakukan apapun. Selemah ini kah dia sekarang?
__ADS_1
.
Bersambung