Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 51


__ADS_3

"Dia seolah hilang di telan bumi. Ini sangat aneh." gumam Alvaro menatap lembaran foto di atas meja.


Setiap kali melihat lembaran foto itu, hatinya memanas bak terbakar api. Tapi anehnya, tak ada niatnya untuk menyakiti Iren. Dia seakan memiliki rasa toleransi yang begitu besar untuk wanita itu.


Dia memang marah, cemburu, bahkan sakit hati yang begitu dalam. Saat Iren mengakui bahwa dia menyukai pria lain dan tengah mengandung anaknya. Ingin rasanya dia mencekik wanita itu hingga kehabisan nafas. Tapi saat melihat wajah nelangsa gadis itu. Hatinya melemah. Dia malah takut Iren benar benar pergi meninggalkan dia dan pergi dengan lelaki itu. Apalagi Iren begitu menyayangi anak itu. Kalau dia nekat menggugurkan bayi itu, apa yang terjadi pada Iren. Mungkin gadis itu akan membencinya seumur hidup. Alvaro tak kan tahan menghadapi hal itu. Sorot mata gadis itu yang menyorot padanya penuh kebencian. Mampu membuat hatinya berdenyut sakit.


Alvaro mengetukkan jarinya ke atas meja, otaknya tengah berpikir keras.


"Datanglah ke ruanganku, ada yang ingin aku sampaikan." titah Alvaro pada seseorang memelalui sambungan telpon.


Tak berapa lama, pria bertubuh ceking berwajah tampan tapi pucat, masuk kedalam ruang Alvaro.


"Ada apa kau memanggilku?" tanyanya dengan wajah kesal.


"Aku perlu bantuanmu." sahut Alvaro, sembari menyulut benda langsing di selipan jarinya.


"Aku harap itu benar benar penting." sungut pria itu, masih dengan wajah kesal.


"Kenapa kau kesal begitu, apa kau sedang bergumul dengan sekretarismu saat ku minta datang?" tebak Alvaro. Dia hapal betul hoby sahabatnya ini. Bercinta di sembarang tempat.


"Iya, aku sedang dia atas tubuh Sasa pegawai magang di kantorku. Gila, dia mampu bermain lama denganku..."


"Cukup, kau ceritakan saja kehebatan Sasa pada orang lain. Aku mual mendengarnya." Potong Alvaro.


Pria itu menyeringai menatap Alvaro. "Kenapa, apa juniormu tidak lagi berfungsi. Sebab aku dengar kau tidak lagi berpetuamang tengah malam mencari wanita untuk di siksa." cibir pria itu.


Alvaro tak menyahut, dia mengambil aspak berbahan kaca, lalu melemparkannya tepat kewajah pria itu. Beruntung pria itu sigap, dia menangkap benda itu sebelum menyentuh wajahnya.


"Hahaaha kau ini pelarah sekali. Kau hampir melukai wajah tampan ku ini."


Alvaro menarik nafas dalam, lalu melempar lembaran foto ke atas meja. "Selidiki pria itu dalam waktu tiga puluh menit." titah Alvaro.


"Mana akau bi..."


"Kenan! Aku bilang tiga puluh menit!!" bentak Alvaro. Membuat lelaki itu tersurut.


"Oke baiklah. Aku ambil alatku dulu." sahutnya, lalu beranjak ke ruangannya. Tak berapa lama dia datang lagi dengan laptop di tangannya.


Pria berbuka pucat yang di panggil Alvaro, Kenan itu terlihat sangat serius mengutak atik laptopnya. Lalu sesekali terlihat dia menelpon seseorang. Tiga puluh menit kemudian pria itu tersenyum lebar, sembari menatap Alvaro yang sedang sibuk di antara tumpukan berkas di atas meja kerjanya.


"Kau memintaku meretas jaringan nasional hanya demi lelaki tak berguna ini." ujar Kenan. Mendengar itu Alvaro menghentikan aktivitasnya, lalu beranjak mendekati Kenan.


"Sudah bisa kau lacak?" tanyanya sembari menatap benda pipih di pergelangan tangannya. Tepat tiga puluh menit, Kenan berhasil melacak orang itu.


"Tentu saja. Siapa pria ini apa dia selingkuhan tunanganmu?"

__ADS_1


Alvaro mengerutkan keningnya. "Tunanganku?"


"Iya, Tery yang sudah memblokir semua informasi tentang pria ini. Kau tidak tau itu?"


"Kalau aku tau, kenapa aku harus memanggilmu breng sek!"


"Hahaha, kau ini mudah sekali marah. Jadi siapa dia, beritahu aku. Kau tau berapa harga setiap informasi yang berhasil kudapat? Tidak murah kawan." ujar Kenan dengan mimik serius.


Alvaro menarik nafas dalam. "Pria ini main main dengan orangku."


"Jadi bukan Tery targetnya?"


Alvaro menggeleng. Dia bersyukur bila Tery bisa ditargetkan pria lain, dan dia terjerat. Dengan begitu, dia tak perlu pusing mencari cara melepas Tery.


