Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 43


__ADS_3

Ajaib, setelah tau kalau dia sedang hamil. Iren mendadak sering mual dan pusing. Padahal kemarin kemarin dia baik baik saja.


Tapi itu tak membuatnya bermalam malasan. Apa lagi tidak bekerja. Dia tetap beraktivitas seperti biasa.


Menyusun berkas, memfotokopi lembaran kertas juga membuat kopi untuk para pegawai.


Walau sesekali dia harus lari ke kamar mandi karena mual.


"Kamu sakit?" tanya Niken saat melihat Iren keluar kamar mandi dengan wajah pucat. Iren menggeleng.


"Cuma masuk angin dikit mbak." sahut Iren.


Niken memperhatikan wajah Iren yang seperti tak berdarah itu dengan mimik khawatir. "Tapi muka mu pucet banget loh Ren. Kalau gak, istrahat dulu deh sana. Berkas biar di tangani anak magang yang lain." ujar Niken.


"Gak usah mbak. Aku masih sanggup kok." tolak Iren. Dia tak enak hati kalau harus merepotkan temannya, mereka sendiri sudah memiliki pekerjaan yang lumayan banyak.


"Ya udah kalau kamu bilang gitu. Kalau ngerasa sakit banget kamu bilang aja, biar berkasnya di kerjakan orang lain."


"Baik mbak. Terimakasih." Sahut Iren. Dia beruntung memiliki teman kerja yang pengertian seperti Niken dan Bagus.


"Oh ya, saya hampir lupa. Kamu memang gak bisa istrahat kayaknya. Hari ini ada tamu dari pusat." ujar Niken.


"Iya gak apa apa mbak, saya masih sanggup kok."


"Ya udah kalau gitu." sahut Niken.


Iren benar benar sibuk, tapi sebenarnya bukan hanya dia. Semua divisi sedang bersiap menyambut tamu dari pusat. Bahkan pak Heru sampai turun tangan mengecek persiapan penyembuhan tamu.


Tak ada penyambutan kusus sebenarnya. Hanya saja menurut karyawan lain, biasa kunjungan pusat akan memeriksa kinerja karyawan dan keakuratan data dengan sangat teliti.


"Istrahatlah, tugas mu sudah selesai. Oh ya, nanti temani pak Heru ke ruang rapat. Report dua minggu ini kan kamu yang ngerjain, jadi kamu pasti ingat detailnya kan? Kalau kamu gak ingat baca lagi sambil istrahat. Mbak juga akan ada disana. Bersiap juga untuk prsentasi bila di minta."


"Baik mbak." sahut Iren. Dia beristirahat sejenak sebelum tamu dari pusat datang. Sembari mempelajari laporan dua minggu ini.


Branc manager yang langsung menyambut tamu yang datang. Mereka belum dapat bocoran, siapa yang mewakili tim pusat yang datang kali ini.


Iren berdiri di barisan paling belakang. Dia juga satu satunya pegawai magang yang berdiri di sana. Sebab dia nanti yang mewakili mbak Niken untuk presentasi bila di minta.


Mata Iren membulat saat pintu mobil mewah di pelataran gedung perusahaan terbuka. Sosok Alvaro keluar dari sana. Wajah angkuhnya terlihat sangat tampan.


Iren menarik nafas gugup. Kenapa lelaki itu tak cerita kalau dia mau mengunjungi tempatnya bekerja.


Pak Heru langsung menyambut pria dingin itu. Mereka langsung beranjak menuju ruang rapat, di ikuti oleh karyawan yang tadi susah di tunjuk oleh masing masing divisi sebagai perwakilan.


Selama di ruang rapat, Alvaro mendengarkan presentasi dari masing masing kepala divisi. Lalu giliran Iren yang melakukan presentasi data untuk dua minggu ini, sebab Alvaro memintanya.


Pria berwajah tampan tapi dingin itu. Menopang wajah tampannya dengan kedua tangannya sembari menatap Iren.

__ADS_1


Matanya menatap wajah wanita itu dengan sorot mata tak terbaca. Sudut bibirnya terangkat saat Iren menyudahi, presentasinya. Membuat perhatian Heru mendadak tertuju ke Iren. Baru pertama kali dia melihat ekspresi seperti itu dari bosnya. Dan itu karena Iren. Apa bosnya itu tertarik pada pegawai magang itu?


Selesai rapat, seluruh pegawai kembali bekerja seperti biasa. Alvaro sendiri tak langsung pergi. Dia masih berdiskusi bersama Heru di ruang kerjanya.


Iren kembali berlari ke kamar mandi saat mual tiba tiba menyerang perutnya. Membuat Niken kwatir, sebab wajah gadis itu terlihat bertambah pucat.


