Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 49


__ADS_3

Sudah dua hari Iren di kurung di apartemen. Pintu keluar bahkan di tunggu dua bodyguard selama dua puluh empat jam. Lelaki bertubuh kekar itu bergantian berbagai. Mereka terlihat siaga saat jarak Iren dengan pintu hanya hitungan meter. Mereka bahkan makan minum di tempat itu, beranjak hanya saat buang air. Sedang Alvaro sendiri tidak pulang kerumah setelah menempatkan anak buahnya di sisi Iren. Juga menyita ponsel dan laptop milik Iren. Iren kembali jadi tawanan Alvaro.


Tak banyak yang bisa di lakukan Iren, selain rebahan dan makan. Dia tak harus keluar membeli anggur, sebab anak buah Alvaro sudah menyediakan keperluannya termasuk anggur.


Malam ini Iren memilih bersantai di ruang tamu sembari nonton tv. Dia sudah hampir tertidur saat Alvaro pulang kerumah. Jujur hatinya senang tau pria itu pulang. Walau marah karena tuduhan Alvaro, tapi sesungguhnya hatinya sangat merindundukan pria itu.


Gerakan Iren yang akan menyambut Alvaro mendadak berhenti. Netranya nyalang menatap Alvaro yang tengah melangkah kearahnya. Dia tidak sendiri, dia pulang di temani oleh seorang wanita.


Dada Iren rasa terbakar, saat dengan sengaja wanita itu bergelayut di lengan Alvaro.


"Ambil barang yang kau perlukan, malam ini Kau tidurlah di kamar tamu." ujar Alvaro dengan ekspresi datar.


Iren menatap wajah lelaki berahang keras itu dengan sorot mata penuh amarah. Tanpa kata dia beranjak bangkit menuju kamarnya. Meminguti barang yang akan dia perlukan malam ini.


Iren menyeka sudut matanya dengan punggung telapak tangannya. Bulir bening menetes di sudut matanya tak berhenti. Sembari mengemasi beberapa barang miliknya.


Belum siap Iren menyusun barangnya, Alvaro dan wanita itu sudah menyusul masuk. Cepat gadis itu menyusut air matanya. Dia tak ingin di pergoki Alvaro sedang menangis.


"Sayang, suruh wanita itu cepat sedikit. Aku sudah tak sabar ingin bercinta dengan mu." rengek wanita itu manja. Membuat jemari Iren mengepal.


Dia sungguh tak tahan kalau harus berlama lama di kamar ini. Tak perduli ada barang yang dia butuhkan belum sempat dia kemasi, dia bergegas beranjak pergi.


Saat melewati Alvaro Iren sama sekali tak melihatnya. Dia benci pria ini, ingin rasanya dia mencakar wajahnya yang selalu terlihat datar itu.


Iren menutup pintu kamar dengan keras sebelum keluar. Begitu Sosok Iren tak terlihat, Alvaro melepas tubuh gadis cantik itu dari tubuhnya.


"Tugasmu selesai, jadi jangan menyentuh tubuhku lagi." ujarnya, lalu beranjak kelamar mandi. Meninggalkan wanita itu yang memasang wajah tak puas.


Alvaro mengguyur tubuhnya dengan air dingin menggunakan shower. Bayangan wajah Iren saat meninggalkan kamar membuat hatinya sakit. Kenapa hatinya bisa selemah ini saat berhadapan dengan Iren. Jejak air mata yang tertinggal di pipi gadis itu, nyaris meruntuhkan pertahanannya. Jelas jelas gadis itu selingkuh, dan tengah mengandung benih orang lain. Tapi kenapa dia tak sanggup melakukan apapun padanya.


Alvaro mematut wajah tampannya dengan tatapan kosong. Dia marah dan ingin rasanya membunuh orang saat mendengar pengakuan Iren. Malam itu juga dia mencari jejak lelaki itu, tapi sayang dia sangat licin hingga anak buahnya tak bisa melacak jejaknya sama sekali.

__ADS_1


Kenyataan ini membuatnya semakin marah, selingkuhan Iren ternyata bukan lelaki biasa.


Marah, sakit hati, kecewa. Juga takut kehilangan, berkecamuk dalam dadanya. Dia ingin membalas perbuatan Iren dengan sangat kejam. Tapi melihat wanita itu berurai air mata, dia malah ingin memeluknya.


"Dam it!" umpatnya geram. Ada apa dengan dirinya. Kenapa hatinya bisa selemah ini menghadapi Iren. Bayangan Iren menatapnya dengan sorot mata penuh luka membuatnya hampir gila. Dia ingin memeluk tubuh mungil itu, lalu mengatakan padanya bahwa dia tak berniat menyakiti hatinya.


Alvaro keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai jubah mandi. Begitu dia keluar dari kamar mandi, wanita yang tadi dia bawa langsung menyambutnya.


