
Alvaro menarik tubuh Iren jatuh dia atas tubuh kekarnya. Mendekap tubuh ramping itu kedalam rengkuhan hangatnya. Menghidu aroma tubuh Iren tepat di atas tulang selangka gadis itu yang menonjol seksi.
"Tubuh mu ringan sekali berapa bobot tubuh mu?" tanya Alvaro, sembari meneliti tubuh Iren di atasnya.
"Empat puluh tujuh kilo. Kenapa, kakak tidak suka?" Iren balik bertanya, dia menarik tubuhnya ke posisi separuh duduk, tapi masih berada diatas tubuh Alvaro. Membuat rambut gadis itu tergerai ke bawah. Alvaro yang berada di bawahnya tersenyum samar.
"Apapun yang ada padamu aku menyukainya. Hanya saja seingatku tubuhmu tak seringan ini." sahut pria itu, sembari menyibak rambut Iren kebelakang.
"Seingat ku? Apa benar kakak masih mengingatnya. Sudah lima tahun berlalu." ujar Iren.
Pria itu mengerjab, membuat bulu matanya yang lebat berayun indah. "Aku bahkan masih mengingat Aroma tubuhmu." sahutnya, lalu menarik tubuh Iren kembali menempel diatasnya.
"Aroma lembut ini mampu membuat darahku berdesir." imbuhnya, sembari menyusupkan wajahnya di balik ceruk leher Iren. Menyesap hangat disana, membuat ruam merah muda di permukaan kulit seputih salju itu. Gadis itu mendesis ringan, saat bibir basah dan dingin menyentuh permukaan kulitnya. Lima tahun tanpa belaian Alvaro, membuat hasratnya mudah sekali terpancing hanya dengan sentuhan ringan.
Desah lembut Iren, membuat Alvaro menginginkan lebih dari apa yang tengah mereka lakukan sekarang.
"Ayo pindah kekamar." ajaknya. Iren mengangguk, lalu menarik tubuhnya keposisi duduk.
Alvaro bangkit, lalu membopong tubuh Iren masuk kedalam kamar. Meletakkan tubuh mungil itu dengan hati hati di atas ranjang. Lalu dia juga naik ke tempat tidur, merangkak keatas tubuh Iren.
Tanpa kata Alvaro melabuhkan ciuman lembut ke bibir mungil Iren. Merasai Aroma manis yang sedari tadi menggoda hasrat kelelakiannya.
Iren membalas ******* lembut Alvaro dengan sedikit agresif. Mmenyesap bibir bawah lelaki itu, lalu menyentuh benda lembut itu dengan ujung lidahnya. Membuat lelaki itu sedikit kaget. Dia melepas, sentuhannya. Menatap wajah bersemu merah di bawahnya dengan seringai di bibirnya.
"Berani memprovokasi aku, hah?!" ujarnya, sembari menyentuh pipi Iren dengan ujung jarinya, perlahan jari itu turun menyusuri leher jenjang Iren. Iren memejamkan matanya menikmati glenyar lembut dari sentuhan Avaro.
Alvaro menelan salivanya dengan kasar, saat ujung jarinya menyentuh tulang selangka Iren yang menonjol seksi. Darahnya terasa hangat dan deras mengaliri pembulu darahnya, menandakan hasratnya nyaris tak terlahan lagi.
__ADS_1
Iren melenguh saat jemari Alvaro menyusup di balik gaunnya, meremas payu daranya dengan gemas.
Pria bertubuh kekar itu menggeram gemas. Lenguhan Iren membuat darahnya menggelegak karena hasrat. Apa lagi saat Iren menatapnya dengan tatapan sayu, lalu jari jemarinya yang putih bersih perlahan membuka satu persatu kencing baju Alvaro. Mata beningnya terlihat penuh binar menatap dada bidang pria itu. Aah Alvaro benar benar tak sabar melahab gadis ini tak tersisa.
Alvaro juga ikut melucuti pembungkus tubuh Iren satu persatu, hingga tak ada satu benang pun yang melekat di tubuhnya. Pria itu tertegun sesaat melihat dua bukit yang membusung indah. Puncak merah jambunya seakan menantang Alvaro. Dengan berkata, "Jamah aku, aku merindukanmu." Membuat Alvaro mabuk kepayang.
