Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat
Part 31


__ADS_3

Iren menatap pantulan wajahnya di cermin, dia sedikit merias wajahnya. Menutupi bekas lebam di pipinya. Agar tak terlihat oleh orang lain.


Dia terpaksa harus masuk kampus hari ini, ada beberapa materi yang harus dia lengkapi juga perlu di diskusikan kembali sebelum sidang skripsi minggu depan.


Iren tersenyum puas saat melihat hasil make up-nya. Bekas lebam di pipinya hilang.


Iren menyaut tas ransel di atas meja lalu keluar dari kamarnya. Saat melewati ruang tengah dia berpapasan dengan Sita, pelayan yang di bawa Alvaro kemarin.


"Nona mau kemana?"


"Kekampus mbak."


"Nona pulang jam berapa? Biar saya tau menyiapkan makan siang untuk nona."


"Kayaknya saya gak makan di rumah mbak. Jadi gak usah siapin makan siang buat saya. Siapin aja buat mbak. Ya udah, saya pergi dulu mbak."


"Baik non." sahut Sita. Gadis muda itu menatap punggung Iren dengan tatapan sinis. Kemudian berlalu ke kamarnya.


Iren berangkat kekampus menggunakan taksi, Dia terpaksa berjalan kaki dari apartemen ke halte. Untuk menunggu taksi. Sebab mobilnya kemarin tidak sekalian dibawa oleh Alvaro. Lagi pula belum tentu keluarga Alvaro mengizinkannya membawa mobil itu untuk dia pakai.


Kalau memang Tery benar benar mengadu ke mama, sudah pasti keluarga Alvaro saat ini marah besar padanya.


Dia sendiri tidak tau pasti kabar beritanya. Sebab Alvaro tak mengijinkan dia menggunakan ponsel untuk sementara.


Satu jam kemudian Iren sudah sampai di depan kampus. Kedatangannya langsung di sambut oleh Hilda. Gadis itu penasaran, kenapa Iren ambil izin sampai tiga hari. Dan menolak saat mereka hendak menjenguk.


"Udah kelar tapa-nya?" sindir Hilda. Yang di sambut gelak tawa oleh Sonya.


"Udah, aku malah dapet wangsit. Katanya kamu di suruh putus sama Hery." sahut Iren.


"Apa?! Ih amit-amit." ujar Hilda bergidik.


"Udah nyarap?" imbuh Hilda. Irene menggeleng, entah mengapa dia tak berselera menatap hidangan yang di siapkan Sita. Dia merasa ada yang tak beres dengan pelayannya itu. Apa lagi saat dia menatap Alvaro, Iren merasa Sita menyukai kakak angkatnya itu.


"Sama aku juga belom. Kantin yok." ajak Hilda. Iren dan Sonya mengangguk setuju.


Iren memilih duduk di gazebo kantin. Dia butuh suasana tenang. Pikirannya sudah sumpek dengan seambrek masalah.


"Ren, nomor mu gak aktif?" tanya Sonya.

__ADS_1


"Enggak, kenapa?"


"Pantes, pesan dari pagi gak terkirim." sahut Sonya, sembari memperlihatkan pesannya yang centang satu.


"Kenapa hp lo ga aktif. Lagi ngindarin seseorang?" tebak Hilda. Iren cuma nyengir.


"Eh bukannya itu Rey?" celetuk Sonya, sembari mengarahkan dagunya ke sisi kiri tubuhnya.


Iren dan Hilda serempak menatap ke arah Rey. Pria itu berjalan ke arah mereka.


Iren cepat membuang pandangannya ke arah lain. Luka luka di wajah Rey membuat perasaannya tak menentu. Dia tak mungkin bisa tenang, saat tau luka Rey dia lah penyebabnya.


"Hay," sapa Rey, pada Iren. Saat pria itu sudah di depan Iren. Lalu menempatkan tubuhnya duduk di depan Iren.


"Hay, sudah sembuh Rey?" tanya Iren gugup. Netranya memindai wajah Rey yang penuh luka. Di pelipis dan pipi bahkan lukanya masih terlihat basah.


"Maaf aku belum sempat menjenguk mu." Ucap Iren sembari menunduk.


Rey tersenyum. "Tidak apa, sebagai gantinya. beri aku waktumu tiga puluh menit saja untuk bicara empat mata. Bagaimana?"


"Cieee.." Goda Hilda dan Sonya.