"Baiklah tugasku sudah selesai bukan? Aku mau melanjutkan yang tadi tertunda." ujarnya sembari mengerling nakal. Alvaro mendengkus kesal.


Sepeninggal Kenan. Alvaro tampak berpikir keras. Pantas saja pria itu tak terlacak, rupanya dia di beking Tery.


Sejak kapan mereka bertemu, hingga Iren sampai hamil begitu. Memikirkan itu membuat dadanya panas. Dia harus menemukan pria itu bagaimana pun caranya. Dia sudah tak sabar ingin menghabisi pria itu segera.


Satu satunya cara memancing pria itu adalah menggunakan Iren sebagai umpan. Ya benar dia harus melakukan itu.


* * * * *


Iren menatap ponselnya tak sabaran. Menunggu jawaban dari seseorang. Dia sudah mengirimi orang itu pesan sedari di rumah tadi. Saat ini dia sedang di mini market tempat dia biasa membeli anggur.


Iren menatap pria itu sekilas, lalu mengacuhkannya. Kenapa pria ini ada disini. Kalau dilihat orang suruhan Alvaro dia bisa kena masalah.


Di acuhkan begitu, pria itu bukannya pergi. Dia malah beranjak mendekat. "Mau apa kamu?" tanya Iren kaget. Saat pria itu menarik pergelangan tangannya, memaksa langkahnya mengikuti langkah lebar pria itu.


"Hay, kau mau bawa aku kemana?" sentak Iren, sembari menarik tanganya. Tapi tenaga pria itu bukan imbangnya. Pria itu menoleh sekilas sambil menyeringai.


"Kita akan buat kekasih mu marah. Bagaimana, terdengar asyik bukan?" sahutnya. Membuat Iren tercengang.


Pria itu mendorong tubuh Iren masuk kedalam mobil yang sudah siaga menunggunya di tempat parkir. Lalu pria itu masuk dan duduk di sampingnya.


Pria berwajah tampan itu melihat ponsel di tangan Iren yang kebetulan berdering karena ada panggilan masuk.


"Angkat, katakan padanya kau dengan siapa." ujar pria itu, tanpa mencari tau siapa yang menghubungi ponselnya.


Dengan patuh Iren melakukan perintah pria itu. Sedikit gugup dia menerima panggilan masuk itu. "Iya kak?"


"Aku di belakang mu. Siapa dia?"


"Pria yang aku ceritakan pada kakak tempo hari."

__ADS_1


"Oh baiklah. Kau jangan takut aku mengikutimu dari belakang."


"Baik kak." ujar Iren lalu memutus panggilan.


"Waahh, kakak angkatmu sangat perhatian ya padamu. Sampai sampai membuat tunangannya meradang. Harusnya kau tau diri, agar tak susah begini."


"Jadi kau orang suruhan Tery?"


Pria itu terbahak sembari bertepuk tangan. "Tepat sekali. Dia ingin tau, apa kakak angkat mu itu masih mau menerimamu setelah kau tidur dengan ku?" ujarnya lalu kembali tertawa.


"Kau pikir kau bisa melakukannya? Alvaro pasti sedang mengintai pergerakanmu." cibir Iren.


"Aku tau, tapi tunangannya sudah membereskan semua itu." sahut pria itu, sembari menyentuh dagu Iren meremasnya dengan gemas.


"Jangan menyentuhku!" pekik Iren sembari menepis tangan pria itu dari wajahnya. Bukannya marah pria itu malah tertawa.


Pria itu terpaksa berhenti menjahili Iren, karena ponselnya berdering.


"Bagaimana?" tanya pria itu sembari melirik Iren yang meringkuk ketakutan. Melihat ekspresi itu, membuat pria itu tak sabaran ingin segera menyentuhnya.


"Jangan gegabah, eksekusi dia di tempat yang aku sediakan. Ingat kalau kau gegabah, kau akan tau akibatnya."


"Bagaimana dengan orangnya Alvaro?"


"Aku udah bereskan semua."


"Waah kau memang hebat. Baiklah aku akan ikut aturan mu." sahutnya sembari menyeringai.


Mobil berhenti di depan bangunan mewah berpagar tinggi. Mereka tak langsung masuk, sebab sopirnya harus keluar dulu melapor pada scurity yang berjaga.


Tepat saat sopir itu turun, tiba tiba datang beberapa mobil memepet mobil yang di tumpangi Iren.


"Bang sat! Siapa mereka?!" umpat pria itu panik. Tak berapa lama kaca mobil di ketuk kasar oleh seseorang.


"Buka?!" teriak pria di luar. Tapi pria di samping Iren tak mengindahkan. Lalu ..


Praank...


Kaca jendela di sebelah Iren dan pria itu di pecah paksa. Iren memekik histeris apa lagi saat tubuhnya ditarik paksa keluar dari mobil dan di pindahkan kemobil sebelah.


Iren meringkuk sembari memejamkan matanya, tubuhnya menggigil ketakutan. Tiba tiba bahunya di sentuh seseorang dengan hangat.


"Ssstt ini aku..."


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2