Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 56


__ADS_3

Seperti biasa, pagi sekali Iren sudah meninggalkan Austin dengan Uty di rumah. Apa lagi hari ini dia ada pekerjaan di luar kantor.


Beberapa hari yang lalu Iren dapat job kecil. Mendesain interior kantor untuk seorang Ceo. Awalnya Iren menolak karena pekerjaannya benar benar menumpuk, selain itu dia belum pernah terjun langsung seperti ini. Tapi bujuk rayu sang sekretaris meluluhkan hatinya. Akhirnya dia menyanggupi. Itung itung melebarkan sayap pada bidang deseain interior.


Hari ini dia akan meninjau lokasi, untuk memeriksa kembali setiap detail pekerjaan sebelum serah terima pada pemilik gedung. Lagi pula beberapa perabot belum tertata di tempatnya. Walau Iren sudah memberikan sketsa pada pekerja, tetap saja dia harus melihat sendiri hasilnya.


Iren sedang menyusun sofa ditengah ruangan. Dia memilih warna hitam untuk sofa, sebab menurut sekretaris yang menghubunginya, bosnya adalah pria dengan karakter dingin dan tegas. Tiba tiba terdengar ketukan di pintu.


Tok...


Tok...


"Masuk." ujar Iren tanpa menghentikan aktivitasnya. Iren tak sendiri di ruang Direktur ini. Ada dua pekerjanya yang membantu memasang gorden di dalam ruang pribadi. Sebab ruangan ini memiliki ruang pribadi tersembunyi di balik ruang kerja.


Ketukan kaki salah seorang dari mereka yang masuk menghentikan aktivitas Iren. Ketukan langkah itu adalah miliknya, Iren tau betul itu. Dengan pemikiran seperti itu, Iren cepat berpaling memastikan.


Dan, gadis itu diam terpaku di tempatnya. Menatap wajah datar itu dengan bola mata bergetar.


"Kakak." gumamnya nyaris tanpa suara. Orang yang di panggil kakak itu melewatinya begitu saja, meneliti beberapa interior yang sudah terpasang. Setelah itu barulah dia menatap Iren.


"Kau orang yang mendesain ruang kerjaku?" tanya pria itu datar. Iren mengangguk. Matanya menatap sosok yang tak lain adalah Alvaro itu tak berkedip. Bagaiamana bisa pria yang berusaha dia hindari itu berada satu ruang dengannya. Berbicara layaknya orang asing.


Tidak ada yang berubah pada wajah pria itu, dia tetap terlihat muda dan tampan. Padahal lima tahun sudah berlalu. Dan usianya hampir menginjak kepala empat.


Iren menarik nafas dalam dalam, berusaha menenangkan hatinya yang terasa berkecamuk tak menentu. Padahal lelaki itu seperti tak merasakan apapun padanya.


"Kau memiliki selera yang cukup bagus. Aku menyukai desein ruangan ini." ujar Lelaki itu datar.

__ADS_1


Iren menarik sudutnya bibirnya berusaha tersenyum, walau wajahnya terasa kaku dan mati rasa.


"Terimakasi, saya senang anda menyukainya." ujar Iren sembari sedikit membungkukkan tubuhnya.


Alvaro mengangguk, lalu melihat jam di pergelangan tangannya. "Sepertinya sudah waktunya makan siang. Kalian istrahat saja dulu. Orangku sudah menyiapkan makan siang untuk semua pekerja. " ujar Alvaro pada pekerja Iren. Mereka tampak menatap Iren meminta pendapat atasannya itu. Melihat Iren mengangguk mereka pun keluar dari ruangan itu.


"Nona Iren, bisa minta waktunya sebentar." ujar Alvaro menahan langkah kaki Iren yang hendak lkut keluar.


Iren menghentikan langkahnya tepat diambang pintu. "Ada yang ingin Anda sampaikan?" tanya Iren.


Alvaro tak menyahut, tatapan datarnya berubah seketika. Membuat dada Iren berdebar tak karuan. Apa lagi saat pria itu berjalan kearahnya dengan perlahan.


Iren bernafas lega saat pria itu melewati tubuhnya begitu saja. Tapi saat Alvaro malah menutup pintu di belakangnya, tubuh Iren melemas.


Iren memejamkan matanya saat merasakan desiran angin menerpa tubuhnya, bersamaan dengan sosok Alvaro yang mendekat.


Langkah kaki pria itu berhenti tepat di belakang Iren. Tak ada kata, untuk sesaat suasana terasa sepi.


Setelah menarik nafas dan menguatkan hatinya, Iren berbalik menatap wajah kakaknya.