Iren benar benar mengabulkan permintaan Rey. Untuk bicara empat mata. Bagaimanapun Iren memang harus bicara pada pria itu, setelah apa yang Alvaro lakukan padanya.


"Kau baik baik saja?" tanya Rey, saat ini mereka sedang berada di taman belakang kampus.


Irene tersenyum. "Harusnya aku yang tanya itu." sungut Iren. Pertanyaan Rey, terdengar seperti sindiran di telinganya.


"Aku serius bertanya keadaanmu. Mengingat siapa yang berada di dekat mu sekarang." ucap Rey. Bayangan kebuasan sikap Alvaro malam itu berkecamuk dalam ingatannya.


"Aku baik-baik aja Rey. Kamu jangan berpikir macem macem mulai sekarang. Apa lagi sampai bertindak macem macem." ujar Iren, memperingati pria itu.


"Kamu yakin baik baik aja. Kamu tau dia orang seperti apa? Dia berbahaya Iren. Jauhi dia, aku mohon." ucap Rey lagi. Sorot matanya benar benar memperlihatkan kekhawatiran. sikap ini malah membuat Iren takut, dia akan terlibat masalah lagi karenanya.


"Rey, berhenti ikut campur masalah pribadiku. Tidak semua yang kau lihat sama dengan apa yang kau pikirkan. Aku yang menjalani, jadi hanya aku yang tau, baik buruknya. Bukan orang lain. Maaf Rey, kalau kemarin aku memberimu harapan. Saat itu aku belum menyadari perasaanku terhadap kakak, tapi sekarang aku benar benar menyadari kalau aku sangat menyukai pria itu " Dia tidak bohong tentang perasaannya pada Rey, tapi dia juga menyukai Alvaro. Itu yang membuat Irene merasa bersalah pada Rey.


Dia terlalu plin plan dan tak memiliki pendirian. Dia juga membenci sifat ini. Tapi hatinya di luar kendalinya.


Rey tertawa sinis. "Iren, kau sedang menipu siapa? Aku mengenalmu dengan sangat baik. Aku tau betul perasaan mu padaku. Jangan membohongiku dengan omong kosong seperti itu."

__ADS_1


Iren menarik nafas berat. "Tiga puluh menitmu sudah berlalu Rey. Pembicaraan kita cukup sampai disini. Ini terakhir kali kau mencampuri urusan pribadi ku. Dan aku tidak bohong tentang aku menyukai Alvaro." ucap Iren sembari menatap lekat manik hitam Rey.


Lelaki itu tercekat, saat sorot mata Iren membenarkan ucapannya. Kalau pun benar, Alvaro bukanlah pria yang baik untuk Iren.


"Aku pergi dulu, cepat sembuh ya." ucap gadis itu sembari beranjak pergi.


Rey tak menyahut, dia hanya diam terpaku menatapi kepergian Iren. Dia tak mungkin melepas Iren dengan mudah. Entah mengapa setelah melihat sendiri kemesraan Iren dan Alvaro. Dia malah semakin terobsesi pada gadis itu.


Keinginan untuk mempertahankan dia di sisinya malah semakin besar. Tak perduli dengan Alvaro, dia bertekat akan melawan pria itu demi Iren.


Sementara di tempat lain. Alvaro sedang menerima panggilan telpon dari mamanya.


"Ada masalah apa mama telpon?"


"Memangnya harus ada masalah dulu baru mama boleh nelpon kamu?"


"Bukan begitu, tidak biasanya kan mama hubungi aku secepat ini. Biasanya sebulan sekali belum tentu."


"Ck, itu karena kau yang sulit di hubungi."


"Begitu ya."


"Tentu saja." sungut mama.


"Alvaro, bagaimana kabar Iren? Mama nelpon dia kok gak bisa?"


"Dia baik baik aja ma, mama mau ngomong apa nanti aku sampaikan."


Terdengar mama menghela nafas kasar. "Gak usah, biar mama bicara dengan dia saja langsung. Kamunya kaku gitu, nanti jadi salah paham."


"Memangnya ada hal serius?"


"Iya, suruh dia hubungi mama ya."


"Hhhm, baiklah ma. Ma, udah dulu ya aku mau meeting dengan klien."


"Ohh ya sudah. Jangan lupa bilangin ke Iren suruh dia hubungi mama."


"Hmmm." sahut Alvaro lalu memutus panggilan telpon. Lalu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2