Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 39


__ADS_3

Iren mematut dirinya di cermin. Stelan kantor yang dia kenakan membalut tubuhnya dengan begitu anggun.


Ini hari pertamanya pertamanya bekerja setelah melakukan wawancara kerja beberapa hari yang lalu.


Selesai wisuda, dia terus merengek pada Alvaro agar di beri izin untuk bekerja.


Tentu saja Iren tak langsung mengantongi izin dari pria Arogan itu. Tapi Iren tak patah semangat, dia terus merayu pria itu agar mengijinkannya untuk bekerja.


Ada banyak persyaratan yang harus di penuhi Iren, untuk mengantongi izin kerja dari Alvaro.


Salah satunya Iren tak boleh terlalu berinteraksi dengan teman kerja laki laki. Poin yang ini yang dianggap penting oleh Iren, sebab pria itu sampai mengulang kalimat itu beberapa kali. Sedang poin yang lain Iren anggap tak terlalu penting. Poin yang lain hanya menyangkut penampilannya saat bekerja.


Dengan mengendarai mobil miliknya Iren berangkat ke kantor cabang, perusahaan Alvaro. Dia yang minta di tempatkan disana. Awalnya Alvaro akan menempatkan Iren di kantornya. Tapi Iren menolak.Dia tau Alvaro seperti apa, lelaki itu suka hilang kendali. Bisa bisa hubungan mereka ketahuan oleh karyawan lain.


Iren datang lumayan cepat dari karyawan lain. Sebagai karyawan magang, Iren memegang lumayan banyak pekerjaan. Termasuk membuat kopi, juga memfotocofy berkas. Dia masuk kekantor bukan dari jalur koneksi, jadi tidak ada perlakuan istimewa untuk Iren. Dia fi perlakukan sama dengan pegawai magang lainnya.


"Iren, bisa tolong antarkan berkas ke pak Heru. Saya tadi udah dari sana, tapi ada berkas yang harus direvisi ulang." ujar mbak Niken. Karyawan tetap yang sedang hamil lima bulan.


"Bisa mbak. Mana berkasnya."


"Iren punyaku juga ya!" teriak Bagus dari meja paling pojok. Dan Iren mengangguk.


Ruangan pak Heru ada di lantai empat gedung ini. Dia adalah branc manager di perusahaan cabang ini, dan CEO nya adalah Alvaro.


Tok..


Tok...


"Masuk." terdengar suara tegas dari dalam ruangan mempersilahkan Iren masuk.


Iren masuk, lalu berdiri tepat di depan meja kerja pak Rudy. Pria itu terlihat focus pada laptop di depannya. Beberapa detik kemudian barulah dia mengangkat wajahnya menatap Iren. Lelaki itu terlihat mengerutkan keningnya menatap Iren.


"Ada perlu apa kamu ke ruangan saya?" tanya Rudy dengan ekspresi datar. Karena memang tidak ada pekerjaan Iren yang meharuskan bertemu pak Rudy.


"Mbak Niken meminta saya mengantar berkas yang sudah dia revisi ke ruang bapak."


"Ooo, letakkan saja di atas meja. Kamu boleh pergi."


"Baik pak." Iren menaruh berkas di atas meja. Lalu kembali ke lantai dua.


Iren kembali kemejanya menyusun report bulanan yang harus di serahkan kekantor pusat setiap akhir bulan.


Jari Iren berhenti mengetik saat Bagus berdiri di sampingnya. "Ada apa kak?" tanya Iren menengadah menatap Bagus.


"Gak ada, saya cuma mau ngajak kamu makan siang di kantin. Tapi tuh tanggung. Siapin dulu, dua baris lagi kan?" sahutnya sembari menatap data di komputer.


"Gak usah nunggu kakak duluan aja, nanti aku nyusul." sahut Iren.


"Gak usah, biar aku tunggu aja." sahut Bagus, netranya terus meneliti report yang di buat Iren. Dahinya mengkerut saat melihat sedikit kesalahan di sana.


"Yang ini, tidak perlu sepanjang itu. Kamu hanya perlu mencantumkan data di kolom terakhir aja." ujarnya sembari menunjuk laporan yang menurutnya kurang efisien.

__ADS_1


"Harus di perbaiki ya kak."


"Iya. Kamu akan di omeli mbak Andin kalau laporan kamu belibet begini." sahutnya.


"Makasih kak." ucap Iren. Lalu buru buru memperbaiki kesalahannya tadi.


Untung ada Bagus, jadi dia tak harus merevisi ulang data yang dia buat. Setelah selesai barulah dia makan siang di kantin bareng kak Bagus dan mbak Mita yang juga pegawai magang.


Sebenarnya Iren berniat makan di luar siang ini. Tapi karena Bagus sudah mengajukan diri, dia tak enak hati menolak ajakan pria ini.


"Gimana menu di kantin, apa sesuai dengan seleramu?" Bisik mbak Mita.


Iren mengangguk. "Enak kok." sahutnya.


Mita melihat Iren datang dengan mengendarai mobil mewah. Dia yakin kalau Iren bukan dari kalangan biasa, mobil dengan harga pantastis begitu hanya bisa di miliki kalangan atas.


"Memangnya kenapa Mit? Menunya gak sesuai selera kamu ya?" tanya Bagus sembari mengunyah nasi di mulutnya.


"Bukan seleraku, tapi selera Iren. Makanya aku tanya ke dia." sahut Mita.


