Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 40


__ADS_3

Alvaro mengendurkan dasinya, lalu melepasnya dengan kasar. Netranya nyalang menatap tubuh Iren yang terlelap dengan posisi menantang.


Dia merindukan gadis itu sepanjang hari. Bahkan kesibukannya yang menggunung tak bisa mengusir bayangan Iren dari kepalanya.


Rasanya seperti tersiksa memikirkan Iren berada di tengah tengah perhatian lelaki lain. Dia yakin Iren pasti menarik perhatian lawan jenisnya di tempat kerja. Gadis itu memiliki gestur yang menggoda. Lalu tiba tiba dia teringat pria yang bernama Bagus. Apa perlu dia menyingkirkan Bagus, seperti dia menyingkirkan Rey.


Perlahan dia naik keatas ranjang, setelah membuka kemejanya terlebih dahulu. Lalu melangkah ke atas tubuh Iren. Menatap wajah lelap itu sejenak, sebelum mendaratkan ciuman ke bibir merah Iren. Merasa ada yang mengusik tidurnya, Iren menggeliat. Tapi kemudian gadis itu membuka matanya lebar-lebar. Saat merasakan sesapan kuat pada bibirnya.


"Mmmhh." erangnya sembari mendorong tubuh Alvaro. Bangun tidur membuat kesadarannya hilang separuh. Dia juga panik saat menyadari tubuhnya di tindih seseorang.


Alvaro melepas ciumannya lalu menarik tubuhnya bertumpu pada dua lengan kokohnya.


"Kak." ujar Iren sembari menyeka saliva Alvaro yang tertinggal di bibirnya.


"Siapa Bagus?" tanyanya dengan rahang mengeras.


Iren memutar bola matanya kesal. Bisa bisanya dia bertanya Bagus di saat seperti ini.


"Dia tidak layak di sebut pria, jadi jangan cemburu."


"Aku tidak cemburu, aku hanya tidak suka ada lelaki lain di dekatmu." elak Alvaro. Lalu berguling kesamping Iren.


Iren memiringkan tubuhnya menghadap ke Alvaro. "Apa pun itu, Bagus bukan lelaki yang bisa di cemburui lelaki manapun. Karena dia gak suka cewek, sukanya cowok." tukas Iren.


Alvaro menaikkan alisnya. "Bagaimana bisa kantor mempekerjakan orang seperti itu?"


"Jangan hawatir, dia sangat kompeten dalam bekerja. Kemayu-nya kumat hanya di jam jam istirahat."


"Ck tetap saja dia laki laki. Tidak perduli orientasi seksual-nya berbeda dia tetap laki laki. Jangan biarkan dia menyentuhmu seujung kuku pun. Cam kan itu?!"


Iren menarik nafas panjang, lalu menghempaskannya dengan kasar. "Biak, tuan Alvaro." sahutnya. Lalu memutar tubuhnya membelakangi Alvaro.

__ADS_1


Alvaro tersenyum, lalu menyusupkan jemarinya melingkari pinggang ramping gadis itu. Sementara wajahnya bersembunyi di balik ceruk lehernya. Menghidu aroma tubuh Iren yang menenangkan. Sesekali bibir basahnya menyesap lembut leher jenjang Iren.


"Jangan tinggalkan tanda. Bagaimana aku akan bekerja dengan tanda seperti itu." bisik Iren.


"Bukannya bagus, orang lain tak kan berani mengganggu mu. Kau sudah ada pemiliknya." ujarnya lalu menyesap kuat kulit leher Iren.


"Kak.." rengek Iren, sembari mendorong kepala Alvaro dengan tangannya. Alvaro melepas sesapannya, tapi kemudian dia malah menggigit telapak tangan Iren.


"Sakit..." rengeknya lagi. Cepat dia menarik tangannya, bekas gigi Alvaro membekas cukup dalam di sana. Walau tidak sampai berdarah.


"Lihat perbuatan kakak ini," sungut Iren, lalu memperlihatkan bekas gigi Alvaro di telapak tangannya.


Alvaro menatapnya sembari tersenyum sinis. "Lalu bagaimana dengan ini?" Alvaro menyodorkan tangan kanannya.


"Apa?!" sungut Iren, sembari melihat telapak tangan Alvaro. Ada luka gigitan disana, bahkan lukanya terlihat sangat dalam.


"Kapan aku melakukannya?" tanya gadis itu ragu.


