Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 59


__ADS_3

"Bagaimana? Apa ada pergerakan dari gadis itu?" tanya Alvaro pada orang suruhannya, sembari memijit pelipisnya hingga meninggalkan ruam di permukaan kulitnya. Dia sedang di kamar hotel saat ini.


"Dia baru saja meninggalkan apartemen bersama keluarganya."


"Keluarga?"


"Sepertinya begitu."


"Baiklah, ikuti terus mereka. Lalu kirimin aku lokasinya."


"Baik tuan."


Alvaro menarik nafas dalam. Keluarga? Itu pasti Glen. Dia belum bertemu Glen semenjak datang. Kalau bisa dia tak ingin bertemu dengan lelaki itu.


Tak berapa lama orang suruhannya mengirim lokasi keberadaan Iren saat ini. Alvaro mengerutkan keningnya menatap membaca pesan yang dikirim orang suruhannya. Iren berada di mall yang tak jauh dari hotel tempat dia tinggal saat ini.


Alvaro menyambar jaket, topi juga masker. Lalu beranjak pergi. Dua puluh menit kemudian Alvaro sampai di pelataran parkir mall yang di maksud.


Ting!...


Terdengar notifikasi pesan masuk di ponselnya. Alvaro memeriksa pesan tersebut sebelum turun dari mobil.


"Mereka sedang di arena bermain anak anak." bunyi pesannya. Alvaro tertegun di tempatnya. Tempat bermain anak?


Tiba tiba ingatanya kembali pada beberapa tahun lalu, saat Iren mengatakan padanya bahwa dia tengah mengandung anaknya.


"Oh si al!" umpat Alvaro. Kenapa pikirannya jadi kacau begini, bagaimana bila kekhawatirannya terbukti benar.


Dengan pikiran berkecamuk Alvaro masuk kedalam mall mencari keberadaan Iren.


Ada banyak tempat bermain anak di lantai ini. Tapi dia tak ingin bertanya pada orangnya, di mana tepatnya mereka berada. Alvaro memilih mencarinya sendiri.


Pertama tama dia mendatangi permainan yang ada di lantai satu. Setelah mengamati tempat itu beberapa saat, ternyata Iren tak ada di sana.


Dia kemudian bertanya pada petugas keamanan di mall itu. Dan kata mereka di lantai paling atas juga ada wahana bermain untuk anak. Alvaro pun bergegas menuju kesana.


Alvaro mengambil tempat cukup jauh dari wahana bermain. Tapi dari tempatnya sekarang dia masih bisa mengawasi setiap pengunjung.

__ADS_1


Tiba tiba tatapannya terpaku pada sosok yang sangat dia kenal. Dia Glen, kakak tirinya. Pria itu tak sendiri, dia terlihat bermain basket dengan bocah laki laki. Diantara mereka Alvaro tak melihat Iren. Mungkin gadis itu ada di tempat lain.


Alvaro terus memperhatikan Glen dan bocah yang tak terlihat wajahnyanya itu. Sebab posisi bocah itu memunggunginya.


Baru tak berapa lama sosok Iren muncul diantara mereka.


Entah bagaiaman perasaan Alvaro saat ini, tak bisa di gambarkan hanya dengan sebaris kalimat. Melihat tawa canda Iren yang begitu ceria jantungnya terasa berdebar kencang.


Dia hanya ingin mengamati kebersamaan mereka dari jauh. Tanpa berniat menghampiri mereka. Ini bukan saat yang tepat untuk menemui Iren. Dia hanya ingin memastikan siapa bocah itu?


Dia tau Glen dan Desi tidak memiliki anak diluar nikah. Jadi bocah itu sudah pasti bukan anak Glen.


Hampir tiga puluh menit Alvaro duduk di sana sembari memesan jus dan cemilan. Barulah terlihat mereka beranjak meninggalkan tempat itu.


Entah keberuntungan atau apa, mereka keluar dari wahana bermain melewati Alvaro. Mereka tak mengenali pria itu karena penampilannya yang tak seperti biasa. Penampilan Alvaro tak pernah lepas dari stelan jas mewah setiap harinya.


Alvaro melirik dengan sudut matanya saat Glen yang menggendong bocah itu melewatinya. Tiba tiba tubuhnya terasa kaku saat bocah di gendongan Glen berpaling kearahnya. Ya tuhan wajah itu....


Alvaro membasuh wajahnya di wastafel kamar mandi mall. Bayangan wajah bocah itu terus melintas di benaknya tak mau berhenti. Wajah itu mirip sekali dengan wajahnya saat kecil. Kalau mereka di sandingkan, siapapun akan berpikir kalau mereka pasangan ayah dan anak. Bocah itu benar benar copy paste dirinya.


