Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 42


__ADS_3

Karena insiden kemarin. Iren jadi tak tenang. Dia melihat sendiri Alvaro berniat menghabisi Sita. Dengan jari kokonya dia mencekik leher Sita tanpa belas kasihan. Tiba tiba bulu kuduknya meremang. Bagaimana kalau yang berada di posisi Sita saat itu adalah dia.


Tanpa sadar Iren menyentuh perutnya yang masih terlihat rata. Hatinya mendadak berdentut sakit, membayangkan reaksi Alvaro yang pasti akan marah mendengar kehamilannya. Tapi sampai kapan dia mampu menyembunyikannya?


"Sedang apa kau di sana malam malam?!" suara Alvaro mengejutkan Iren. Gadis itu sedang duduk di balkon sendirian, sebab sedari tadi Alvaro sibuk di ruang kerjanya.


"Kau tau sudah jam berapa ini?" imbuhnya, sembari menyelimuti tubuh Iren dengan selimut tebal.


"Ayo masuk." titah pria itu.


Iren menarik nafas dalam. Dia mengekori langkah Alvaro masuk kedalam kamar.


"Ada apa? Beberapa hari ini wajahmu terlihat muram. Apa ada masalah?" tanya Alvaro, pria itu duduk ranjang sembari menatap Iren yang baru saja naik keatas ranjang.


Iren menggeleng pelan. "Gak ada masalah, hanya sedikit kurang sehat belakangan ini."


"Mau aku panggilkan dokter?"


"Tidak perlu, kalau memang bertambah parah besok aku pergi sendiri untuk periksa."


"Kalau memang sakit, biar dokter pribadi kita yang periksa mu. Aku tidak mengijinkan Dokter lain memeriksa tubuhmu." Tegas Alvaro.


Iren menarik nafas berat. "Aku tidak butuh dokter. Minum obat warung juga nanti akan sembuh." sahutnya, lalu bergelung di balik selimut.


"Bagaimana dengan pekerjaan mu?" tanya Alvaro.


"Baik." sahutnya dari balik selimut.


Melihat itu Alvaro menggeram kesal. Dia merapat ke tubuh Iren, lalu menyingkap selimut Iren hingga batas pinggang gadis itu. Dengan tatapan penuh dia menatap Iren yang juga menatapnya.


Matanya mengerjap menatap Alvaro, membuat bulu matanya yang hitam dan lentik bergerak indah. Membuat Alvaro tak lagi mampu menahan hasratnya. Dengan gerakan cepat dia memeluk tubuh gadis itu kedalam dekapan hangatnya. Menciumi wajah mulus itu dengan penuh hasrat. Dan ingin segera bercinta. Padahal dia sangat lelah seharian ini, tapi begitu melihat Iren. Lelahnya seakan hilang begitu saja. Gadis ini membuat hasratnya terus saja datang tanpa memandang situasi dan kondisi. Dengan kasar dia melucuti pembungkus tubuh Iren.


Tubuh Iren sudah setengah polos, sementara Alvaro berada di atasnya. Jemari kokoh pria itu tak bisa diam, bergerak menyentuh area sensitif Iren dengan sangat lihai. Membuat gadis itu mendesah panjang. Dia menyukai desah gadis itu, terdengar sangat seksi di telinganya.

__ADS_1


Tiba tiba Iren teringat kehamilannya di tengah cumbuan Alvaro.


"Kak." panggil Iren dengan suara sedikit mendesah. Sebab saat ini, Alvaro sedang menyesap salah satu bukit kembarnya. Lalu yang satunya menerima remasan dari jari jemari kokoh Alvaro.


"Hmmm." gumam pria itu tanpa berniat melepas sesapannya. Iren menggeliat, perasaan geli juga nikmat menjalari tubuhnya.


Tapi kemudian pria itu melepas sentuhannya. Dia menarik separuh tubuhnya agar tak lagi menindih gadis itu. Tapi posisinya tetap di atas tubuh gadis tubuh Iren.


"Apa?!" tanyanya tak sabaran.


Sorot matanya yang tajam terlihat di seselimuti oleh kabut gairah. Juga tubuhnya yang memperlihatkan otot otot tubuh yang begitu sempurna. Memaksa Iren menelan salivanya dengan kasar.