"Oooh kirain." ucap Bagus dengan gaya sedikit manja. Bagus memang agak kemayu, padahal wajahnya lumayan tampan tubuhnya juga sangat profesional. Dia juga cepat akrab dengan orang baru, seperti dengan Iren dia langsung bisa akrab.


Tiba tiba ponsel Iren berdering. Iren merogoh saku kardigannya, mengeluarkan ponselnya dari dalam.


Ternyata panggilan dari Alvaro. "Iya kak."


"Kau sedang apa?"


"Laki laki atau perempuan?"


Iren berpikir sejenak. Tatapannya tertuju ke Bagus. Alvaro pasti tidak akan marah kalau dia dekat dengan Bagus yang kemayu.


"Dua duanya." sahut gadis itu sedikit ragu.


"Apa maksud mu?"


"Ini kantin kak. Ada banyak orang makan di sini."


"Aku tanya teman mu itu laki laki apa perempuan? Kenapa jawabanmu malah kemana mana gitu." cebik Alvaro.


"Aku makan bareng kak Bagus dan mbak Mita." sahut Iren akhirnya.


"Siapa Bagus?"


"Teman kerjaku kak."


"Wah, baru sehari kerja sudah dekat dengan pria. Kau ingin izin kerjamu di cabut?!"


Wajah Iren berubah cemberut. "Iya aku janji tidak akan mengulanginya lagi." sungut Iren.


"Bagus, awas saja kalau kau ingkar janji lagi. Aku akan langsung menjemputmu pulang." Ancam Alvaro.

__ADS_1


"Iya iya gak akan ingkar lagi. Ya udah aku makan dulu." sahut Iren lalu memutus panggilan.


"Kenapa wajah mu di Teluk gitu? Lagi kesel." tebak Bagus. Iren mengangguk. Kesel dengan pria Over protektif.


"Udah gak usah dipikirin. Abisin makannya bentar lagi waktu istrahat habis. Kamu butuh tenaga lebih untuk beberapa jam kedepan." ujar Bagus menyemangati.


Benar, dia butuh banyak tenaga untuk mengerjakan seambrek pekerjaan, padahal baru sehari kerja. Juga menghadapi Alvaro yang super egois.


Rasanya ingin mengadu pada Glen. Atau hanya ngobrol agar gundahnya hilang. Tapi Glen saja tak pernah menghubunginya. Padahal pria itu berjanji akan langsung memberinya kabar begitu dia sampai. Dasar pembohong.


Pertama kali kerja, Iren sudah harus lembur. Rapat dadakan membuat beberapa kepala divisi kalang kabut. Termasuk Iren. Dia dan mbak Mita di minta menyiapkan ruang rapat. Juga membuatkan kopi untuk peserta rapat.


Menurut kak Bagus. Mereka sudah bersiap hendak meluncurkan produk baru. Tapi kemasan yang harus nya mereka gunakan ternyata sudah di gunakan perusahaan lain terlebih dahulu. Memang tidak sama persis, tapi kalau mereka tetap memakai kemasan itu. Mereka terlihat seperti peniru. Makanya rapat dadakan ini dia adakan untuk membahas tindak lanjut perihal kemasan.


Karena lembur, Iren sampai rumah sudah jam sembilan malam. Dan sepertinya Alvaro belum pulang atau pria itu tak menginap di sini.


Sementara itu, di tempat lain. Alvaro baru saja pulang dari makan malam bersama Tery. Sedari siang gadis itu merengek ingin bertemu Alvaro. Tapi lelaki itu seharian meninggalkan kantor untuk bertemu klien.


Barulah menjelang malam Alvaro balik ke kantor. Dan Tery sudah menunggunya di sana. Alvaro tak dapat mengelak, dia terpaksa membawa Tery makan malam.


Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Di jok belakang tampak Alvaro sibuk dengan laptopnya. Sementara Tery tak lepas dari memandang Alvaro.


"Sayang." panggil Iren dengan nada manja. Alvaro menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke Tery.


"Ada apa?" tanyanya datar.


"Tidak bisakah kau tinggalkan pekerjaanmu sebentar. Kita jarang ada waktu bersama." ujar Tery. Sedari tadi Alvaro tak pernah benar benar focus padanya.


"Ah, maaf. Karena kau datang mendadak. Aku terpaksa pergi denganmu. Padahal banyak berkas yang harus ku periksa dan sudah deadline." jelas Alvaro, sembari menutup laptopnya.


"Abisnya kamu selalu sibuk sih." sungut Tery.


"Kalau kau sudah bekerja, kau juga akan tau seperti apa sibuk itu. Sampai kau sendiri tak punya waktu istrahat barang sejenak."


"Kau menyindirku. Tidak usah khawatir, aku sedang mempertimbangkan posisi yang di rekomendasikan padaku oleh papa." rajuk Tery.


"Ck kau ini terlalu sensitif ya. Sudahlah tidak usah di bahas lagi." ujar Alvaro, sembari menyentuh puncak kepala Tery.


"Alvaro."


"Hmmm."


"Apa kau masih belum bisa menyentuh ku?"


Alvaro menatap Tery lekat lekat lalu mengagguk. Tery menghela nafas berat, ada gurat kecewa terlihat pada sorot matanya.


"Kau harus menyempatkan diri periksa ke dokter. Sampai kapan hubungan kita akan seperti ini. Kita bertunangan tapi kau bahkan tak bisa menyentuhku."


"Sebelum bertunangan, aku sudah bertanya padamu. Kau bilang tak masalah, jadi jangan mengeluh. Kau tau itu bukan keinginanku."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2