"Kau membuatku mabuk kepayang, sayang." bisik Alvaro, sembari mendaratkan kecupan lembut di ceruk leher jenjang Ire. Gadis itu kembali melenguh pelan, tubuhnya menggeliat pelan saat bibir hangat pria itu bergerak turun kebawah.
Bukan hanya Alvaro, Iren juga sedang mabuk kepayang oleh pesona pria ini. Tubuh kekarnya yang berkeringat, juga sentuhan liar jari jemari kokohnya membuat jiwa Iren seperti melayang di udara.
Atmosfer di ruang kamar mendadak berubah panas. Desah dan rintih Iren mampu membuat bulu meremang saat mendengarnya.
Kabut gairah benar benar menyelimuti keduanya, mereka benar benar menumpahkan segudang rindu dalam waktu semalam.
Mata elang Alvaro menatap penuh binar, tubuh polos bermandi keringat di bawahnya. Tubuh itu terlihat terguncang guncang mengikuti irama hentakan Alvaro. Benda tumpul berukuran besar itu menghujam dalam, membuat Iren menggigit bibir bawahnya agar tak berteriak karena nikmat yang mendera liang senggamanya.
Kali ini durasi Alvaro tak main main, dia membuat Iren memohon segera di tuntaskan. Setelah dia sendiri mendapat pelepasannya berulang kali.
"Ahhh..." erang Alvaro, saat seluruh energinya berkumpul di satu titik dan tersembur keluar bersama rasa nikmat yang datang mendera di seluruh saraf sarafnya. Lalu tubuhnya ambruk di atas tubuh polos Iren. Berguling kesamping dengan nafas tersenggal.
Sementara Iren terkulai layu, tubuhnya seperti tak bertenaga. Tulang tulangnya seperti di lolososi dari tubuhnya. Alvaro benar benar menghajar nya tanpa ampun. Nikmat memang, tapi lelahnya jangan di tanya lagi.
Alvaro menarik selimut di sampingnya, membalut tubuhnya juga tubuh Iren.
"Maaf aku membuatmu lelah." ujar pria itu sembari membelai wajah Iren yang basah oleh keringat. Iren yang sedang terpejam membuka matanya, menatap Alvaro di sampingnya. Ada senyum samar menghiasi bibirnya. Sejak kapan pria ini berubah jadi selembut ini. Bahkan meminta maaf karena sudah membuatnya lelah. Padahal dulu dia bukan hanya lelah, tapi juga sakit. Begitu pun lelaki itu bahkan tak pernah meminta maaf.
Iren tak menyahut, dia beringsut mendekat. Lalu menyusupkan tubuhnya di balik dada bidang Alvaro. Pria itu menyambut tubuh polos itu dengan pelukan hangat.
__ADS_1
"Iren." panggilnya pelan.
"Hmmm."
"Bagaimana dengan rencana ibu yang ingin kita menikah bulan depan?" tanya pria itu, sembari membelai rambut hitam Iren.
"Masih aku pertimbangkan."
"Masih kau pertimbangkan?"
"Hmmm."
"Apa yang sedang kau pertimbangkan, kita sudah setuju untuk menikah bukan? Lalu apa bedanya besok atau lusa? Kita akan menikah juga kan? Lalu kenapa harus mengulur waktu dengan pertimbangan pertimbangan yang tidak perlu." gerutu Alvaro, sembari menatap wajah Iren yang bersembunyi di balik tubuh kekarnya.
"Dasar gak romantis," kini giliran Iren yang menggerutu.
"Kau kan sudah tau itu, lalu kenapa masih mengungkitnya."
"Walau begitu, apa kakak tidak punya pernikahan impian dengan ku?" tanya Iren, dengan suara hampir tenggelam.
Alvaro tak menyahut, dia menatap wajah Iren yang masih bersembunyi di balik tubuh kekarnya. Dalam hitungan detik, gadis itu sudah terbang ke alam mimpi. Melihat itu Alvaro tersenyum simpul.
"Bisa bisanya kau tidur di saat kita membahas pernikahan." bisik Alvaro tepat di telinga Iren. Gadis itu menggerang halus saat bibirnya menempel di telinga Iren.
"Dalam keadaan tidur kau masih saja sensitif." bisiknya sembari membelai puncak kepala Iren.
"Tidurlah barang sejenak, sebab malam ini masih sangat panjang." bisiknya lagi. Lalu ikut memejamkan mata sembari memeluk tubuh Iren dengan hangat.
__ADS_1
Bersambung