Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 68


__ADS_3

"Menikahlah dengan Alvaro secepatnya." Kalimat itu kembali mama ucapkan saat Iren pamit pulang, siang tadi. Dia tidak bisa lama lama menunggu mama angkatnya itu, ada banyak pekerjaan yang tidak bisa di tunda pengerjaannya. Sementara Alvaro juga pulang ke tanah air. Seperti dirinya, Alvaro juga punya seambrek pekerjaan.


Iren menarik nafas panjang. Menikah? Apa Alvaro menginginkan pernikahan dalam hubungan mereka? Pikiran itu yang kini bergelut dalam benaknya.


Tok...


Tok...


Terdengar suara ketukan di pintu ruang kerja Iren.


"Masuk." pinta Iren tanpa beralih dari layar komputer di hadapannya. Setelah mendengar ketukan langkah seseorang barulah Iren mengangakat wajahnya.


"Kak.." panggil Iren dengan ekspresi kaget. Dia tak menyangka yang datang adalah Alvaro. Kapan pria itu datang?


"Sudah makan siang?" tanya pria berwajah tampan itu dengan ekspresi datar.


"Belum sempat." sahut Iren. Sembari menatap Alvaro tak berkedip. Dia datang dengan pakaian santai. Memakai kaos oblong dan celana jeans. Dengan stelan itu dia terlihat lebih muda dari usianya.


"Aku beri waktu sepuluh menit selesaikan pekerjaan mu, setelah itu aku akan memaksamu keluar dari ruangan ini. Itu kalau kau menolak ikut dengan ku." ujarnya sembari menarik sudut bibirnya membingkai senyum tipis.


Iren mencebik. "Sepuluh menit? Itu pemerasan namanya." gerutu Iren.


Alvaro mengangkat tangan kirinya, menatap benda pipih di pergelangan tangannya. Lalu..


"Sembilan menit lagi," ucapnya sembari kembali menatap Iren.


"Aku bahkan belum melakukan apapun?!" protes Iren dengan mata melebar.


Kembali Akvaro melakukan hal yang sama. "Delapan menit lagi." ujarnya, sembari mengukir senyum.


Iren menatap sekilas dengan tatapan jengkel, lalu kembali focus pada layar komputer di depannya.


Sebenarnya tak ada yang bisa dia lakukan dengan waktu sepuluh menit itu. Dia bahkan tak bisa membaca cetak biru yang sedang dia kerjakan. Kehadiran Alvaro yang tiba tiba membuat hatinya rusuh.


Sepuluh menit kemudian...

__ADS_1


"Waktumu sudah habis." ujar Alvaro sembari beranjak bangkit dari sofa, berjalan mendekati kemeja kerja Iren.


Iren mengendurkan tubuhnya kebelakang, sembari menatap sosok Alvaro yang beranjak mendekat.


Tubuh kekarnya, aroma tubuhnya. Membuat darah Iren berdesir halus. Bayang bayang kehangatan sentuhan Alvaro seakan samar samar mampu di rasakan Iren. Padahal pria itu belum melakukan apapun pada Iren, dia hanya menatap penuh rindu pada wanita pujaannya itu.


"Kita mau kemana?" tanya Iren, berusaha menepis perasaan gugupnya. Dia masih belum terbiasa dengan kehadiran Alvaro yang tiba tiba begini.


"Rencananya mau makan siang, tapi kalau kau berniat melakukan hal lain. Tidak apa, aku akan temani." sahut Alvaro.


Iren mencebik, sembari menyaut tas diatas meja dia beranjak bangkit.


Melihat wajah manyun Iren, Alvaro mengulas senyum. Entah kenapa, pria ini sekarang gampang sekali mengukir senyum. Membuat kesan kaku yang melekat padanya perlahan memudar.


"Bagaimana kabar Austin?" tanya Alvaro sembari fosus pada jalan di depannya.


"Dia merengek setiap hari, memintaku menghubungi kakak." sahut Iren.


Alvaro menatap Iren sekilas. Lalu menarik nafas dalam. "Aku sangat sibuk belakangan ini, sampai tidak punya waktu untuk Austin." keluh Alvaro. Iren tak menyahut, dia hanya melirik pria itu sekilas lalu kembali menatap lurus kedepan.


Alvaro membawa Iren ke meja yang sudah di reservasi olehnya terlebih dahulu.


Pria itu menarik kursi untuk Iren, baru kemudian dia duduk tepat di depan gadis itu.