"Gus." panggil Niken.


"Iya mbak?"


"Pigi susul Iren di kamar mandi, dia lagi gak enak badan. Takutnya kenapa napa."


"Kok aku sih mbak. Aku kan cowok."


"Ya kamu gak usah masuk, tunggu aja depan pintu. Tadi aku lihat dia jalannya sempoyongan takutnya pingsan."


"Okelah mbak kalau gitu."


Iren membasuh wajahnya, entah kenapa kepalanya malah berdenyut sakit. Tubuhnya juga terasa lemas. Kehamilan ini membuatnya sangat tersiksa. Beginilah rupanya, saat ibunya mengandung dia dulu.


Saat dia keluar, Bagus sudah menunggunya di depan pintu.


"Ada apa kak?" tanya Iren, dia sedikit terhuyung. Karena kepalanya mendadak terasa berat.


"Iren." kaget Bagus saat tubuh gadis itu limbung ke arahnya. Cepat pria itu menangkap tubuh Iren.


"Iren!" pekik Bagus panik. Suara Bagus menyita perhatian karyawan lain. Mereka buru buru membantu Bagus, meletakkan tubuh Iren di atas bangku.


"Bopong dia ke ruang istrahat." pinta Neken yang juga sudah berlari ke sana.


"Baik mbak." Sahut Bagus. Tapi baru saja dia ingin mengangkat tubuh Iren, terdengar suara berat mengintrupsi.


"Minggir, biar aku saja."


Semua mata tertuju ke pemilik suara. Sosok Alvaro berdiri dengan wajah mengelam menatap Iren yang tergeletak di atas bangku panjang.


Tanpa kata, pria itu membopong tubuh layu Iren. Lalu membawanya pergi keluar dari perusahaan.


"Kemana dia membawa gadis itu?" tanya seluruh karyawan. Karna Alvaro membawa Iren ke mobilnya lalu pergi meninggalkan perusahaan.


Sementara di mobil, Alvaro di landa panik. Dia mendekap erat tubuh Iren yang terasa sedingin salju.


"Dasar gadis bodoh." umpat Alvaro geram. Dia sudah meminta gadis itu periksa ke dokter. Karena beberapa hari ini dia mengeluh tak enak badan. Tapi Iren malah menolak.


"Apa kau tidak bisa membawa mobil ini lebih cepat lagi!" bentak Alvaro pada sopir pribadinya.


"Maaf tuan. Tapi jalanan memang sangat macet. Kita tidak bisa melajukan mobil ini lebih dari ini." sahut sopir itu dengan perasaan takut takut.

__ADS_1


Alvaro berdecak kesal. Dia sudah hampir gila, melihat Iren tak juga sadar dari pinsannya.


Setengah jam kemudian mereka baru sampai di apartemen, dan Dokter pribadi mereka sudah menunggu di sana.


"Bagaiamana keadaannya?" tanya Alvaro, tak sabaran. Begitu dokter pribadi mereka selesai memeriksa.


"Begini tuan...."


"Kak, ambilkan aku air hangat." Potong Iren. Membuat Dokter menjeda ucapannya.


"Sebentar biar Dokter menjelaskan penyakit mu."


"Nanti saja. Aku sangat haus sekarang." desak Iren.


"Hhh, baiklah." sahutnya, lalu beranjak kedapur mengambil air hangat.


"Dokter." panggil Iren begitu Alvaro menghilang di balik pintu.


"Iya nona."


"Dokter pasti sudah tau kalau saya hamil kan?" tanya Iren. Dokter mengangguk.


"Tolong rahasiakan ini dari kakak."


"Tapi non.."


"Biar aku saja yang memberitahu kakak nanti. Sekarang aku belum siap."


"Nona tau bagaimana tuan bukan? Aku.." Dokter menjeda ucapannya saat melihat Alvaro masuk sembari membawa segelas air hangat.


"Ada apa?" tanya Alvaro, sembari menatap Dokter dan Iren bergantian.


"Dokter melarangku beraktivitas terlalu intens untuk sementara waktu. Aku bilang kalau kerja bagaimana. Dia bilang tidak apa." sahut Iren cepat.


"Kerja? Kau tidak akan pergi bekerja sampai kau benar benar sembuh." ujar Alvaro dengan sangat tegas.


"Iya, sebaiknya begitu. Nona boleh beraktivitas lagi setelah benar benar sembuh."


0


"Kau dengar itu?!"


"Hmmm." sahut Iren, patuh.


Alvaro sempat curiga saat Iren hanya di beri Vitamin dan bukan obat. Tapi akhirnya pria itu diam saat Dokter memberi penjelasan yang malah membuatnya bingung.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2