Mendengar ucapan Alvaro wajah Iren berubah murung. Jelas bukan dia yang jadi tersangka, karena Tery adalah tunangannya. Pria itu pasti melakukan hal yang sama dengan Tery bukan?


"Lakukan saja dengan Tery, buat dia merintih. Bukankah kakak lebih senang melakukannya dengan Tery dari pada aku." lirihnya.


Alvaro terdiam, baru kali ini pria itu menyesali ucapannya. Biasanya dia tak pernah menyesali ucapannya biar sekasar apapun dia bicara.


"Hey, bukan itu maksudku. Kalau aku bilang aku tidak bisa melakukannya dengan Tery, apa kau percaya?"


Iren tertawa sinis. "Kakak harus ke dokter kalau begitu." cibir Iren. Siapa yang bisa menolak pesona wanita sekelas Tery. Bukan hanya wajah dan tubuh. Dia bahkan memiliki latar belakang yang begitu kuat.


Alvaro menghela nafas berat. "Kau benar, aku harus melakukannya." ucapnya lalu kembali merengkuh tubuh Iren. Mengecupi tengkuk ber-bulu halus itu dengan bibir basahnya. Iren mendesah ringan, tubuhnya menggeliat. Sensasi geli dan nikmat menjalari tubuhnya.


Alvaro merubah posisi tubuh Iren menghadap ke arahnya. Lalu menindihnya, mengungkung tubuh Iren di bawahnya.

__ADS_1


"Aku hanya bisa melakukannya dengan mu saja. Kau harus percaya itu." Tegas Alvaro. Lalu menghujani Iren dengan ciuman panasnya


Tak perduli secantik apa gadis di luar sana, dia hanya bisa melakukannya pada Iren. Itu adakah fakta.


* * * * *


Iren menghitung tanggal pada kalender yang ada di tangannya. Biasanya di tanggal dua lima di akhir bulan dia sudah datang bulan. Tapi ini sudah tanggal dua kenapa dia belum juga datang bulan. Dia tidak mungkin hamil kan?


Itu tidak mungkin, selama ini Alvaro selalu memberinya pil setiap kali mereka selesai berhubungan. Ya dia pasti tidak hamil. Alvaro memang tidak pernah mau memakai pengaman saat mereka berhubungan. Iren bukanlah gadis yang suka bergonta ganti pasangan. Jadi menurutnya tak perlu pakai pengaman.


Tapi beberapa saat kemudian Iren sudah berada di apotek yang ada di dekat apartemen.


Dengan memakai celana jeans dengan kepala terbalut topi hudy. Iren membeli test pack alat tes kehamilan. Dia tak perduli dengan tatapan aneh petugas apotek. Dia bahkan membeli tiga sekaligus. Sebenarnya bukan karena dia membeli alat test petugas itu menatapnya dengan tatapan aneh. Sikap waspadanya lah yang membuat orang curiga.


Pagi harinya Iren langsung menggunakan alat yang malam tadi dia beli.


Iren memejamkan matanya sembari menggengam benda pipih itu di tangannya. Hatinya berdebar tak karuan. Berharap hanya garis satu yang terlihat pada test pack itu.


Dalam hitungan ketiga Iren membuka genggaman tangannya. Matanya nyalang menatap dua garis merah tertera pada alat test. Dengan tangan gemetar Iren merobek bungkus tes itu, lalu dicelupkqnnya pada cairan urine sekaligus. Beberapa menit kemudian...


"Ya tuhan..." lirihnya dengan tubuh lemas.


Bagaimana ini, dia mengandung anak Alvaro. Apa yang harus dia lakukan? Apa pria itu akan menerima kehamilannya. Atau malah murka dan tak terima. Tapi bukankah ini adalah anaknya, bagaimana mungkin dia tidak menerima.


"Iren. Apa yang kau pikirkan? Apa kau sudah gila..." rutuk Iren sembari memukuli kepalanya.


"Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan." gumamnya sembari berjalan mondar mandir di samping tempat tidur.


Gadis itu menghempaskan tubuhnya duduk di samping tempat tidur. Dia harus berpikir jernih. Alvaro jelas tidak menginginkan kehamilannya. Kalau dia ingin kenapa dia meminta Iren mengkonsumsi pil setiap mereka selesai berhubungan. Lagi pula melihat tabiat lelaki itu dia pasti akan mencurigai Iren. Sebab dia tak pernah lupa sekalipun, meminum pilnya.


"Ya tuhan. Aku bisa gila..."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2