"Hahh! Ini benar benar gila. Dia benar benar melahirkan anak itu?!" ujarnya sembari memukul tepian wastafel. Membuat pengunjung lain yang ikut menggunakan tempat itu menatap heran ke arahnya.


Alvaro menarik nafas dalam dalam guna mengisi paru parunya yang terasa kosong. Dadanya terasa sangat sesak oleh perasaan yang berkecamuk. Perasaannya campur aduk, antara marah, senang, dan entah perasaan apa lagi.


Sementara itu Iren tak langsung pulang, mereka berkeliling mengikuti keinginan Austin. Dari makan hingga membeli mainan yang dia sukai bocah itu. Tawa dan canda mereka tak lepas dari pemantau Alvaro. Dia dengan setia mengikuti mereka tanpa ketahuan.


Glen membawa mereka pulang saat Austin sudah terlihat lelah. Dan bibirnya sudah tidak lagi berkicau mengomentari apa yang dia lihat.


"Kita pulang ya. Mama capek." ajak Iren saat melihat kode dari Glen. Austin cuma mengangguk, dia sudah tak memiliki tenaga hanya sekedar menyahuti ucapan mamanya.


Mereka sampai di rumah pukul delapan malam. Glen juga tidak mampir, karena Desi sudah menunggunya di rumah. Sebagai reporter Desi tak memiliki banyak waktu luang. Jadi saat dia memiliki waktu seperti saat ini, Glen tak kan menyinyikannya.


Setelah membersihkan diri Iren langsung masuk kerja. Sedang Austin sudah tidur di kamarnya.


Sebenarnya pekerjaan Iren sangat banyak. Tapi karena Austin yang terus merengek, juga Glen yang terus mendesak agar membebaskan Austin dari tahanan rumah. Iren terpaksa harus melupakan pekerjaannya. Padahal ada cetak biru yang deadline. Sebegitu hebat otaknya sekarang, mampu mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu dan dengan hasil yang memuaskan. Itu terjadi setelah Austin lahir, gelar ibu tunggal memaksnya harus bekerja dan berpikir ekstra.


Tiba tiba konsentrasi Iren teralihkan oleh denting bel apartemennya yang terus berbunyi.

__ADS_1


Iren menatap jam di dinding ruang kerjanya. Sudah jam sebelas malam. Siapa yang bertemu malam malam begini?


Dengan perasaan malas Iren beranjak kepintu. Dari door viewer dia mengintip siapa yang berumur ke rumahnya di jam segini.


Mata Iren membulat saat melihat siapa yang berdiri di sana. Mau apa pria itu bertemu malam malam begini. Bukankah ini bukan pertanda baik.


Seakan tau Iren ada di balik pintu dan sedang menatapnya, pria itu membalas tatapan Iren. "Cepat buka pintunya." ujarnya tegas. Hanya dengan gerakan bibir.


Iren terpaku di tempatnya, tak tau harus apa. Lalu bel rumahnya kembali berbunyi, tak hanya sekali tapi berulang kali.


Dengan terpaksa Iren membuka pintu rumahnya sebelum Austin bangun.


"Ada ap..."


Brak..


Alvaro mendorong paksa pintu yang hanya terbuka sedikit itu, membuat kalimat Iren terputus sebab tubuhnya terdorong pintu kebelakang. Kemudian menutupnya dengan kasar.


"Kak! Apa yang kau lakukan?"


"Kau sudah melihatnya, kenapa bertanya." ujar pria itu lalu beranjak masuk kedalam tanpa meminta izin terlebih dahulu. Iren kalang kabut, cepat dia menarik lengan Alvaro menahan langkah kaki pria itu.


"Kak, ini sudah malam. Bukan waktunya untuk bertamu. Kakak datang saja lagi besok. Oke." bujuknya.


Alvaro menghentikan langkahnya lalu menatap wajah Iren lekat lekat. "Aku tidak bisa menunggu sampai besok! Kau pikir apa rasanya saat tau aku memiliki seorang putra yang berusia empat tahun?!" bentak lelaki itu berapi api. Iren mendekap mulutnya lalu limbung kebelakang.


"Kau bilang apa?" tanya Iren dengan suara bergetar.


"Aku bilang aku ingin melihat anakku!"


Tubuh Iren lemas tak bertulang, perasaan takut tiba tiba menyergap sudut harinya.


"Iren, kenapa kau setega ini padaku hah?! Kau buat aku jadi bodoh dan tak tau apa apa tentang anakku." ujarnya dengan bahu melemas. Membuat Iren tertegun. Lelaki yang datang dengan luapan amarah itu, kini tertunduk layu.


Melihat sorot mata penuh kesedihan milik Alvaro. Iren mendadak jadi tak tega padanya.


"Duduklah kita perlu bicara." ujar Iren.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2