Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 38


__ADS_3

"Ahh," Iren melenguh dalam, saat jemari Alvaro menyusup kebalik gaunnya yang sudah tak utuh lagi. Pria itu merobeknya dengan kasar. Lalu menyusupkan jemarinya menjamahi setiap inci kulit tubuhnya.


Mendengar lenguhan Iren, Alvaro melepas ciumannya. Dia memainkan jarinya pada puncak merah jambu milik Iren. Dan sekali lagi terdengar lenguhan panjang dari bibir gadis itu. Rahang Alvaro mengeras menahan hasratnya yang meronta. Ekspresi gadis itu membuatnya ingin cepat cepat memasuki inti tubuhnya. Menghujam dalam di sana agar gadis itu menjerit penuh nikmat.


Alvaro menjeda cumbuannya untuk sesaat, dia merebahkan tubuh Iren di atas ranjang agar lebih leluasa menjamahi tubuh gadis itu. Tubuh Iren sudah menjadi candu bagi Alvaro. Tidak ada secuilpun dari tubuh Iren yang tidak dia sukai. Semuanya terlihat begitu sempurna. Dan yang pasti kenikmatan Iren mampu membuatnya ******* berkali-kali.


Desah Iren kembali terdengar. Dia bahkan menggeram tak sabaran. Saat Alvaro hanya mengesekan juniornya di atas permukaan. Padahal inti tubuhnya sudah berdenyut nikmat.


"Kak..." rengeknya, sembari menunduk menatap wajah Alvaro yang tengah melahap gunung kembar miliknya. Wajah yang tampan juga dada bidang yang terpahat sempurna. Membuat gadis itu merengek ingin segera di masuki oleh Alvaro.


Alvaro yang sedang menyesap gunung kembar Iren, mengangkat wajahnya. "Apa?" sahutnya, dengan suara serak. Iren menggigit bibir bawahnya, saat melihat wajah Alvaro. Wajah yang di selimuti oleh kabut gairah itu membuat inti tubuhnya semakin berdenyut. Caranya memandang membuat darah Iren berdesir. Tanpa sadar dia mengarahkan inti tubuhnya, menekan kuat junior Alvaro yang menempel di permukaan. Alvaro mendesis oleh rasa nikmat dari gesekan Iren.


Alvaro tersenyum sinis. "Sudah tak kuat?" tanyanya dengan mata sayu. Sedang jemarinya memilin puncak Pink muda yang sedari tadi dia sesap.


Iren kembali menggigit bibir bawahnya, sembari mengagguk.


"Jangan menahannya, teriak saja bila tak tahan." ujar Alvaro, sembari memasuki Iren. Gadis itu benar benar teriak, saat benda tumpul itu melesak ke dalam inti tubuhnya. Rasanya luar biasa nikmat, saat junior Alvaro memenuhi tubuhnya. Bergerak maju mundur didalam sana. Gesekan pada dinding senggamanya memercikkan gelora nikmat. Semakin dalam Alvaro menghujam, inti Iren semakin kuat berdenyut menghisap.


Alvaro menggeram, sembari meremas bukit kembar Iren dengan satu tangannya. Saat inti tubuh Iren terasa berdenyut, meremas miliknya dengan rasa yang begitu nikmat.


"Kau sangat nikmat sayang." racau Alvaro, sembari menggerakkan bokongnya maju mundur. Netranya nyalang menatap geliat tubuh Iren di bawahnya. Desah gadis itu, geliat tubuh moleknya, membuat Alvaro semakin memacu hentakan bokongnya.


Iren tak di beri kesempatan untuk membalas sentuhan Alvaro.Dia kembali menggeram menikmati saat tubuh Alvaro kembali menghentak dalam pada inti tubuhnya. Hentakan yang membuat Iren di hantam gelombang kenikmatan yang tiada tara. Gadis itu bahkan menggigit punggung tangan Alvaro hingga berbelas dan mengeluarkan darah. Saat jemari lelaki itu menyentuh bibirnya, sentuhan ringan itu justru membuat gelombang hasratnya terpacu.

__ADS_1


"Kak aku mau sampai.." erang Iren. Tubuhnya melenting ke atas. Sementara kukunya menancap ke punggung Alvaro, hingga meninggalkan bekas kemerahan.


"Tunggu Aku." Interupsi lelaki itu, sembari menambah hentakan tubuhnya semakin intens. Tak lama terdengar erangan panjang dari bibir Iren. Tubuh gadis menegang, sementara inti tubuhnya berdenyut nikmat. Meremas milik alvaro yang masih bergerak liar.