Tak menunggu lama, hidangan sudah di sajikan oleh pelayan di atas meja.


"Ibu memintaku menikahimu dalam waktu dekat ini, bagaimana menurut mu?" tanya Alvaro di sela sela makannya.


Iren menghentikan makannya, lalu beralih menatap Alvaro di depannya. Mama memintanya?


"Menurut kakak sendiri bagaiama?" Iren balik bertanya. Kalimat Alvaro barusan membuat hatinya sedikit kesal. Seakan dia sendiri tak ingin menikahi Iren, kalau bukan karena keinginan mamanya.


"Aku bertanya padamu, kenapa kau malah balik tanya padaku."


Iren menarik nafas dalam. "Entahlah biar aku pikirkan lagi saran mama."

__ADS_1


"Entahlah?!" Alvaro mengerutkan keningnya menatap Iren.


"Hmmm." ujar Iren sembari mengedikkan bahunya.


"Apa kau tidak berniat menikah dengan ku?"


Iren mentap Alvaro lekat lekat. "Kakak sendiri apa berniat menikahiku? Kakak bicara pernikahan karena mama yang minta kan?" ujarnya. Ada nyeri di sudut hatinya saat mengucapkan kalimat itu.


Untuk apa pria itu terus mengejarnya sejauh ini, kalau hanya ingin menyentuh tanpa berniat memberinya status yang jelas.


Alvaro terlihat sedikit bingung, pria itu berusaha mencerna lagi kalimat yang baru saja dia ucapkan.


"Bukan begitu, tentu saja aku berniat menikahimu. Tapi mulanya aku berpikir untuk memberimu waktu, tapi keadaan mama sepertinya tidak baik baik saja. Jadi aku rasa tak ada salahnya mempertimbangkan keinginan mama. Mama juga sedang mengurus dokumen pelepasan adopsi untuk mu. Jadi jangan salah paham. Disini tentu aku orang yang sangat ingin menikahimu." jelas Alvaro, setelah dia menyadari kalimatnya tadi membuat Iren salah mengerti.


Iren menatap Alvaro lekat lekat. Hhhhh, dia tak tau ucapan pria itu benar atau hanya ingin membuatnya percaya. Yang pasti Iren meyakini ucapan pria itu adalah benar adanya.


Banyak dari gerak tubuh Alvaro yang memperlihatkan kesungguhannya. Caranya memperlakukan Iren juga sorot mata yang berbeda saat pria itu menatap kearahnya. Sorot mata penuh kelembutan dan cinta, Iren menyadari itu. Tapi dia berusaha menyangkalnya, padahal dia tau sorot matanya tidak seperti yang dulu. Yang hanya di penuhi oleh hasratnya saja.


Tapi tetap saja, wanita butuh pengakuan. Tanpa pengakuan, sikap manis tak kan membuat wanita yakin bahwa lelakinya benar benar menginginkanya.


"Iren sebenarnya hari ini aku merencanakan sesuatu untuk mu. .." Alvaro menjeda ucapannya. Dia memanggil pelayan agar memberesi meja dari sisa makan mereka. Iren masih diam menunggu kelanjutan ucapan pria itu yang masih mengantung.


Alvaro mengangkat tangannya tinggi tinggi seperti melambai pada seseorang. Iren menoleh kebelakang ke arah Alvaro melanbaikan tangannya. Dari arah belakang terlihat orang orang yang dia kenal berjalan kearahnya sembari memegang buket bunga. Ada Glen, Austin, Uty juga pacarnya Glen, dan paling mengejutkan adalah kehadiran Hilda. Ini benar benar mengharukan buat seorang Iren.


Iren menutup mulutnya sembari menoleh ke Alvaro yang tengah menatapnya dengan senyum. Pria itu beranjak bangkit, lalu berjongkok tepat di hadapannya. Sembari menyodorkan kotak berbentuk hati, dengan hati hati pria itu membuka kotak. Memperlihatkan isinya pada Iren. Satu buah cincin berkilauan terlihat bertahta dengan indah didalamnya.


"Irene, maukah kau menikah dengan ku." ujar pria itu dengan penuh kelembutan. Iren tak bisa berkata kata, matanya sudah penuh oleh air mata.


"Mama jangan nangis, ayo bilang mau.." rengek Austin saat melihat mamanya bukan menjawab mau, tapi malah menangis.


Mendengar itu Iren tertawa sembari menangis. Dia menatap Alvaro lekat lekat lalu mengagguk tegas.


 "Iya aku mau.."


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2