
Iren tertawa lepas, obrolannya dengan Hilda dan Sonya membuatnya lupa urusan hati dan perasaan.
Dia benar benar ingin bersenang senang malam ini. Walau hanya di dalam apartemen. Iren yang selalu tertutup dan tak ingin terlalu akrab saat bergaul, kini melakukan hal sebaliknya.
"Kau suka apanya dari pria itu?" tanya Hilda, gadis yang suka blak-blakan itu menyorot tajam pada dua temannya.
Dia bertanya pada dua sahabatnya apa yang mereka sukai dari pemeran utama pria di film yang mereka tonton.
Kedua gadis yang sedang menatap tak berkedip kelayar kaca itu menjawab serempak. "Dada bidangnya." sahut mereka di barengi senyum nakal.
"Yakin suka yang itu?" tanya Hilda dengan senyum jail.
"Kau sendiri suka yang mana?" Iren balik bertanya, kali ini tatapannya beralih pada gadis yang sedang tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya itu.
Melihat kemana arah pandangan Hilda, Iren mengumpat kasar. "Dasar mesum." cebiknya sembari menoyor kepala Hilda. Gadis itu malah terbahak.
"Lakik itu pada dasarnya sama aja. Yang membuat mereka berbeda ya cuma itunya." celoteh Hilda.
"Cuma kamu yang mikir gitu?" sungut Iren. Tapi dalam hati Iren tak menyangkal, bahwa fisik adalah faktor pertama yang membuat orang tertarik pada lawan jenisnya.
Saat bersama Rey dia tak hanya menilai dari sikap pria itu memperlakukannya. Tapi dia menyukai wajah tampan pria itu, matanya yang selalu mengerling nakal ke arahnya. Juga bibirnya yang selalu memperlihatkan kehangatan senyumnya.
Lalu dengan Alvaro juga karena fisik, awal mula timbul perasaan tak wajar di hatinya. Tak lain karena dia terlalu sering melihat fisik Alvaro tanpa sengaja. Saat pria itu berenang, atau saat pria itu sedang berolah raga.
Tapi untuk menyukai secara spesifik salah satu anggota tubuh pria itu, sejauh ini belum.
"Yakin cuma aku? Tuh film kalo pemeran prianya di ganti sama yang meranin tukang kebun, apa kalian yakin masih bersemangat nonton?" cibir Hilda.
Kedua gadis itu menggeleng sambil nyengir.
"Ya tapi kedengarannya aneh tau, suka sama itunya." ucap Sonya sembari menatap kelayar kaca.
"Bagi ku enggak." sahut Hilda acuh. Membuat kedua temannya menatap Hilda gemas.
Tapi kemudian perhatian keduanya jadi beralih ke "Itu" . Hhhh, dasar gak konsisten.
Sudah hampir jam lima pagi, Sonya sudah lebih dulu tumbang. Sementara Hilda sudah mulai oleng, begitu juga Iren. Sudah dipastikan ketiga gadis ini besok pagi pasti absen kuliah.
Benar saja, ketiganya bangun tepat pukul sepuluh pagi. Mereka bahkan tak beranjak dari atas karpet. Tidur saling peluk dengan posisi acak kadut.
Iren memeluk kaki Hilda, sementara Hilda memeluk lengan Sonya. Sonya sendiri memeluk bantal sofa.
*******
Alfaro berdiri di bawah shower, mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Berusaha menghilangkan bayang bayang Iren dalam tempurung kepalanya.
Karena Iren dia hampir membunuh Melia. Tiba tiba saja wajah Iren melintas di kepalanya. Padahal dia sedang bercinta dengan panasnya bersama Melia.
Mengingat Iren, membuat pria itu kehilangan hasrat bercinta. Mendadak perasaan jijik hinggap di hati Alvaro.
Bagi Akvaro melakukan kekejaman selagi bercinta, seperti pemicu hasrat baginya. Tapi tadi adalah hal yang berbeda. Tiba tiba dia merasa jijik dan ingin menyingkirkan wanita itu.
Lalu dimana sekarang keberadaan wanita itu. Hilang begitu saja, padahal dia hampir membunuh seseorang karenanya.
Alvaro keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk. Dia tersenyum miring saat mendapati ranjang tempat mereka bercinta sudah kosong. Hanya ada pelayan yang sedang mengganti seprai dan sarung bantal. Mereka juga memunguti pakaian Alvaro untuk di buang.
__ADS_1
Sudah jadi kebiasaan Alvaro, dia tak kan mau menyentuh barang bekas percintaan semalam.
"Ada lagi yang tuan inginkan?" tanya pelayan itu dengan wajah tertunduk. Alvaro menatap kerahnya sekilas, lalu duduk di tepi ranjang.
"Siapkan baju untuk kupakai besok pagi. Antar ke ruanganku tepat jam sembilan pagi. Aku mau warna hitam. Dan jangan terlambat." titahnya.
"Baik tuan." ucap pelayan itu lalu beranjak pergi meninggalkan ruang pribadi Alvaro.
Tepat jam sembilan, pintu ruang pribadi Alvaro di ketuk dari luar. Pria yang sedang terlelap itu perlahan membuka matanya. Lalu beranjak turun dari ranjang menuju pintu.
Ceklek..
"Ini baju yang anda minta tuan." pria yang kemarin menyambutnya, berdiri di ambang pintu dengan menenteng sepasang baju.
"Masuklah." ujar Alvaro.
Pria itu mengekori langkah Alvaro masuk kedalam kamar. Lalu meletakkan dengan hati hati baju Alvaro di atas ranjang.