"Aahh.." Erang Alvaro, saat merasakan remasan lubang senggaman Iren. Dia pun meraih pelepasanya. Tubuh lelaki itu juga menegang, memperlihatkan guratan otot otot yang sempurna. Wajahnya memerah, terlihat begitu sen sual saat mendapatkan pelepasannya.


Tubuh kekar itu terkulai kesamping, dengan mata terpejam. Sisa sisa kenikmatan masih bisa dia rasakan. Iren benar benar nikmat. Membuat pelepasannya terasa begitu sempurna.


Alvaro melirik gadis di sampingnya. Mata gadis itu terlihat terpejam, dadanya masih naik turun karena nafasnya yang belum teratur.


"Bersihkan tubuhmu dulu baru tidur." ujar Alvaro. Dia meraih selimut. Membungkus tubuh Iren juga tubuhnya, lalu membopong tubuh Iren masuk kedalam kamar mandi.


Iren menyusupkan wajahnya di balik dada bidang Alvaro. Dirinya lelah juga malu. Kemarin hatinya mengikrarkan janji pada dirinya sendiri, ingin mengabaikan Alvaro. Tapi tadi dia merengek rengek meminta Alvaro memasuki tubuhnya. Benar benar memalukan.


Setelah keduanya selesai mandi, Alvaro membalut tubuhnya juga tubuh Iren dengan bathrobe berwarna putih.


"Aku bisa jalan sendiri." ujar Iren, saat Alvaro hendak menggendong tubuhnya lagi.


"Aku tau, kau bisa jalan sendiri." ujar Alvaro. Lalu meraih tubuh Iren lalu membopongnya.


Iren termangu menatap pantulan tubuh Alvaro pada cermin di depannya. Pria itu tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Mimpi apa lelaki ini? Biasanya dia tak semanis ini.


Focus Iren teralihkan oleh dering ponsel Alvaro. Sekilas dia melirik ke ponsel yang masih berdering. Hatinya berdenyut sakit saat Nama Tery muncul di layar.

__ADS_1


"Sudah kak." ujar Iren, lalu beranjak bangkit. Kemudian melangkah ke ruang ganti. Dia sengaja berlama lama di ruang ganti. Sebab tak ingin mendengar percakapan Alvaro dengan Tery. Bukan egois, tapi dia punya perasaan. Dia hanya ingin menjaga hatinya agar tak terluka.


Cukup lama dia di dalam ruang ganti. Saat keluar dari sana dia tak melihat Alvaro di dalam kamar. Mungkin pria itu masih berbicara dengan Tery di telpon.


Lelah juga ngantuk membuat gadis itu memutuskan untuk tidur duluan. Dia juga tidak tau, Alvaro akan menginap di sini atau malah pulang untuk bertemu Tery. Dalam sekejab Iren benar benar terlelap. Bahkan dering ponselnya do dalam nakas tak membuatnya bangun.


Alvaro yang baru saja masuk kamar, setelah selesai telponan dengan Tery. Mengernyikan Alisnya mendengar dering ponsel Iren. Ini sudah lewat tengah malam, siapa yang menghubungi gadis itu di jam segini.


Alvaro membuka nakas tepat saat ponsel Iren berhenti berdering. Dia tertawa sinis saat melihat nama kak Glen tertera di daftar panggilan tak terjawab.


"Dasar breksek!" umpatnya geram. Dia langsung memblokir kontak Glen dari ponsel Iren.


"Tidak perduli setulus apa dirimu. Kau tidak boleh mendekati wanitaku." gumamnya sembari menatap wajah Iren yang sedang terlelap.


Bahkan seorang Tery saja tak mampu membuatnya meninggalkan Iren seorang diri.


Barusan Tery menghubunginya. Gadis itu tak bisa tidur karena mama dan papanya sudah pulang. Dia memohon pada Alvaro agar menemaninya malam ini. Alvaro menolak. Dia tak bisa pergi begitu saja, setelah melihat ekspresi Iren. Wajah gadis kesayangannya itu berubah murung saat melihat panggilan masuk dari Tery. Biasanya dia tak perduli, entah kenapa kali ini wajah murung Iren mampu mempengaruhi hatinya.


"Apa yang telah kau lakukan padaku Iren." ucap pria itu, sembari membelai wajah Iren yang terlelap.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2