"Kau sudah selesai?" tanyanya dengan suara manja. Sembari melangkah mendekat.


"Berhenti di situ. Aku sudah bilang jangan menyentuhku tanpa izin. Atau kau ingin kehilangan jari tanganmu!" ujar Alvaro dengan wajah mengelam. Wanita itu tersurut mundur. Dalam hati dia menggerutu, untuk apa dia di bayar mahal. Kalau menyentuh saja dia di larang.


"Istrahat saja di situ, jangan keluar tanpa ijin ku." titahnya. Dia tak ingin sandiwaranya di ketahui Iren.


Alvaro menghentikan langkahnya tepat di depan kamar tamu. Tanpa sadar, langkah kakinya membawanya kesini.


Cukup lama Alvaro berdiri di sana, berusaha merasakan keberadaan Iren di dalam sana. Tapi hanya sepi yang ada, kamar itu sunyi seakan tak berpenghuni. Apa yang di lakukan gadis itu sekarang?


Sementara Iren di dalam kamar berusaha memejamkan matanya. Hatinya benar benar sakit atas perlakuan Alvaro, tapi statusnya yang hanya sebagai wanita simpanan. Terpaksa membuatnya diam. Tidak ada hak baginya untuk melarangan Alvaro, karena dia bukan siapa siapa bagi lelaki itu.


Iren baru bisa tidur menjelang subuh. Bahkan saat orang suruhan Alvaro mencoba membangunkan gadis itu pagi ini. Dia tak terbangun.


Kening Alvaro mengernyit saat melihat anak buahnya menghampiri ruang makan seorang diri. "Mana dia?" tanya Alvaro, pandangan matanya tertuju ke kamar tamu.


"Nona tak menjawab panggilan saya tuan." sahut pria bertubuh kekar itu.


"Ya sudah, mungkin dia baru bisa tidur menjelang pagi. Bangunkan dia jam sembilan nanti. Pastikan dia sarapan pagi ini, walau hanya sepotong buah. Kabari aku bila dia sudah bangun." ujar Alvaro berpesan. Membuat wanita di sebelahnya mengernyitkan alis menatapnya. Kalau dia sekarang itu, kenapa harus menyewanya untuk menyakiti hari wanita itu. Dasar aneh...


Tepat jam sembilan Iren kembali di bangunkan oleh orang suruhan Alvaro. Barulah gadis itu bangun. Setelah membersihkan diri, dia keluar kamar untuk sarapan.


"Nona Iren. Tuan berpesan agar nona sarapan walau hanya dengan sepotong buah." ujar pria berwajah kaku itu,begitu Iren sampai di dapur.

__ADS_1


Iren yang baru akan membuka pintu kulkas, mengurungkan niatnya. Dia berbalik arah ke ruang tengah.


"Nona." panggil pria yang tadi menyampaikan pesan Alvaro.


Iren menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap pria itu. "Ada apa?" tanyanya dengan sorot mata tajam.


"Nona harus sarapan, baru boleh meninggalkan dapur." ujar pria itu tegas.


Iren tertawa sinis. "Kalau aku tidak mau memangnya kau mau apa. Menembak lepalaku?" cibir Iren, lalu kembali melangkah ke ruang tengah.


Iren menyentuh perutnya yang terasa pedih minta di isi. Dia tak sabar menunggu respon dari Alvaro. Apa yang akan di lakukan pria itu bila Iren tak mengindahkan ucapannya. Walau dia sendiri tak yakin, Alvaro akan seperduli itu padanya.


Tak berapa lama pria tadi datang sembari menyerahkan ponsel padanya. "Ini tuan, dia ingin bicara." ujar pria itu.


Iren menerima ponsel dari tangan pria itu dengan wajah di tekuk.


"Kenapa tidak sarapan? Apa kau memang bertekat ingin mati?!" terdengar suara tinggi Alvaro begitu ponsel menyentuh daun telinganya.


"Iya, kenapa?" sahut Iren tak mau kalah.


"Kalau ingin mati jangan di rumahku. Merepotkan saja." gerutu Alvaro.


"Tenang saja, aku juga tak sudi mati di tempat ini." sahut Iren lalu memutus panggilan.


"Ambil ini. Jangan berikan padaku saat pria breng sek itu menelepon." ujar Iren , sembari mengulurkan handphone di tangannya. Pria itu menerima ponselnya dengan perasaan bingung.


Selera makan Iren benar benar hilang seketika. Dengan perasaan marah dia kembali ke kamarnya. Di dalam kamar, Iren mengeluarkan sepotong kertas berisi nomor ponsel kak Glen. Dia memintanya pada mama kemarin. Entah apa yang ada di benak gadis itu, yang jelas dia berniat melepaskan diri dari Alvaro.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2