Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 47


__ADS_3

Dokter Ana baru saja selesai memeriksa Irene. Gadis itu harusnya di infus, sebab tubuhnya tak menerima asupan nutrisi sama sekali. Dia hanya makan beberapa butir anggur juga air putih. Tapi Iren menolak, dia tak ingin Alvaro curiga. Bisa bisa kehamilannya ketahuan Alvaro.


"Belilah susu kusus wanita hamil, agar nona mendapat asupan nutrisi. Nona bisa menukar wadahnya agar tuan tak curiga. Minum sesuai petunjuk yang tertera." ujar Dokter Ana.


Iren mengangguk lemah. Di ruangan ini saja, entah sudah berapa kali gadis ini keluar masuk kamar mandi. Aroma Alvaro memenuhi seluruh ruangan ini, membuatnya tak tahan.


Dokter Ana menarik nafas berat, dia tak ingin mendesak Iren agar jujur soal kehamilannya. Dia sendiri tau, situasi seperti apa yang di hadapi gadis itu. Dengan sikap Alvaro yang sangat di kenalnya, dia tau kalau gadis itu tak punya banyak pilihan.


"Ya sudah aku pamit dulu, nona istrahatlah." ujar Dokter Ana.


"Iya, terimakasih dok." sahut Iren. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk milik Alvaro.


Dokter Ada terhenyak kaget, begitu membuka pintu ruang kerja Alvaro di sambut oleh cekcok mulut tamu Alvaro.


Seorang wanita berdiri membelakangi pintu, dia berbicara dengan suara tinggi sembari berkacak pinggang memarahi Fika.


Dokter Ana bisa mengenali, siapa gadis yang berbicara dengan nada tinggi itu. Dia Tery.


"Kau benar benar berani ya?!" bentak Tery pada Fika yang hanya tertunduk.


Gadis itu memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap Tery. "Maaf Nona, tapi pak Alvaro sudah berpesan pada saya. Siapapun tidak boleh masuk kecuali Dokter Ana." ujarnya, entah yang ke berapa kali gadis itu mengulang kalimat ini. Berharap Tery memahami ucapannya.


"Itu berlaku untuk tamunya! Bukan aku! Apa kau tidak tau itu?" bentak gadis itu. Dia mungkin merasa sangat malu di perlakukan seperti itu, sebab dia datang tak sendiri. Dia datang bersama temannya.


Fika hanya tertunduk, tidak ada lagi kata kata yang bisa meyakinkan wanita di depannya ini. Sudah lebih dari sepuluh menit wanita itu mencecarnya dengan kalimat kalimat tak enak di dengar. Padahal dia hanya mematuhi perintah atasan, tapi kenapa wanita ini bersikap begitu arogan. Kalau dia merasa sangat penting, kenapa tidak menghubungi pak Alvaro saja.


"Ada apa ini?" terdengar suara berat menegur mereka. Cepat Fika mengangkat kepalanya melihat dewa penyelamatnya.


"Varo, kau lihat dia. Bisa bisanya dia memarangku masuk..."


"Aku yang memintanya, jadi jangan usik dia." Potong Alvaro cepat. Lalu pria itu beralih ke dokter Ana yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Kau sudah selesai?" tanya Alvaro. Dokter Ana mengangguk. "Sudah tuan."


"Pulanglah, nanti aku akan menghubungi mu lagi."


"Baik tuan."


Alvaro mengangguk, lalu kembali menatap Tery. "Ada apa?" tanya Alvaro singkat.


"Aku hanya ingin mengunjungi tunaganku, tapi malah di tolak begini." sungut Tery, berharap pria itu akan membujuknya.


Alvaro menarik nafas dalam. "Sudah bertemu kan? Sekarang pulanglah. Aku lagi pusing, lain kali kalau datang kau harus menghubungi ku. Biar kejadian seperti ini tidak terjadi."


Tery mencebik kesal. "Kau berniat mempermalukan aku? Kau tinggal buka pintunya. Apa susahnya?!"


Alvaro menatap ruang kerjanya, lalu kembali menarik nafas berat. "Ada Iren di dalam." sahutnya, sembari menatap lekat lekat wajah Tery. Seakan memberitahu bahwa dia tidak mungkin mengusir Iren, demi dia.


Tety menatap ruangan itu dengan penuh amarah. Tapi dia tidak berani bertindak gegabah. Mengingat bagaimana Alvaro memperlakukan gadis itu dengan sangat istimewa. Walau dia sangat ingin membunuhnya saat ini juga.