"Kakak apa kabar? Aku kira kakak tadi benar benar tak mengenaliku." sapanya dengan wajah ramah.


Alvaro tak menyahut, hanya sorot matanya yang menatapnya dengan ungkapan seribu kalimat.


"Aku tidak tau kantor ini milik Kakak, kalau aku tau aku akan mendesain ruang ini lebih baik lagi." imbuh Iren, dengan wajah tanpa dosa, seolah tak pernah ada luka yang berdarah darah merobek hatinya. Wajah tanpa dosanya membuat tangan Alvaro mengepal erat.


"Kau pergi sejauh ini, apa sebenarnya yang kau pikirkan?" tanya lelaki itu dengan suara rendah. Alvaro tak terlihat baik baik saja saat ini. Emosinya jelas terlihat pada sorot matanya yang menusuk.

__ADS_1


Kalau terus begini Iren bisa bisa tak mampu menahan luapan perasaannya. Jujur saja, saat ini dia masih memiliki perasaan pada Alvaro. Perasaannya tak pernah hilang walau banyak luka yang sudah pria itu torehkan.


"Jam makan siang sudah hampir habis, aku tidak bisa lala lama menemani Kakak di sini. Aku keluar mau makan siang dulu. Masalah pekerjaan nanti kita bicarakan lagi setelah makan." ujar Iren, sembari beranjak menyaut tas sandangnya kemudian melangkah pergi.


Tapi sayang langkahnya terpaksa terhenti oleh gerakan cepat Alvaro. Pria itu menyambar tubuh ramping Iren kedalam rengkuhan lengan kokohnya.


"Siapa yang mengijinkan mu pergi hah??" geramnya marah. Menginjak kan kaki kesegaran ini saja sudah membuat perasaannya tak karuan. Apa lagi saat melihat sosok wanita yang begitu dia kasih benar benar berdiri di depannya. Dia hampir saja memeluk tubuh Iren saat itu juga, beruntung dia mampu mengendalikan perasaannya. Walau dengan susah payah.


"Kak! Lepas!" Iren mendorong tubuh kekar itu sekuat tenaga. Tapi tubuh itu bahkan tak bergeming seincipun.


"Diam!" bentak Alvaro geram. Bagaiaman bisa gadis ini terlihat baik baik saja setelah apa yang dia lakukan. Sementara Dia setiap hari hampir gila karena memikirkan dirinya.


"Bagaimana aku bisa diam kalau kakak memperlakukan aku seperti ini. Lepas, sebentar lagi pegawai ku masuk. Aku tidak mau mereka melihat hal tak senonoh seperti ini." balas Iren sembari menengadah menatap wajah Alvaro yang mengelam.


"Aku tidak perduli biar sesisi gedung ini tau aku memelukmu." ujarnya. Rangangnya terlihat mengeras menahan luapan perasaannya.


"Kak, jangan lakukan lagi hal bodoh yang dulu pernah Kakak lakukan padaku."


"Bodoh katamu?!"


"Iya. Apa kakak tidak merasa tindakan kakak dulu sangat bodoh? Cukup kak, tidak ada yang tersisa di antara kita. Aku tidak mau lagi hidup di bawah tekanan kakak. Aku juga ingin hidup normal seperti wanita lain. Yang memiliki hak mencintai dan di cintai. Bukan sembunyi di balik layar sebagai simpanan seseorang." ujar Iren, netranya menatap Alvaro dengan tatapan berani.


Alvaro kehilangan kata, dia tak menyangka lima tahun ini Iren belajar banyak kata untuk mematahkan segala argumennya. Banyak pertimbangan yang mendadak muncul dalam benaknya.


Tapi kemudian tertawa, sembari melepas dekapannya. "Kau ingin seperti wanita lain, kau juga merasa berhak mencintai dan di cintai. Jadi itu maumu saat ini?"


"Tentu saja, siapa yang mau hidup dalam bayang bayang masa lalu yang kelam. Tidak ada yang ingin kak."

__ADS_1


Alvaro mengangguk sembari menarik nafas dalam. "Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu. Semoga kau bahagia." ucap pria itu lalu beranjak pergi meninggalkan Iren seorang diri.


Tubuh Iren limbung kebelakang, serasa lemas tak bertulang. Dunia rasanya berhenti berputar, saat Alvaro mendekap tubuhnya. Dekapan itu masih sehangat dulu, aroma tubuhnya juga masih sama. Dia benar benar merindukan semua bentuk kehangatan dari pria itu. Tapi dia juga tak mau di menjadikan wanita simpanan.


__ADS_2