"Apa? Kau tidak ingin mengatakannya?!" desak Alvaro tak sabaran.


Iren menarik tangannya, menaruhnya di pipi lalu membelainya dengan sangat lembut. "Hari ini bisakah kakak bermain sedikit lembut?" terdengar seperti bujukan di telinga Alvaro.


"Kenapa? Apa kau benar benar sakit?" tanya lelaki itu terlihat khawatir.


Iren menggeleng. "Tidak. Aku sedang ingin bermain dengan sedikit lembut." ujarnya.


Tapi ternyata Alvaro benar benar patuh, kali ini dia bermain dengan sangat lembut. Di saat seperti ini,kadang kala Iren merasa sangat di cintai oleh Alvaro. Walau dia sadar itu hanyalah khayalannya saja. Lelaki itu hanya menganggapnya sebagai pemuas naf su. Itu yang di yakini Iren.


* * * * * * *


Suara dentuman musik memenuhi ruang berukuran lima meter persegi itu dengan sangat keras. Selaras dengan cahaya lampu warna warni yang tak berhenti berkedip memenuhi seluruh ruang. Sementara aroma alkohol tercium sangat tajam, bercampur dengan bau tembakau.


Ini adalah private room di sebuah diskotik yang ada di kota A ini. Dia tengah ruang terlihat Tery tengah berbincang dengan tiga pria.


Dua diantaranya bertubuh kekar dan berwajah garang. Dua pria itu duduk tepat di depan Tery. Sedang satunya bertubuh sedang, dan berwajah lumayan tampan, dia duduk tepat di samping Tery.


"Siapa wanita ini?" tanya pria berwajah tampan itu pada Tery.


Pria itu memegang selembar foto ditangannya. Foto yang baru saja di berikan Tery padanya.

__ADS_1


"Dia Irene. Data lengkapnya akan aku kirim ke email mu." sahut Tery.


"Siapa dia?" ulang pria itu sembari menatap Tery lekat lekat.


"IRENE. Apa kau tuli?" bentak Tery.


Lelaki itu tertawa sinis. "Aku tidak butuh namanya, kau tau itu. Aku tidak akan sembarangan menerima pekerjaan ini tanpa tau siapa targetku." tegasnya dengan wajah serius.


"Dia simpanan tunanganku." ujar Tery menjelaskan. Pria itu terlihat kaget.


"What?! No no no aku tidak mau berurusan dengan Alvaro. Darah pria itu sangat dingin. Akan sangat berisiko melawan pria seperti itu." tolaknya dengan sangat tegas.


"Ck, kau penakut sekali. Gadis itu hanya teman tidurnya. Tidak lebih dari itu. Aku juga tidak memintamu melenyapkan gadis itu."


"Lalu apa?"


Tery tersenyum, lalu membisikkan sesuatau kerelinganya.


"Bagaiamana?" tanya Tery dengan mata penuh binar.


Pria itu menyeringai, dia kembali mengamati lembaran foto di tangannya. Gadis yang sangat menarik.


"Gadis ini pasti sangat nikmat, sampai sampai Alvaro tak mau melepasnya. Setauku dia tidak mau bermain dengan wanita yang sama dalam semalam. Kalau sampai stay pada satu wanita, bisa di tebak bukan?" ujarnya sembari melirik Tery. Wajah Tery langsung berubah merah.


"Jangan sembarang bicara, kalau kau masih sayang pada mulutmu itu." hardiknya, dengan sorot mata tajam.


Pria itu terkekeh, lalu beranjak bangkit. "Kirimkan datanya padaku secepatnya. Juga uang mukanya. Aku sudah tak sabar menunggu." ujarnya sembari mengecup lembar foto di tangannya. Kemudian berlalu pegi dari ruangan itu.


"Kau akan mendapat bayaranmu beserta bonusnya bila berhasil." sahut Tery. Pria itu tak menyahut, hanya mengacungka dua jari di atas kepalanya sebagai jawaban.


Tatapan Tery kini beralih pada pria berwajah garang di depannya. "Hapus rekaman cctv mengenai kedatanganku di tempat ini. Aku tidak mau ada jejak yang bisa di baca oleh orang suruha Alvaro. Kalian paham!"


Dua pria bertubuh kekar itu mengangguk. "Paham Nona."

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2