Alvaro duduk di sofa dengan memakai jubah mandi. "Bagaimana dengan Melia?" tanya Alvaro.
Pria itu sedikit membungkuk. "Sudah di tangani seperti biasa tuan."
"Baguslah, aku akan transfer tagihannya padamu nanti."
"Terimaksih banyak tuan. Oh ya, kami baru saja mendapatkan barang bersih. Apa tuan berminat."
Alvaro tersenyum miring. "Simpan untuk lain kali."
"Tapi tuan, bagaimana dengan biaya perawatannya?"
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu."
"Hhhmmm."
Begitu pelayan itu pergi, Alvaro masuk kedalam kamar mandi guna membersihkan diri. Sebab tiga puluh menit lagi dia ada rapat dengan beberapa pihak pengembang.
Alvaro menatap layar laptonya dengan senyum miring. Pandai sekal tiga curut nakal itu mengelabui orang suruhannya.
Berbekal rekaman cctv area rumah Hilda dan juga Mall. Anak buahnya menemukan posisi Iren dan dua temannya.
Tiba tiba ponselnya berdering, Alvaro melirik sekilas ke benda pipih itu. Lalu membiarkan benda itu tetap berdering. Setelah diam beberapa saat, ponselnya kembali berdering.
"Hhhmm."
"Alvaro, kamu dimana?" terdengar suara lembut Tery di ujung telpon.
"Dikantor, memangnya dimana lagi," sahut Alvaro datar.
"Tadi malam kenapa tiba tiba meninggalkan rumah. Ponselmu juga tak bisa di hubungi?"
"Teman teman mengadakan pesta minuman. Aku mabuk berat jadi tak bisa pulang." dusta Alvaro.
"Mau aku buatkan bubur pereda mabuk?" tawar Tery.
"Tidak usah, aku sudah akan keluar kantor. Ada bebera pertemuan penting setelah ini." Tolak Alvaro.
__ADS_1
"Mmm, gitu ya. Ya udah, sampai ketemu dirumah nanti malam."
"Hmmm." sahutnya.
Alvaro menarik nafas kasar. Ada apa dengannya. Itu adalah Tery, wanita yang dia cintai selama ini. Tapi kenapa hatinya terasa teramat dingin menyambut perhatian wanita itu. Lalu Iren, gadis bengal itu. Kenapa hatinya selalu hangat menayabut menyambut gadis itu.
Alvaro berdiri di ambang pintu apartemen Hilda, bersama dua orang anak buahnya. Pria berwajah tampan tapi dingin itu mengetuk pintu apartemen dengan sedikit kasar.
Tak berapa lama terdengar derap langkah kaki dari dalam.
Ceklek...
"Kak." panggil Hilda tertahan, lalu cepat menatap ke dalam.
"Boleh aku masuk?" tanya Alvaro dengan sorot mata dingin.
Hilda mengangguk gugup. Alvaro langsung masuk begitu dapat ijin dari Hinda. Pria itu nyalang meneliti setiap sudut apartemen mencari sosok Iren. Lalu tatapannya berhenti pada gadis cantik yang sedang rebahan di depan tv memakai kaos oblong dan celana shot sebatas paha.
Gadis itu begitu asik nonton, sampai sampai tak menyadari Alvaro sudah ada di ruangan ini sedang menatapnya.
"Iren." panggil Hilda pelan.
"Hhhmm." Sahut Iren, tanpa beralih dari layar kaca.
"Ren." panggil Hilda lagi, kali ini dengan intonasi lebih tinggi.
Iren menoleh lalu terdiam kaku di tempatnya. Ada Alvaro di depan Hilda. Kapan pria itu datang?
"Sudah cukup main mainnya. Sekarang waktunya pulang." ucap Alvaro dengan suara baritonya. Melihat sorot matanya menatap Iren. Dua sahabatnya tersurut takut. Dugaan Hilda yang tadinya sempat hilang, kini muncul lagi kepermukaan.
Bukankah aneh, melihat Alvaro datang dengan dikawal dua bodyguard-nya. Hanya untuk menjemput Iren. Bukan hanya itu, sikap posesif itu terlihat berlebihan untuk seorang kakak. Kecuali mereka memiliki hubungan di luar hubungan kakak adik angkat.
"Kakak pulang saja dulu, nanti aku nyusul." sahut Iren, lalu berbalik menatap layar kaca di depannya.
"Masuk!" setengah berteriak Alvaro memberi perintah kepada dua pria di luar apartemen.
Membuat Iren dan dua temannya kaget bukan kepalang. Jadi pria itu berniat memaksa Iren dengan cara ini.
"Kak, apa apaan sih!" sentak Iren. Gadis itu menatap Alvaro dengan sorot mata penuh protes.
"Kau pulang dengan ku dengan suka rela, atau di seret mereka." ujar Alvaro, sembari menjentikkan jarinya. Dua pria bertubuh kekar itu bergerak mendekat ke arah Iren.
"Oke, oke. Aku pulang dengan mu!" cebik Iren tanpa membubuhi panggilan kakak seperti biasa.
Melihat situasi tak kondusif Hilda menarik lengan Iren. "Ren, apa gak apa apa kamu ikut dia." bisik gadis itu, sembari melirik Alvaro.
"Gak apa apa, paling juga mati di siksa dia." sahut Iren acuh.
"Gila lo.." umpat Hilda, semakin menyertakan cekalan tangannya.
"Gak, aku becanda." sahut Iren dengan senyum.
"Benerkan?" tanya Sonya.
"Iya, bener." sahutnya. Lalu menepuk kedua bahu kedua sahabatnya, sebelum pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Bersambung.