"Baiklah, tunggu aku di tempat parkir." sahut Alvaro. Tery ingin menyahuti, tapi Alvaro sudah beranjak masuk kedalam ruang kerjanya.


Walau kesal, tapi gadis itu terpaksa tersenyum lebar saat meninggalkan ruangan ini.


Didalam ruangan, Alvaro langsung menuju ruang pribadinya. Dia menarik napas panjang saat melihat Iren terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh layu.


"Iren." panggilnya pelan. Iren membuka matanya sedikit lalu kembali terpejam. Dia terlihat sangat ngantuk, sampai sampai tak bisa membuka matanya.


"Apa kita mau pulang?" gumamnya, matanya masih saja terpejam.


"Tidak, aku akan keluar dengan Tery. Kau istrahatlah di sini. Kalau kau butuh sesuatau. Cari Fika, dia akan membantumu. Kau dengar?!"


"Hmmm." Jawab Iren dengan gumaman.

__ADS_1


"Aku pergi dulu." pamit Alvaro, lalu beranjak pergi.


Langkah Alvaro berhenti di depan meja Fika. Gadis itu langsung berdiri melihat big bos menghampiri meja kerjanya. "Fika, jangan biarkan gadis yang ada di ruangan ku keluar dari sana, dengan alasan apapun. Bantu dia bila dia butuh sesuatu." titahnya pada Fika.


Fika mengagguk patuh. "Baik pak." sahutnya patuh.


"Baiklah saya pergi dulu."


"Iya pak." sahut Fika. Gadis itu menatap punggung Alvaro dengan tanda tanya besar di kepalanya. Siapa gadis yang begitu di lindungi Alvaro. Bahkan tunangannya sendiri tak bisa mengusiknya. Tapi tak ada yang berani bergosip, walau mereka penasaran. Apa lagi saat ini pintu ruangan bos mereka sudah di jaga dua bodyguard berbadan besar. Salah bicara bukan hanya kehilangan pekerjaan mereka mungkin bisa kehilangan nyawa.


Sementara itu Tery menunggu Alvaro di mobil sendirian. Dia terpaksa memulangkan temannya bersama supir pribadinya. Dia ingin membahas Iren dengan Alvaro. Tentu saja dia tak ingin temannya mendengar apa yang akan mereka bicarakan.


Tak berapa lama, Alvaro datang dan langsung masuk mobil.


"Kau mau makan di mana?" tanya Alvaro. Pria itu menatap Tery di sampingnya. Andai Alvaro pria normal, tampilan Tery hari ini pasti akan membuatnya menelan ludahnya dengan kasar. Tapi sayang pria itu tidak normal. Dia tak tertarik pada tubuh wanita, kecuali tubuh Iren.


Tery tak menyahut, dia menatap Alvaro tak berkedip. "Apa harus kau mempermalukan aku di depan orang, seperti tadi?" ucapnya geram.


"Itu karena kau datang tanpa menelponku. Dia sedang sakit, aku tidak bisa meninggalkan dia di rumah sendirian. Jadi aku membawanya ke kantor." sahutnya datar. Seakan yang dia ajak bicara bukan tunganggannya. Apa dia tidak bisa berpikir, bagaimana sakitnya hati Tery saat mendengar Akvaro mengucapkan kalimat itu.


"Kau bicara seperti itu padaku tanpa beban sama sekali, kau benar benar breng sek Alvaro!" bentak Tery hampir menangis.


Alvaro menarik nafas sembari memejamkan matanya erat. "Tery, aku sedang banyak pikiran. Aku malas berdebat denganmu, lagi pula aku sudah mengatakan semuanya padamu sebelum kita bertunangan. Bahwa keberadaan Iren disisiku, tidak seorangpun boleh mengusiknya. Kalu kau keberatan, kau bisa membatalkan pertunangan kita. Aku tidak suka membahas hal yang tidak penting seperti ini." ujarnya tanpa perasaan. Membuat Tery mengeratkan jari jemarinya dengan erat.


Tery benar benar geram. Iren sudah menjerat hati Alvaro sampai begitu dalam. Alvaro bahkan tak perduli dengan pandangan orang, dia berani membawa Iren dan melindunginya dengan begitu mencolok. Alvaro sudah kehilangan akal sehatnya karena wanita itu.


Dia terpaksa menjalankan rencananya dengan segera. Atau dia benar benar tersingkir oleh Iren.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2